Lihatlah Fakta Ini, Betapa Corona India Perparah Situasi Pandemi di Indonesia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi virus Corona. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi virus Corona. Foto: Shutter Stock

Setelah libur Lebaran pertengahan Mei, Indonesia masih mengalami lonjakan kasus corona yang cukup fantastis. Yang mengkhawatirkan, lonjakan ini faktanya juga besar dipengaruhi oleh salah satu Variant of Concern (VOC) dari WHO, yakni varian corona B1617.2 atau varian India (Delta) masuk ke RI pada awal Mei lalu.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkap varian Delta sudah mendominasi. Tiga wilayah yang paling diwaspadai yakni DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan.

"Untuk DKI Jakarta, Kudus, Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta atau B1617.2 atau varian India mendominasi. Karena ini penularan lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan," kata Budi dalam jumpa pers virtual, Senin (14/6).

Lantas, bagaimana varian India bisa merajalela di RI saat ini? Berikut perkembangannya yang dirangkum kumparan, Selasa (15/6):

Ditemukan di Jakarta, Kini Mendominasi

Sejumlah komunitas motor pengawal ambulans bersiap meninggalkan Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet usai mengawal ambulans di Kemayoran, Jakarta, Senin (14/6/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Pada 4 Mei 2021, Kemenkes melaporkan ada 2 kasus varian Delta yang teridentifikasi di Jakarta. Yakni pada seorang WNI dan WN India.

Menyusul kabar tersebut, 8 tambahan kasus ditemukan beberapa hari kemudian. Selain Jakarta, kasus ditemukan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.

Tak heran, varian ini memang dikenal cukup ganas kecepatan penularannya. Riset di Inggris menunjukkan bahwa varian India ini terbukti meningkatkan risiko perawatan. Apabila seseorang terpapar varian ini, kemungkinan ia dirawat di rumah sakit sampai 2,61 kali lipat.

Hingga 13 Juni 2021, sebanyak 145 kasus yang terdiri dari varian Alpha (B117), varian Beta (B1351), dan varian Delta (B16172) telah dilaporkan ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Data tersebut turut diunggah oleh Ahli Wabah UI, Pandu Riono, melalui Twitter pada Senin (14/6).

X post embed

Ia menekankan, pemerintah harus bergerak cepat mengantisipasi penyebaran varian baru tersebut.

"Kita harus cemas, melihat kenyataan varian virus sudah ngumpul di Indonesia. Varian Delta & Alpha sudah mendominasi. Harus ada keberanian melakukan karantina di wilayah yang sedang meningkat kasusnya. Lakukan Tes-Lacak-Isolasi yang ketat, VAKSINASI cepat pada yang paling rawan. @jokowi," tulisnya.

Dari 145 kasus tersebut, varian Delta atau yang pertama kali ditemukan di India ini angkanya cukup mendominasi dibandingkan dengan varian lain.

Tercatat sebanyak total 104 kasus varian Delta ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Tengah (Jateng), Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Varian India Picu Lonjakan di Kudus

Sejumlah pasien COVID-19 naik ke bus sekolah saat akan dipindahkan dari Kudus di Jawa Tengah, Senin (7/6/2021). Foto: Yusuf Nugroho/Antara Foto

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan mulanya 28 kasus varian corona India ditemukan di Kabupaten Kudus. Temuan ini berdasarkan uji Genome Sequencing pada sampel pasien COVID-19 di Kudus yang dilakukan di Universitas Gajah Mada (UGM).

Tak lama kemudian, Ganjar menyebut kasus bertambah menjadi 62 pasien yang terinfeksi varian corona India.

"Dari 72 sampel yang telah diuji, hasilnya ditemukan 62 sampel atau 86,11 persen pasien COVID-19 dari Kudus terdeteksi Strain India (Delta) B16172," ungkap Ganjar melalui foto yang ia kirimkan lewat pesan singkat, Minggu (13/6).

Petugas dengan mengenakan APD mendampingi salah seorang peserta isolasi terpusat yang akan diberangkatkan ke Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jateng. Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif/ANTARA

Menurut data Kemenkes yang diunggah Pandu, memang terdapat 76 varian Delta yang ditemukan di Jawa Tengah, termasuk Kudus. Itu berarti varian ini turut menjadi pemicu lonjakan kasus yang begitu signifikan di Kudus dalam beberapa waktu terakhir.

Dinkes Ungkap Ganasnya Corona India di Kudus, Picu Kematian Pasien Tanpa Gejala

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengakui kalau keganasan varian corona India atau B.1716.2 memang sangat mempengaruhi lonjakan kasus di Kabupaten Kudus.

