Lincahnya Dansa Para Pengusung Keranda di Ghana

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

embed from external kumparan

Kematian tidak melulu dihadapi dengan duka lara dan air mata. Di Ghana, Afrika Barat, kematian justru diwarnai dengan suka cita, penuh tarian dan musik yang membuat tubuh bergoyang. Bahkan, pengusung jenazahnya juga berdansa sambil membawa keranda.

Para pengusung keranda ini memang sengaja disewa untuk memeriahkan upacara kematian. Mereka berdansa dengan lincah, dipimpin seorang konduktor dan diiringi lagu berirama cepat.

Dalam berbagai video yang diunggah di Youtube, para pengusung keranda di Ghana berdansa dengan koreografi yang telah diatur dengan apik. Mereka tetap bisa berjoget kendati ada peti mati di bahu. Keranda juga tidak jatuh ke tanah.

Beberapa pelayat bahkan ikut turun juga berdansa bersama para pengusung keranda. Praktik ini membuat upacara kematian tidak ubahnya pesta pernikahan, penuh keriangan.

Pengusung dansa di Ghana (Foto: YouTube Travelin Sister)

Praktik ini telah berlangsung bertahun-tahun di Ghana. Seorang wanita yang diwawancara BBC pekan ini mengatakan sengaja mengadakan pesta meriah untuk upacara pemakaman ibunya. Hal ini, kata dia, "untuk memberikan perjalanan yang penuh dansa bagi ibunya dalam menemui Sang Pencipta."

CNN tahun 2014 lalu mengulas praktik ini. Disebutkan bahwa upacara kematian di Ghana adalah hal besar, bukan hanya menguburkan tapi juga merayakan kehidupan jenazah. Selain musik dan tarian, di upacara ini juga disediakan makanan dan minuman. Tidak heran jika biayanya besar, antara Rp 200-250 juta.

Keluarga jenazah juga mengundang banyak orang dalam upacara itu, jika perlu memasang pengumuman di papan iklan pinggir jalan yang biayanya bisa jutaan rupiah. Semakin banyak yang datang, apalagi dari berbagai kampung, berarti jenazah adalah orang yang baik.

"Artinya jenazah dikenal ramah, dermawan, mudah berkawan, dan berkomunikasi baik dengan masyarakat," kata seorang warga Ghana, Jamima, kepada CNN.