Luhut: Varian Delta Membuat Saturasi Cepat Turun, 49 Ribu Bed Isoter Disiapkan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kru KRI dr Soeharso SHS-990 mengisi tabung oksigen di kapal tersebut saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/7/2021). Foto: Aji Styawan/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Kru KRI dr Soeharso SHS-990 mengisi tabung oksigen di kapal tersebut saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/7/2021). Foto: Aji Styawan/Antara Foto

Kehadiran varian Delta COVID-19 di Indonesia membuat penyebaran virus corona begitu cepat. Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan varian itu dapat membuat saturasi oksigen penderitanya turun dengan cepat.

Karenanya ia menyarankan agar pasien terpapar varian Delta melakukan isolasi terpusat (isoter) di shelter yang tersedia. Dengan begitu mereka dapat penanganan yang tepat dari tenaga kesehatan sehingga bisa terhindar dari kematian.

kumparan post embed

"Varian Delta ini sangat cepat membuat penurunan saturasi oksigen. Isolasi terpusat di level desa, kecamatan, kabupaten, kota atau provinsi sangat penting terutama bagi pasien berisiko tinggi atau yang di rumahnya ada ibu hamil, orang tua, komorbid," ujar Luhut dalam pernyataannya melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (2/8) malam.

Pemerintah pusat, kata Luhut, mendorong agar tiap daerah memiliki lokasi isolasi terpusat agar tidak ada lagi yang meninggal saat isolasi mandiri (isoman). Mereka kebanyakan meninggal karena telat mendapat pertolongan.

"Kita juga ingin menghindari orang yang bisa meninggal karena saturasi oksigen sudah turun dan mengalami perburukan kondisi baru dibawa ke RS. Sehingga menimbulkan potensi kematian karena keterlambatan mendapatkan penanganan," kata Luhut.

Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Instagram/@luhut.pandjaitan

Bagi wilayah yang jauh dari pusat kota, Luhut menyarankan menyiapkan alat bantu penanganan pasien COVID-19 di wilayah masing-masing.

"Pemerintah mendorong pembukaan isolasi terpusat dan isolasi terpadu baru di tiap daerah, ini mendorong peran TNI-Polri dan pemda untuk 3T dan penjemputan masyarakat yang isolasi mandiri agar tidak terjadi perburukan. Juga ini dana desa 8 persen untuk pembelian barang-barang deteksi jangan sampai ada yang meninggal lagi saat jalani isolasi mandiri," ucap Luhut.

49 Ribu Bed Isoter

Universitas Gadjah Mada (UGM) mengubah Hotel University Club UGM dan Wisma KAGAMA jadi shelter isolasi pasien corona. Foto: UGM

Setidaknya ada sebanyak 49 ribu tempat tidur yang akan disiapkan pemerintah di seluruh pusat isolasi terpadu yang tersebar di Pulau Jawa dan Bali. Peningkatan tracing yang saat ini terus digenjot pemerintah, diharapkan Luhut juga dapat berjalan dengan baik.

"Fasilitas isolasi terpusat dilengkapi dokter perawat, obat-obatan, oksigen dan konsumsi pasien sudah kami siapkan 49 ribu tempat tidur di Pulau Jawa dan Bali," ungkap Luhut.

Universitas Islam Indonesia (UII) membuka shelter baru karantina untuk pasien corona di rusunawa Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14, Ngaglik, Sleman, Senin (14/6). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Luhut berharap dengan tracing dan testing yang diperbanyak bisa menekan laju penularan virus corona di masyarakat.

"Sehingga kita ingin dengan testing dan tracing ini kita bisa isi sebanyak mungkin sehingga bisa memisahkan orang yang terkena COVID-19 dari keluarga sehingga klaster keluarga bisa kita kurangi," kata Luhut.