Seperti yang terjadi pada 2 pasien COVID-19 asal Kudus yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri di Asrama Haji Donohudan Boyolali.

Suasana di Asrama Haji Donohudan (AHD), Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Foto: Dok. Ismail

"Ada 529 yang dikarantina di sana (Donohudan, Boyolali). Ada dua yang meninggal. Jadi sisa 527 orang," ujar Plh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Mas'ut, kepada wartawan, Jumat (11/5).

Yulianto memaparkan selain memiliki tingkat penularan yang tinggi, corona varian India itu menyebabkan kematian bahkan bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Sebab dua pasien tersebut wafat akibat COVID-19 meski OTG.

"Iya jadi progresivitas klinisnya itu cepat sekali, waktu dievakuasi dari Kudus itu masih tanpa gejala. Tapi karena memang itu ciri khasnya varian baru jadi progresif sekali," ujar Yulianto.

Pemakaman jenazah pasien corona di TPU Desa Bakalankrapyak, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (27/5/2021). Foto: Yusuf Nugroho/Antara Foto

Tak hanya rentan terhadap lansia, corona India itu juga memiliki tingkat kerentanan atau fatalitas yang tinggi jika menjangkiti anak muda.

"Lalu ada juga kelompok yang tadinya tidak rentan seperti anak muda, atau tidak fatal ternyata banyak yang meninggal, banyak yang (gejalanya) berat," jelas Yulianto.

"Varian ini tingkat penularannya semakin cepat dan fatalitasnya juga tinggi," imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo. Foto: kumparan

Untuk itu, ia meminta agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan dengan baik. Bahkan apabila sudah menerima vaksin sekalipun.

"Masyarakat saya minta mematuhi protokol kesehatan dengan sangat disiplin. Jadi memakai masker harus sangat baik, tidak boleh tidak. Lalu cuci tangan, jaga jarak, dan mobilitas harus ditekan. Di rumah saja untuk meminimalisasi mobilitas," kata Yulianto.

Kematian Corona di Daerah Sekitar Kudus Tinggi Usai Varian India Ditemukan

Penemuan varian Delta di Kudus ternyata berimbas ke daerah tetangganya. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan selain di Kudus, terjadi peningkatan kasus kematian COVID-19 di Jepara, Rembang, Grobogan, dan Pati, pada Minggu (13/6).

Ia juga mengkonfirmasi telah ditemukan varian Delta (B16172) asal India di daerah-daerah tersebut. Varian Delta punya kecepatan penyebaran yang sangat cepat.

Menkes Budi Gunadi Sadikin (mengangkat tangan) saat memantau penangan COVID-19 di Puskesmas Jati Kudus. Foto: Dok. kumparan

"Kita mulai melihat ada kenaikan yang signifikan di beberapa daerah dan khususnya teman-teman di Jateng ada di Karesidenan Kudus, Jepara, Rembang, Grobogan, Pati, itu ada kenaikan. Dan memang sudah terkonfirmasi itu adalah varian baru," kata Budi dalam seminar online bertajuk 'Perlindungan Hukum dalam Pelayanan Kedokteran yang Berkualitas' yang digelar IDI Jateng, Minggu (13/6).

Tak hanya kasus konfirmasi positif, angka kematian akibat COVID-19 pun melonjak. Dalam situs https://corona.jatengprov.go.id/ yang diperbaharui pada Senin (14/6) pukul 12.00 WIB, kelima daerah yang disebutkan Budi mencatat masing-masing total kasus kematian hingga lebih dari 300 orang.

Suasana di kawasan Makam Sunan Kudus terpantau sepi. Foto: Indra Subagja/kumparan

Kudus masih menjadi daerah dengan angka kasus tertinggi, yaitu 10.764 orang dan 886 kasus meninggal dunia. Kemudian disusul Jepara dengan kasus sebanyak 6.839 orang dan 366 kasus kematian.

Di Pati, sebanyak 3.895 kasus terkonfirmasi dengan 578 kasus kematian. Sementara di Rembang tercatat 2.953 kasus positif dengan 339 kematian dan di Grobogan tercatat 2.935 kasus dengan 266 kematian.

embed from external kumparan

Data masing-masing daerah bahkan menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi. Apabila data di atas dicocokkan dengan data yang diunggah masing-masing daerah, terdapat selisih angka yang cukup signifikan.

