Marak Pengendara Copot hingga Tutup Pelat Nomor, Ini Respons Polisi
·waktu baca 2 menit

Polda Metro Jaya mengatakan, Operasi Patuh Jaya 2025 akan fokus pada pelanggaran kasat mata, termasuk penggunaan pelat nomor palsu hingga pelat nomor yang sengaja ditutupi.
Operasi akan dilakukan secara mobile selama 14 hari ke depan, tanpa metode stasioner seperti razia konvensional.
“Kita akan melaksanakan kegiatan operasi, dibagi dalam beberapa tahapan kegiatan mulai dari tahapan kegiatan preemtif, preventif, sampai dengan penegakan hukum, pelanggaran-pelanggaran kasat mata,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Komaruddin kepada wartawan usai apel di lapangan presisi Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (14/7).
Komaruddin menyebut ada 10 jenis pelanggaran yang menjadi target operasi, salah satunya adalah penggunaan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) palsu dan kendaraan tanpa pelat nomor.
“Oleh karena ini kami imbau kepada masyarakat yang saat ini ada fenomena baru, kendaraan roda dua yang pelat ataupun TNKB belakangnya entah sengaja dicopot ataupun alasan terjatuh. Supaya diperhatikan kembali karena ini akan menjadi salah satu target yang kita lakukan,” ujarnya.
Komaruddin juga menjelaskan, kendaraan dinas sekalipun kini bisa terdeteksi oleh kamera ETLE.
“Kita telah berkoordinasi dengan POM TNI, kemudian Propam Mabes Polri, bahwa seluruh kendaraan dinas ter-capture. Karena yang disasar adalah pengendaraan. Bukan lagi objek kendaraan, tapi perilaku dari pengendaraan,” jelasnya.
Komaruddin juga mengingatkan soal maraknya kendaraan yang menutupi pelat nomor dengan stiker atau bahan lain. Praktik tersebut akan ditindak tegas.
“Termasuk itu (pelat kendaraan yang ditutupi) salah satunya,” ujarnya
“Kita sudah mapping, sudah kita petakan titik-titik yang rentan ataupun riskan terjadi pelanggaran. Biasanya ini marak terjadi pada daerah-daerah yang belum terpasang ETLE. Nah, ini termasuk salah satu yang akan kita jadikan daerah sasaran,” tambah Komaruddin.
Komaruddin memastikan operasi tidak akan dilakukan dengan metode stasioner seperti dulu karena dinilai justru menimbulkan potensi masalah baru.
“Kita lebih mobile. Lebih banyak mudaratnya kalau dengan menggunakan stasioner, masyarakat yang berkumpul, yang berputar balik, ini akan sangat membahayakan. Kita akan hunting system,” tutupnya.
Menurutnya, operasi akan lebih mengandalkan sistem hunting dengan ETLE mobile dan patroli personel di lapangan. Hal ini untuk meminimalisir kerumunan dan kontak langsung antara petugas dan pelanggar.
“Kami akan lebih memaksimalkan hunting system. Baik dengan penggunaan ETLE Mobile ataupun petugas yang berpatroli, pelanggaran kasat mata akan langsung ditindak,” tegasnya.
