Lebih Dalam soal Vaksin RNA seperti Pfizer dan Moderna yang Segera Dipakai di RI

Saat virus SARS-CoV-2 ditetapkan sebagai ancaman pandemi awal 2020, para peneliti vaksin melihat peluang baru. Di antaranya melakukan uji coba vaksin RNA yang telah dikenal selama bertahun-tahun karena kecepatan dan fleksibilitas potensialnya dalam epidemi, sebagai vaksin COVID-19.
Vaksin ini pun menjadi salah satu inokulasi COVID-19 pertama yang dilakukan uji coba ke manusia.
Akhir tahun lalu, vaksin dari Moderna Inc. dan kemitraan Pfizer dan BioNTech SE menjadi vaksin corona berbasis RNA yang pertama terbukti efektif. Namun karena teknologinya sangat baru, vaksin ini sangat berpotensi terdampak kampanye disinformasi yang bertujuan untuk mencegah orang mengambil menerima vaksin tersebut.
Sementara itu, Indonesia pun tengah menggagas vaksin Merah Putih, yang salah satunya menggunakan platform mRNA. Penelitian dengan platform ini dilakukan oleh Universitas Indonesia.
Vaksin Moderna dan Pfizer menjadi 2 vaksin yang dalam waktu dekat akan dipakai di Indonesia. Pfizer untuk program pemerintah dijadwalkan tiba di bulan Mei, sementara Moderna yang digunakan program vaksinasi gotong royong datang akhir April.
Tetapi, sebagian masyarakat awam masih tidak mengetahui bagaimana cara kerja vaksin dengan platform mRNA bahkan takut terhadap vaksin tersebut. Oleh sebab itu dikutip dari Bloomberg, ini yang perlu kita ketahui dari vaksin mRNA:
Bagaimana cara kerjanya?
Cara kerja vaksin mRNA berbeda dari vaksin generasi sebelumnya atau yang biasa menggunakan inactivated virus. Alih-alih mengenalkan tubuh ke versi virus atau bagiannya yang tidak aktif atau dilemahkan, vaksin ini justru mengubah sel-sel tubuh menjadi pabrik kecil pembuat vaksin untuk sementara.
Hal ini dilakukan menggunakan versi sintesis dari sesuatu yang disebut messenger RNA (mRNA), yakni molekul yang biasanya membawa kode genetik dari DNA sel ke sistem pembuat proteinnya.
Dalam hal ini, mRNA memerintahkan tubuh untuk membuat spike protein yang digunakan Sars-CoV-2 untuk memasuki sel. Ini, secara bergiliran, merangsang tubuh untuk membuat antibodi yang tahan lama terhadap virus.
Vaksin mRNA lebih cepat dikembangkan daripada vaksin tradisional karena produksinya tidak memerlukan virus atau protein virus yang tumbuh di dalam sel hidup. Selain itu, sifat modular mRNA membuat perancangan vaksin baru relatif mudah.
Para peneliti hanya membutuhkan beberapa hari pada Januari 2020 untuk menghasilkan sekuens mRNA yang digunakan dalam vaksin corona Moderna.
Bagaimana kemanjurannya?
Menurut data yang diajukan perusahaan produsen ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, vaksin Moderna terbukti 94 persen efektif dalam mencegah gejala kasus COVID-19 dalam uji coba fase 3 yang melibatkan lebih dari 30.000 peserta. Tidak ada kasus penyakit parah pada orang yang mendapat vaksin dibandingkan 30 orang pada kelompok plasebo.
Sementaara itu, vaksin Pfizer 95 persen efektif dalam mencegah COVID-19 dalam uji coba fase 3 yang melibatkan lebih dari 43.000 peserta. Ini menurut hasil yang diterbitkan di New England Journal of Medicine setelah proses peer-review, yakni penelitian yang diteliti oleh rekan sejawat.
Meski ada lebih sedikit kasus parah dalam uji coba itu, data yang terbatas konsisten dengan perlindungan terhadap penyakit parah.
