News
·
5 Agustus 2020 14:35

Makna Kemarahan Jokowi: Testing Water hingga Cambukan ke Menteri agar Malu

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Makna Kemarahan Jokowi: Testing Water hingga Cambukan ke Menteri agar Malu (28703)
Rapat terbatas perdana Presiden Joko Widodo bersama menteri kabinet Indonesia Maju menggunakan pembatas dari kaca akrilik di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/8). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris
Presiden Jokowi dalam beberapa kali kesempatan menunjukkan kemarahannya pada menteri di kabinet Indonesia Maju. Jokowi pernah melontarkan ancaman reshuffle kabinet. Yang terbaru, Jokowi menyebut kementerian tidak tahu prioritas dan tidak memiliki aura krisis di tengah pandemi corona.
ADVERTISEMENT
Lalu, bagaimana makna kemarahan Jokowi dalam video yang sengaja dirilis tersebut?
Dalam webinar yang digelar Jenggala Center yang bertajuk "Reshuffle Kabinet atau..., Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menilai kemarahan Jokowi itu bisa dimaknai 3 hal.
"Pertama, pilihan moderat yaitu hanya ditujukan untuk menampar menterinya, mencambuk menterinya, dengan sengaja melempar ke publik agar mereka malu," ujar Yunarto dalam webinar, Rabu (5/8).
Makna kedua, langkah Jokowi dengan sengaja mempublikasikan kemarahan tersebut merupakan testing water. Langkah ini untuk menaikkan posisi tawar Jokowi baik untuk para menteri atau parpol pendukungnya.
"Atau ketiga, reshuffle sudah diputuskan, cuma tinggal menunggu waktu yang tepat tapi masih ada kendala," ujar Yunarto.
Namun, Yunarto menilai, jika reshuffle kabinet dilakukan sekarang, kemungkinan ada beberapa kesepakatan politik antara Jokowi dan parpol pendukungnya yang mungkin terganggu.
Makna Kemarahan Jokowi: Testing Water hingga Cambukan ke Menteri agar Malu (28704)
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya. Foto: Muhammad Fadli Rizal/kumparan
"Misalnya Omnibus Law yang bisa saja terganggu. Belum lagi kesempatan-kesempatan kecil seperti pilkada," tutur Yunarto.
ADVERTISEMENT
Menurut Yunarto, dalam melakukan reshuffle, seorang presiden biasanya menggunakan 3 C yaitu capability, coalition, dan chemistry. Jika memang benar nanti ada reshuffle kabinet, maka baik atau buruknya komposisi baru kabinet tergantung Jokowi.
Jika salah langkah, bisa saja Jokowi justru tersandera karena melakukan reshuffle kabinet.
"Kalau kapabilitasnya masih lebih mayoritas, kita bisa harapkan kabinetnya berkualitas dan bisa bekerja meski ada beberapa yang orang partai," jelas dia.
"Kalau faktor koalisi yang dominan maka ini Presiden tersandera. Kalau faktor chemistry yang dominan maka Presiden akan otoriter dan cenderung akan menganakemaskan menteri yang dia suka saja," lanjut Yunarto.