Malam 1 Suro, Seribuan Pendaki Naik Gunung Merapi dari Pos Boyolali

Sebagaian masyarakat Jawa memperingati malam 1 Suro yang jatuh Rabu (20/9) malam dengan naik gunung, termasuk Gunung Merapi. Diperkirakan 1.000 pendaki akan naik gunung Merapi dari pintu Boyolali, untuk menyaksikan ritual Sedekah Gunung.
"Saya perkirakan jumlah pendaki Merapi mencapai sekitar 1.000 orang atau meningkat dibanding malam 1 Suro tahun sebelumnya mencapai sekitar 700 orang," kata Samsuri, petugas jaga retribusi pendakian dari Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dikutip dari Antara.
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia. Gunung ini terletak di sejumlah kota yaitu Sleman (DIY), Magelang, Boyolali, dan Klaten (Jawa Tengah).
Sejak sepekan ini, pendaki ke puncak Gunung Merapi melalui jalur pintu di Desa Lencoh terus meningkat dibanding sebelumnya.
"Jumlah pendaki Gunung Merapi sepekan ini, mencapai 250 orang atau meningkat dibanding pekan sebelumnya hanya 100 orang," kata Samsuri pada Senin (18/9) lalu.
Menurut Samsuri ratusan orang pendaki tersebut datang dari berbagai daerah antara lain, Jakarta, Yogyakarta, dan warga lokal seperti Solo, Semarang, Klaten dan Boyolali.
Nah, jumlah pendaki akan mencapai puncaknya pada malam 1 Sura atau menurut kalender Jawa atau Tahun Baru 1439 Hijriah yang jatuh pada Rabu (20/9) malam hingga Kamis (21/9) dini hari. Mereka yang lewat Desa Lencoh saja seribuan, belum lagi dari pintu-pintu lainnya.
Samsuri mengatakan, jumlah pendaki ke Merapi pada malam 1 Sura biasanya selain masyarakat Boyolali dan sekitarnya yang melakukan ritual, juga pendaki atau pencinta alam dari luar daerah di Pulau Jawa dan wisatawan asing.
Pada acara malam 1 Suro masyarakat di Merapi juga melakukan upacara ritual "Sedekah Gunung", sehingga kondisi di puncak atau di kawasan Pasar Bubrah ramai sekali. Mereka selain menikmati pemandangan pegunungan pada malam hari, juga upacara ritual adat budaya masyarakat setempat.
Pada acara malam 1 Sura masyarakat di Merapi juga melakukan upacara ritual "Sedekah Gunung", sehingga kondisi di puncak atau di kawasan Pasar Bubrah ramai sekali. Mereka selain menikmati pemandangan pegunungan pada malam hari, juga upacara ritual adat budaya masyarakat setempat.
"Upacara sedekah gunung merupakan tradisi masyarakat lereng Merapi di Selo digelar setiap tahun, pada malam 1 Sura, untuk melestarikan dan menarik wisatawan untuk berkunjung di daerah ini," katanya.
Pada acara pendakian pada malam 1 Suro, kata dia, petugas dari BTNGM akan menurunkan sekitar 40 orang, dan ditambah tim SAR desa setempat. yakni Barameru yang akan memantau setiap jalur pendakian hingga ke Pasar Bubrah atau di bawah puncak Merapi.
Menyinggung soal retribusi bagi pendaki, Samsuri mengatakan setiap pendaki ke Merapi hanya ditarik restribusi Rp 16.000 untuk hari-hari biasa, sedangkan Rp 18.500 per orang pada hari libur atau malam minggu.
Kendati demikian, pihaknya mengimbau kepada pendaki untuk tetap waspada karena sekarang memasuki musim kemarau yang rawan kebakaran sehingga dilarang membuat api unggul di lokasi pendakian.
"Pada musim kemarau saat ini, rawan kebakaran, sehingga pendaki dilarang membuat api unggun atau lainnya di lereng gunung, karena banyak dahan atau rumput kering yang mudah terbakar," katanya.
