Ma'ruf soal Pembakaran Al-Quran di Swedia & Belanda: Bukan Kebebasan Berekspresi
·waktu baca 2 menit

Pembakaran dan perobekan Al-Quran yang terjadi di Swedia dan Belanda mendapat sorotan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Ia mengatakan, pemerintah melalui Kemlu mengecam perbuatan itu dan akan memanggil duta besar Swedia untuk menyampaikan protes.
"Bahkan kalau kita tidak bisa menjaganya, itu bisa potensi konflik, itu bisa melebar atau terjadi di berbagai negara lain. Nah, oleh karena itu, ini yang tidak disadari, potensi ini bisa membawa sikap permusuhan. Apalagi itu tindakan, ucapan pun seharusnya dijaga," kata Ma'ruf usai menghadiri acara di kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (26/1).
Ma'ruf pun menyinggung soal teologi kerukunan. Menurutnya, teologi kerukunan dalam menyampaikan paham keagamaan tidak boleh menimbulkan konflik.
Jadi saya kira ini tidak betul, kalau ini merupakan kebebasan berekspresi kemudian orang boleh seenaknya tanpa mempedulikan hak orang lain, pihak lain. Itu suatu yang bisa menimbulkan akibat itu yang harus kita jaga. Bukan saja di negara kita tapi juga di negara lain," ujar Ma'ruf.
Ma'ruf pun mengajak semua pihak untuk mencegah penodaan agama. Oknum yang melakukan penodaan agama, kata dia, harus diberi sanksi supaya kejadian serupa tidak terulang dan tidak menimbulkan konflik.
"Kita ini bangsa paling toleran di dunia ini. Oleh karena itu kita harap apa yang terjadi di Swedia atau Belanda tidak berpengaruh kepada kita. Artinya kita sebagai bangsa sudah punya landasannya, sudah punya semangat, sudah punya karakter yang kita bina selama ini sebagai bangsa toleran. Jangan sampai ada unsur-unsur intoleran masuk ke sini," pungkas Ma'ruf.
Pembakaran di Swedia dan Belanda
Politikus sayap kanan Rasmus Paludan membakar kitab Al-Quran dekat di Kedutaan Turki di Stockholm, Swedia, pada Sabtu (21/1). Paludan memprotes Presiden Turki Tayyip Erdogan yang dinilai mempengaruhi kebebasan berekspresi di Swedia.
Paludan melakukan aksinya tersebut setelah mendapat izin dari kepolisian setempat. Untuk pertama kalinya, PM Swedia mengecam perbuatan provokatif Paludan—yang bukan pertama kali dilakukan.
Perbuatan Paludan mendapat kecaman dan kutukan dari sejumlah negara seperti Turki, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Indonesia.
Sementara di Belanda, pembakaran dan perobekan Al-Quran dilakukan politikus sayap kanan sekaligus pemimpin Pegida, Edwin Wegensveld. Pegida merupakan kelompok Islamofobia yang tumbuh di beberapa negara Eropa.
Gambar-gambar di media sosial menunjukkan Wegensveld menginjak-injak halaman kitab Al-Quran yang ia robek-robek. Ia juga membakar robekan Al-Quran di dalam sebuah panci.