Hasil pada pemakaian Pfizer di dunia secara nyata pun sejauh ini terlihat bagus walaupun baru saja mulai berjalan. Data dari organisasi keperawatan kesehatan terbesar Israel menemukan bahwa setelah dua dosis, suntikan Pfizer 94 persen efektif melawan gejala corona dan mencegah 87 persen rawat inap akibat corona. Data ini pun menurut hasil yang dipublikasikan oleh rekan sejawat.
Bagaimana keamanannya?
Kedua vaksin tersebut dapat menimbulkan reaksi efek samping yang kuat, terutama setelah suntikan kedua. Termasuk sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta demam. Misalnya setelah dosis kedua suntikan dalam uji coba Moderna, kebanyakan orang yang berusia di bawah 65 tahun mengalami kelelahan dan nyeri otot, sekitar setengahnya menggigil, dan 1 dari 6 orang mengalami demam.
Sementara itu, efek samping vaksin ini lebih jarang terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, baik Pfizer maupun Moderna.
Meski begitu, setelah vaksin diizinkan untuk digunakan para pihak yang bersangkutan mulai memperhatikan ada kasus langka terkait reaksi alergi parah dalam penggunaan vaksin mRNA. Satu teorinya, ini karena nanopartikel lipid yang melapisi vaksin, membantu membawa kandungan vaksin ke dalam tubuh.
Namun menurut data hingga 18 Januari dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS peristiwa ini jarang terjadi. Hanya sekitar 2 hingga 5 kasus per juta suntikan yang diberikan.
Kasus ini umumnya dapat diobati dengan adrenalin, juga dikenal sebagai epinefrin, meski ada juga sebagian kecil kasus yang membutuhkan intubasi.
Di sisi lain, sebuah studi data hingga 18 Februari dari Rumah Sakit Umum Massachusetts menunjukkan tingkat reaksi alergi parah yang lebih tinggi, yakni sekitar 2,5 kasus per 10.000 suntikan. Tetapi masih disimpulkan bahwa risiko keseluruhan 'tetap sangat rendah'.
Sementara itu, studi terpisah dari Mass General menunjukkan bahwa beberapa orang mengalami penundaan ruam setelah mendapatkan vaksin Moderna. Sebagian memang mengalami ruam yang cukup parah, tetapi peneliti meyakinkan ruam ini tidak berbahaya.
Siapa yang menyebarkan disinformasi tentang vaksin?
Banyak aktivis antivaksin tradisional mulai bergabung dengan tokoh-tokoh di alt-right, sebuah gerakan politik online berbasis AS yang anggotanya mendukung keyakinan ekstremis. Keyakinan atau kepercayaan ini biasanya berpusat pada gagasan nasionalisme kulit putih.
Kaum konservatif terkenal termasuk Tucker Carlson yang dikenal sebagai tokoh Fox News, terang-terangan mengajukan keraguan soal vaksin corona secara umum.
Sedangkan menurut Departemen Luar Negeri AS, sejumlah platform online yang berkaitan dengan intelijen Rusia telah menyebarkan disinformasi tentang vaksin mRNA. Sebab sebagaimana diketahui, Moderna dan Pfizer adalah perusahaan yang berbasis di AS.
Adapun sebuah survei Kaiser Family Foundation menemukan bahwa penolak vaksin sangat bergantung pada Facebook untuk informasi mereka, sedangkan orang yang menginginkan vaksin lebih cenderung membaca surat kabar atau menonton berita di TV.
Apa saja disinformasinya?
Ada sejumlah disinformasi atau kampanye penolakan dari kelompok-kelompok yang meragukan vaksinasi tersebut. Ini di antaranya yang paling sering diungkapkan:
1. Banyak langkah yang dilewati dalam pengembangan dan perizinan vaksin.
Memang benar vaksin mencapai pasar dalam waktu singkat, tetapi itu bukan karena ada langkah pengujian yang dilewati. Perusahaan mempercepat proses dengan melakukan beberapa langkah pengujian secara paralel. Dalam kasus vaksin Moderna, pemerintah AS yang mengambil risiko finansial dengan membayar persiapan produksi meski hasilnya belum terlihat.