Di Jepara, misalnya, situs https://corona.jepara.go.id/ per Minggu (13/6) pukul 22:23 WIB mencatat total kasus konfirmasi sebanyak 10.150 kasus dengan 548 kasus kematian. Selisih antara data milik Jepara dengan Jateng mencapai 3.311 kasus positif, lebih tinggi data pemkab dibanding pemprov.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sidak ke RSUD Kartini Jepara. Foto: Dok. Istimewa

Sementara menurut https://covid19.rembangkab.go.id/ per 13 Juni 2021 pukul 16.00 WIB, sebanyak 4.345 orang terkonfirmasi COVID-19 dengan angka kematian mencapai 351 orang. Selisih antara data milik Rembang dengan Jateng mencapai 1.392 kasus positif.

Begitu juga ada perbedaan data pada situs https://covid19.patikab.go.id/v3/. Per 14 Juni 2021, dilaporkan 6.100 kasus terkonfirmasi dan meninggal 480 kasus. Selisih antara data milik Pemkab Pati dengan Pemprov Jateng mencapai 2.205 kasus positif.

Untuk Grobogan, tidak ditemukan situs yang mengunggah data harian COVID-19. Namun berdasarkan infografis yang diunggah Diskominfo Grobogan dalam situs https://diskominfo.grobogan.go.id/ per 13 Juni 2021 pukul 13:00 WIB, terdapat 4.130 kasus terkonfirmasi dengan 348 kasus kematian. Selisih antara data milik Grobogan dengan Jateng mencapai 1.195 kasus positif.

Dari kelima daerah tersebut, hanya Kudus yang melaporkan data dengan angka tak jauh berbeda. Per 13 Juni 2021, https://corona.kuduskab.go.id/ melaporkan total 10.608 kasus terkonfirmasi dengan kematian 866 kasus.

embed from external kumparan

Asal Varian Corona India di Kudus: dari TKI dan Pelabuhan Laut

Budi mengatakan penularan varian corona India itu berasal dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja Indonesia (TKI) dan aktivitas di pelabuhan.

"Memang sudah terkonfirmasi itu adalah varian baru, yang kita amati masuknya banyak dari PMI, juga ada banyaknya melalui pelabuhan laut karena pelabuhan udara biasanya bisa dijaga dengan baik," ujar Budi.

TKI turun dari Kapal untuk melalui pengecekan dokumen kesehatan sebelum meninggalkan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan

Ia mengakui aktivitas di pelabuhan kurang terpantau dengan baik selama ini. Hal itu tentu membuat lalu lalang manusia dan barang bergerak dengan bebas.

"Tapi pelabuhan laut karena banyak di Indonesia, angkut barang dan banyak dari India, sehingga masuk dari sana. Sudah kami teliti, hasilnya keluar sekitar 2 hari yang lalu memang di area Kudus adalah varian baru," jelas Budi.

Infografik Bahaya Varian Corona India. Foto: Tim Kreatif kumparan

Kendati selain varian baru, lonjakan kasus COVID-19 di Kudus dan beberapa daerah lainnya juga disebabkan karena banyak masyarakat merasa kebal usai menerima vaksin.

"Penyebabnya karena memang kemarin pada saat liburan rakyat kita sebagian besar sudah euforia, mulai vaksinasi," ungkap Budi.

"Lalu masuknya strain baru yang penularannya cepat sekali, sehingga kita mulai melihat ada kenaikan yang signifikan di beberapa daerah. Khususnya teman-teman di Jateng ada di Kudus, Jepara, Rembang, Grobogan, Pati, itu ada kenaikan," imbuhnya.

Dua orang tenaga kesehatan berada di ruang isolasi Rajawali yang merawat ABK Kapal Hilma Bulker asal Filipina yang terpapar COVID-19 varian India di RSUD Cilacap, Jateng, Jumat (28/5/2021). Foto: Idhad Zakaria/ANTARA FOTO

Memang ada bukti nyata bahwa varian India datang dari pelabuhan di Jateng, dan bisa saja ikut menjadi penyebab tingginya kasus corona di Kudus saat ini.

Pada April lalu, 14 dari 20 Anak Buah Kapal (ABK) WN Filipina yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap, Jawa Tengah, positif terpapar corona varian B1617 asal India.

Dari 14 orang yang positif itu, 1 meninggal dunia. Sementara itu ratusan tenaga kesehatan yang memiliki kontak erat dengan ABK tersebut berimbas tertular virus corona.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sidak ke RSUD Kartini Jepara. Foto: Dok. Istimewa

Lonjakan di Bangkalan, Jawa Timur

Selain Jawa Tengah dan Jakarta, varian Delta juga mulai masuk ke Jawa Timur. Sebanyak tiga kasus COVID-19 menyerupai mutasi virus Corona B1617.2 atau varian India ditemukan dari kasus Kabupaten Bangkalan, Madura.

