Masa Kecil Artidjo Alkostar: Joki Karapan Sapi hingga Gemar Berkelahi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar. (Foto:  Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Artidjo Alkostar banyak bercerita tentang kesehariannya di kampung halaman. Meski lahir di Situbondo, namun darah Madura yang mengalir di tubuh diakuinya lebih mendominasi.

Sepanjang karier di dunia hukum, sejumlah teror pernah dialami oleh Hakim Agung yang terkenal 'galak' dengan koruptor itu. Namun, Artidjo mengaku tak sedikit pun takut. Meski teror itu berupa pembunuhan hingga santet.

Keberanian Artidjo menghadapi teror itu tak terlepas dari cerita masa kecilnya. Pria yang merupakan anak pertama dari lima bersaudara itu menceritakan masa kecilnya telah terbiasa memacu adrenalin. Menjadi joki karapan sapi, gulat hingga silat menjadi hobinya kala itu.

"Sejak kecil saya sudah menjadi joki karapan sapi, berkelahi gulat, dan silat, sudah ada di sini semuanya. Jadi, tidak memungkinkan," kata Artidjo saat berbincang dengan wartawan di Media Center Mahkamah Agung, Jumat (25/5).

Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar. (Foto:  Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Sembari berseloroh, Artidjo mengatakan pengalaman masa kecil dan bela diri itu menjadi bekal tersendiri untuk menghadapi peneror. Selain itu, darah Madura yang dimilikinya memiliki karakter tak takut dengan orang.

"Darah Madura saya tidak memungkinkan untuk menjadi takut sama orang. Jadi, setiap hari, kalau saya dulu pegang celurit terus dulu. Tapi, sekarang sudah enggak lagi. Jadi, untuk itu saya kira kalau ancaman itu saya kira saya katakan sekali lagi pernah saya alami. Termasuk di daerah saya, saya orang tua saya," ujar Artidjo.

Keberaniannya itu turut ia ceritakan dalam bukunya berjudul "Artidjo Alkostar: Titian Keikhlasan, Berkhidmat untuk Keadilan" terbitan MA. Di bukunya, Artidjo mengulas banyak hal tentang Madura, juga kegiatannya semasa kecil di tanah kelahiran.

Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar. (Foto:  Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Artidjo kecil sudah dikenalkan dengan adat Madura yang begitu kental. Saat kemarau datang, Artidjo bersama masyarakat Madura lainnya melakukan tradisi keket --upacara adat mendoakan hujan turun.

Tradisi itu mengharuskan petarung menjatuhkan lawannya hingga terlentang. Sehingga, kata Artidjo dalam tulisannya, hal-hal semacam itu membuatnya tahan banting, bahkan untuk teror dibunuh sekalipun.

"Pengalaman-pengalaman itu membentuk kepribadian saya untuk tidak takut akan teror, ancaman, dan santet. Setelah mengaji di surau malam hari, di desa saya, biasanya saya juga mengikuti pencak silat, baik dengan tangan kosong, pisau, celurit, pedang dan sebagainya," ungkap Artidjo dalam bukunya.

Kini, Ketua Kamar Pidana MA itu akan kembali ke kampung halaman. Kerinduannya untuk menetap di Yogyakarta, Situbondo atau Sumenep, akan segera terwujud.

Pasalnya, Artidjo sudah pensiun menjadi Hakim Agung sejak 22 Mei. Usai 18 tahun mengabdi, Artidjo akan resmi pensiun per 1 Juni 2018.