Mansyur, ‘Barber’ Terakhir di Bawah Pohon Rindang

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

video youtube embed

“Seikhlasnya aja, Mas” ucap Mansyur (76) saat ditanya berapa tarif yang harus dibayar untuk sekali cukur.

Biasanya, tukang cukur selalu memajang tarif di papan. Dewasa, anak-anak, cukur jenggot, kumis dihargai terpisah. Namun Mansyur tidak.

Biasanya, tukang cukur menggunakan peralatan elektronik yang tercanggih. Gunting dengan berbagai bentuk. Mansyur hanya alat cukur tanpa listrik dan gunting tua yang diberi selotip.

Tukang cukur di bawah pohon Kebun Raya Bogor. (Foto: Rachmadin Ismail/kumparan)

Biasanya, tukang cukur menawarkan layanan tambahan dengan AC, pijat, refleksi, sampai cuci rambut dan pomade. Namun Mansyur hanya ada kursi sederhana, kaca berukuran kecil, meja seadanya dan atap langit yang dinaungi dedaunan pohon rindang Kebun Raya Bogor.

Itulah Mansyur. Tukang cukur terakhir ‘DPR’ (Di Bawah Pohon Rindang) di kawasan trotoar Kebun Raya Bogor. The Last Man Standing.

Berusia 76 tahun, hampir setengah hidupnya, sekitar 30 tahun dihabiskan untuk mencukur kepala manusia. Dia membuka lapak sejak pukul 07.00 WIB lalu menutupnya sekitar pukul 15.00 WIB.

“Kalau hujan ya bubar,” ucapnya santai.

Kini Mansyur jadi satu-satunya orang yang bisa mencari uang di trotoar sepanjang Kebun Raya Bogor. Dia tak jadi sasaran Satpol PP, walau bisa juga disebut Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam urusan jasa. Mansyur sudah terlalu melegenda, sehingga dianggap tak lagi ‘mengganggu’ pejalan kaki.

Tukang cukur di bawah pohon Kebun Raya Bogor. (Foto: Rachmadin Ismail/kumparan)

Menurut pria dengan 8 anak dan 15 cucu ini, dia mendapat ‘restu’ dari pejabat kota Bogor untuk mencari nafkah di bawah pohon rindang Kebun Raya Bogor. Para pejabat itu bahkan pernah minta dicukur oleh Mansyur.

Selama Mansyur menjaga kebersihan jalan dan tidak membuat masalah, dia bisa berbisnis di bawah pohon rindang. “Mungkin saya diizinkan karena sudah tua. Ha ha,” ungkapnya.

Mansyur menjadi magnet tersendiri di kawasan Kebun Raya Bogor. Banyak orang yang memotretnya sekadar untuk bernostalgia dengan kenangan masa kecil yang pernah dicukur oleh pencukur keliling.

“Sekarang udah nggak ada yang kaya beginian nih,” ucap Fajar, salah seorang pelari yang memotret aksi Mansyur mencukur.

Tukang cukur di bawah pohon Kebun Raya Bogor. (Foto: Rachmadin Ismail/kumparan)

Bagaimana kualitas cukur Mansyur? Sepintas, orang pasti akan memandang sebelah mata. Namun menurut penilaian pribadi saya, kualitasnya tak kalah dengan tukang cukur asli Garut atau anak-anak muda masa kini di barber shop pinggir jalan.

Walau mencukur dengan mata mulai rabun, dia masih bisa mencari titik imbang antara potongan rambut kanan dan kiri. Masih bisa membersihkan bulu-bulu kecil di leher belakang dengan presisi.

“Yang saya rasakan pendengaran saja kurang bagus. Jadi saya kurang bisa mendengar dengan baik kalau ngobrol, harus agak kencang,” kisahnya.

Tukang cukur di bawah pohon Kebun Raya Bogor. (Foto: Rachmadin Ismail/kumparan)

Berapa pendapatan Mansyur? Dia tak mau bercerita banyak. Namun sehari dia bisa mendapat sekitar 10 orang yang ingin memotong rambut. Belum lagi beberapa pelanggan yang kadang didatangi di rumah.

Pria asal Cibeureum ini dengan segala pengalamannya tidak hanya sekadar mencukur. Dia adalah teman bagi para pelanggan yang datang dengan berbagai cerita. Semua didengar, semua diladeni, tanpa banyak harapan apa-apa. Seikhlasnya saja.