Mardani Prihatin Insiden Ade Armando: Tidak Boleh Ada Kekerasan
ยทwaktu baca 2 menit

Politikus PKS Mardani Ali Sera ikut prihatin atas insiden pengeroyokan Dosen Universitas Indonesia sekaligus Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) Ade Armando di demo 11 April kemarin.
Menurutnya, kekerasan tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun. Ia juga menilai persoalan harusnya bisa diselesaikan dengan dialog.
"Menyikapi adanya insiden pemukulan yang terjadi pada demonstrasi 11 April, baik dilakukan kepada mahasiswa maupun pendemo, termasuk kepada Ade Armando, saya turut prihatin. Tidak boleh ada kekerasan pada apa pun juga. Semua mesti diselesaikan dengan dialog," kata Mardani di Twitter, Selasa (12/4).
Di satu sisi, Mardani menilai secara keseluruhan, demo besar-besaran yang berlangsung di sejumlah daerah berlangsung kondusif. Mardani berjanji akan fokus pada tuntutan-tuntutan yang disampaikan dalam demo, khususnya oleh BEM SI.
Yakni terkait penundaan Pemilu 2024 atau masa jabatan tiga periode, penundaan dan pengkajian ulang IKN, hingga kelangkaan bahan pokok dan kestabilan harga. Adapun pengusutan mafia minyak goreng dan evaluasi kinerja menteri, penyelesaian konflik agraria, serta penuntasan janji kampanye.
"Ada insiden kecil, namun tidak menghilangkan subtansi dari mulai serentaknya gerakan rakyat bersama mahasiswa yang terjadi di seluruh daerah. Mari fokus ke 6 tuntutan mereka," ujar anggota Komisi II DPR RI itu.
"Pesan ini akan kami bawa ke fraksi PKS untuk dibahas dalam rapat-rapat DPR dan menjadi "warning" bagi penentu kebijakan negeri ini," imbuhnya.
Mardani juga berjanji akan membahas 4 tuntutan kepada wakil rakyat atau DPR RI.
Yakni mendesak anggota dewan menyampaikan aspirasi rakyat bukan partai, menjemput aspirasi rakyat dalam aksi 18 Maret hingga 11 April 2022, tak melakukan amandemen untuk menunda pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden, serta menyampaikan 18 tuntutan mahasiswa kepada presiden yang belum terjawab.
"Pesan dan tuntutan para pendemo tersebut merupakan suara nurani rakyat yang patut didengar dan ditunaikan, apalagi mereka menyampaikan bukan hanya demo besar di jalan, di kampus, tapi juga demo besar di medsos dengan trending di berbagai kanal media meskipun minim pemberitaan," pungkasnya.
