Learning Loss akibat Pandemi, Kemdikbud Terapkan Kurikulum Prototipe Berjenjang

27 Januari 2022 19:05 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anak sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka (PTM). Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka (PTM). Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Dua tahun pandemi berdampak pada kualitas pembelajaran sekolah. Dari data yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemdikbud) terjadi kehilangan pembelajaran (loss learning) yang setara dengan 6 bulan belajar. Data tersebut diambil dari sekolah-sekolah di 4 Provinsi di 7 Kabupaten/Kota pilihan Kemdikbud.
ADVERTISEMENT
Hal itu mendorong Kemdikbud mengeluarkan kurikulum baru yang lebih mementingkan kebutuhan pelajar terutama di tengah pandemi. Kurikulum tersebut akan ditetapkan secara berjenjang dan serentak se-nasional pada 2024.
Menurut Kepala Balitbang Kemdikbud Anindito Aditomo, kurikulum baru sudah disusun sejak 2019. Namun dengan adanya pandemi, maka diberlakukan kurikulum darurat yang kebijakannya sudah banyak diambil dari rencana kurikulum baru yang disusun.
Kurikulum baru yang disebut prototipe tersebut kemudian dikembangkan lagi dan telah diberlakukan di 2.500 sekolah dan 900 SMK sejak 2021.
Anindito mengatakan, kurikulum prototipe memiliki karakteristik di antaranya, pembelajaran berbasis projek, fokus kepada materi esensial dan fleksibilitas guru mengajar kepada murid sesuai kemampuannya.
"Kurikulum prototipe mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar," tuturnya pada konferensi pers virtual, Kamis (27/1).
ADVERTISEMENT
Kurikulum yang fleksibel, imbuhnya, dibutuhkan di tengah pandemi saat ini. Anak didik dibentuk karakter yang sesuai dengan pengalaman nyata, lalu pengembangan keterampilan juga disesuaikan dengan pekerjaan yang dibutuhkan pada industri saat ini.
"Penerapan operasional kita serahkan ke tingkat sekolah. Terpenting, anak melihat konsep yang dipelajari dengan konteksnya. Anak-anak melihat relevansi problem di sekitar mereka. Agar konsep dan materi tidak berhenti sebagai konsep yang abstrak dan berguna sehari-hari," tuturnya.
Sementara itu, pengembangan kurikulum yang berlaku di SMK juga akan lebih disesuaikan dengan minat siswa dan fleksibilitas guru. Pada semester awal, siswa tidak langsung diminta mengerjakan materi hardskills.
Pada kurikulum prototipe, siswa SMK akan dilatih mengembangkan softskills, kreativitas dan leadership atau kepemimpinan di semester awal.
ADVERTISEMENT
Pada semua jenjang sekolah, akan diberlakukan pembelajaran berbasis projek (project based learning). Dalam struktur kurikulum prototipe, pembelajaran berbasis projek menggunakan 20 sampai 30 persen jam pelajaran. Mulai dari PAUD, SD/MTs, SMP, SMA/SMK, hingga SLB.
"Hal itu ditujukan untuk mengembangkan karakter Profil Pelajar Pancasila," tuturnya.