2. Vaksin tersebut tidak pernah disetujui oleh FDA.
Ini betul, namun dalam arti bahwa sejauh ini badan tersebut hanya memberikan otorisasi penggunaan darurat atau EUA. Tetapi EUA dalah mekanisme yang sudah ada sebelumnya, yang memang dibuat untuk mempercepat akses ke tindakan penanggulangan medis jika terjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat seperti pandemi COVID-19.
FDA menetapkan sebelumnya bahwa untuk mendapatkan otorisasi, vaksin COVID-19 harus terbukti setidaknya 50 persen efektif dalam mencegah penyakit dalam uji coba skala besar, serta harus menunjukkan keamanan dengan data tindak lanjut dua bulan pada peserta uji coba. Vaksin pun diperiksa oleh panel penasihat independen. Baik Moderna dan Pfizer mengatakan, mereka berencana untuk mengajukan persetujuan rutin untuk vaksin tahun ini.
3. Kritikus telah melabeli vaksin mRNA sebagai bentuk terapi gen dan menyindir bahwa suntikan itu mungkin mengubah DNA seseorang
Ternyata tidak. Walaupun messenger RNA yang mereka gunakan adalah jenis materi genetik, vaksin berbeda dari apa yang biasanya dianggap sebagai terapi gen, jadi mereka tidak mengubah DNA di dalam sel.
“Mereka tidak memengaruhi atau berinteraksi dengan DNA kita dengan cara apa pun,” ungkap Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).
Faktanya, molekul mRNA dalam vaksin yang berumur pendek, tidak memasuki inti sel tempat DNA berada.
4. Nanopartikel lipid dalam vaksin mungkin mengandung antibeku. Itu tidak benar.
Bahan antibeku mengandung etilen glikol yang beracun. Nanopartikel lipid malah memasukkan polietilen glikol, senyawa lembam yang ditemukan dalam produk sehari-hari seperti pasta gigi dan sampo dan dalam banyak obat, termasuk obat pencahar.
5. Vaksin dapat menyebabkan peningkatan ketergantungan antibodi, atau kasus penyakit yang lebih buruk pada mereka yang menjadi sakit meskipun telah diinokulasi.
Ini adalah kekhawatiran teoritis saat pengujian vaksin COVID dimulai. Ada potensi masalah ini pada penelitian hewan terhadap beberapa vaksin untuk sindrom pernafasan akut parah (SARS), yang disebabkan oleh virus corona terkait SARS-CoV-2.
Namun, tidak ada potensi seperti ini yang muncul dalam uji coba vaksin mRNA untuk COVID pada manusia. Ini dikatakan oleh Stanley Perlman, peneliti virus corona di University of Iowa yang sekaligus bertugas di panel penasihat FDA yang meninjau vaksin.
6. Kita tidak mengetahui efek jangka panjang dari vaksin
Itu selalu terjadi pada vaksin baru. Tetapi efek samping vaksin biasanya muncul dalam beberapa bulan pertama setelah vaksinasi. Ini sebabnya FDA bersikeras ada dua bulan data keamanan sebelum mengeluarkan izin darurat vaksin mRNA. Kata CDC, laporan kejadian buruk sejak saat itu belum mendeteksi pola kematian yang mengindikasikan ada masalah dengan vaksin.
7. Ada lebih banyak laporan kejadian buruk untuk vaksin Covid daripada yang ada pada vaksin influenza
Kata profesor kedokteran di Harvard Medical School, Aaron Kesselheim, Itu bukan perbandingan yang tepat atau bermakna. Jumlah laporan ini cenderung melonjak ketika pengobatan atau vaksin menjadi berita, dan tidak ada yang lebih menjadi berita utama daripada vaksin COVID.
Di AS, laporan tersebut dapat diajukan oleh siapa saja dan bukan merupakan konfirmasi bahwa suatu vaksin menyebabkan peristiwa yang merugikan. Mengingat banyaknya jumlah yang diinokulasi, beberapa orang yang tidak beruntung akan jatuh sakit dan bahkan meninggal segera setelah disuntik, terlepas dari vaksinnya.
------
"Punya pertanyaan seputar vaksin? Cek Vaksinesia.com"