Kesimpulan tersebut diketahui dari 24 whole genome sequencing (pengurutan genom lengkap atau proses menentukan urutan DNA lengkap) yang dilakukan Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair).

Sejumlah warga dari Pulau Madura keluar dari mobilnya saat mengantre masuk ke Surabaya di akses keluar Jembatan Suramadu, Surabaya, Minggu (6/6/2021). Foto: Didik Suhartono/Antara Foto

Rektor Unair Prof Muhammad Nasih menyebut, tiga kasus itu terlihat dari 40 sampel varian yang diambil dari kasus Bangkalan. Tetapi di antaranya agak kurang sempurna, sehingga sempat dibawa ke mana-mana hanya 24 sampel yang bisa dirunning dalam proses penelitian.

"Hasil sempurnanya baru tiga sampel yang hasilnya bisa identifikasikan. Hasilnya tampaknya tidak jauh-jauh dari Kudus. Ciri-cirinya juga kurang lebih sama," ujar Prof Nasih kepada wartawan, Senin (14/6/2021).

Apel gabungan Satgas Penanganan COVID-19 di Bangkalan, Jawa Timur, Sabtu (12/6). Foto: Puspen TNI

Pihaknya masih enggan memperkuat kesimpulan akhir sembari menunggu hasil pendalaman lebih lanjut yang dilakukan ITD Unair. Tetapi, tiga sampel yang berhasil diidentifikasi dengan sempurna itu telah dilaporkan kepada Menteri Kesehatan, Gubernur dan kepala dinas yang terkait.

"24 yang ada itu kita juga sedang proses lebih lanjut. Kita belum bisa menyimpulkan A B C D E karena ada beberapa sampel yang bermasalah dari prosesnya," ungkap Nasih.

Rektor Universitas Airlangga, Mohammad Nasih. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Meski belum pasti, lonjakan kasus corona di Bangkalan baru-baru ini diduga kuat sebagai imbas dari varian India. Prof Nasih menekankan bahwa kasus Bangkalan ini harus direspons secara khusus dan penanganannya harus spesifik, karena menyangkut penyebaran yang sangat kuat dan cepat.

"Kita mendengar bahwa ada peningkatan di Rumah Sakit Khusus Infeksi Universitas Airlangga (RSKI Unair). Sebelumnya hanya 21-an kini sudah 40 sekian bahkan 50 lebih yang ditangani. Ini menandakan bahwa ada peningkatan yang cukup tajam dan penyebaran yang cukup cepat," urainya.

embed from external kumparan

Corona Varian India Juga Teridentifikasi di Bojonegoro

Mengutip Jatimnow, varian India baru-baru ini juga ditemukan dari salah satu pasien yang saat ini tengah dirawat di Bojonegoro. Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Dia menyebut mendapatkan informasi dari Rektor Unair Prof Muhammad Nasih berdasarkan hasil penelitian Institute of Tropical Disease (ITD) Unair.

"Pagi tadi saya dapat info dari Pak Rektor (Rektor Unair Prof Nasih). Dari 24 whole genome sequencing, sudah keluar tiga. Dari tiga ini terkonfirmasi ada mutasi B1617.2, berarti ini India," ungkap Gubernur Khofifah kepada wartawan, Senin (14/6/2021).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat konferensi pers update virus corona di Jawa Timur. Foto: Dok. Istimewa

Menurutnya, ketiga-tiganya sudah dikomunikasikan ke Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak untuk sama-sama melakukan koordinasi.

"Dua dalam posisi dirawat di Surabaya, satu dirawat posisi di Bojonegoro. Sudah langsung dikomunikasikan dengan rumah sakit di Bojonegoro agar mendapatkan perawatan secara efektif," jelas dia.

Per Senin (14/6) ada penambahan kasus positif corona sebanyak 8.189 orang di RI. Dengan adanya penambahan tersebut, jumlah kasus positif corona di Indonesia menjadi 1.919.547 kasus.

embed from external kumparan

Adapun pasien meninggal melonjak tajam hingga 237 orang. Sehingga secara total jumlahnya mencapai 53.116 orang.

Dengan ini, kasus aktif corona di Indonesia terhitung 115.197 orang atau bertambah 1.809 orang dalam 24 jam.

Peningkatan kasus COVID-19 yang meroket di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir ini tentu harus diwaspadai mengingat banyaknya varian Delta sudah ditemukan di Indonesia.