Masih Ada Kemacetan dan Kerumunan Selama PPKM Darurat di Medan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi kemacetan panjang di Simpang Juanda Medan. Foto: Rahmat Utomo/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi kemacetan panjang di Simpang Juanda Medan. Foto: Rahmat Utomo/kumparan

Wali Kota Medan Bobby Nasution dan Polda Sumatera Utara mengeklaim mobilitas masyarakat selama penerapan PPKM darurat menurut drastis.

Meski mobilitas disebut turun, tapi masih ada kemacetan dan kerumunan selama PPKM darurat.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi menyebut, grafik kendaraan yang melintas pada Selasa (13/7), jumlahnya 26.495 kendaraan.

kumparan post embed

Sedangkan pada Rabu (14/7), kendaraan yang melintas berkurang menjadi 20.561. Namun Hadi tidak menjelaskan jumlah penurunan pada Kamis (15/7).

"Turunnya jumlah kendaraan karena dilakukan sosialisasi masif dan humanis yang dilakukan TNI-Polri, pol pp dan satgas. Selain itu upaya juga dilakukan penyekatan di sejumlah ruas jalan baik dr luar kota maupun dalam Kota Medan, sehingga mobilisasi masyarakat berkurang," ujar Hadi dalam keterangannya.

Hadi menjelaskan, selama PPKM darurat ada 31 titik ruas jalan yang di sekat. Baik dari dalam dan luar kota Medan. Hanya masyarakat yang memenuhi persyaratan tertentu yang boleh melintas.

Penyekatan dilakukan sejak pukul 07.00 hingga pukul 24.00 WIB.

"Tujuannya agar masyarakat yang tidak mempunyai kepentingan mendesak untuk tetap berada di rumah dalam upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19," ucap Hadi.

Wali Kota Medan Bobby Nasution menyampaikan pidato perdana di Gedung DPRD Kota Medan, Jumat (26/2). Foto: DPRD Kota Medan

Sementara Bobby Nasution mengatakan, mobilitas warga ke Medan juga menurun. Dia bahkan memantau langsung dari udara menggunakan helikopter.

"Ada beberapa titik tidak dilakukan penutupan secara ketat. Namun melihat dari traffic sudah sangat berkurang," ujar Bobby.

Bobby menegaskan, selama PPKM darurat, pengetatan akan dilakukan secara maksimal.

"Tidak ada kelonggaran lagi, sektor non-esensial 100 (persen) tutup, sedangkan yang esensial di Kota Medan itu ada sekitar 1.600 perusahaan agar work from home 50 persen (karyawannya," ujar Bobby.

Kemacetan di Pasar Sukaramai. Foto: Rahmat Utomo/kumparan

Masih Ada Kerumunan dan Kemacetan

Berdasarkan pantauan kumparan di sejumlah lokasi penyekatan, masih terjadi kemacetan panjang. Salah satunya di penyekatan di Jalan Brigjen Hamid perbatasan Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.

Penyekatan di pagi hari hanya dibuat setengah jalan hanya kendaraan yang rutenya dari Medan ke Deli Serdang saja yang dibiarkan masuk. Karena keadaan ini terjadilah kemacetan panjang lebih kurang 100 meter.

Sedangkan kendaraan dari Deli Serdang yang hendak masuk ke Medan, kebanyakan tidak memutar balik. Mereka melewati jalan pintas agar bisa masuk ke Medan.

Kemacetan panjang juga terjadi di Simpang Jalan Juanda, Akses jalan menuju kota ditutup polisi sehingga kemacetan tak terelakkan.

Dari pengamatan kumparan, ada sekitar 1 Km lebih kemacetan di Jalan Brigjen Katamso yang menghubungkan ke Simpang Jalan Juanda.

Kemacetan di Pasar Sukaramai yang diambil dari atas Gedung Pasar. Foto: Rahmat Utomo/kumparan

Sementara di Pasar Sukaramai kondisi semakin diperparah dengan jalanan yang rusak. Kondisi pasar juga tampak ramai.

Para pedagang tetap nekat berjualan untuk mencukupi hidup. Seperti yang dirasakan pedagang ketupat bernama Daniar (53).

"Kalau nggak jualan mau makan apa," ujarnya.

Daniar menuturkan, semenjak pandemi COVID-19 penghasilannya menurun, kondisi kian parah lantaran penerapan PPKM darurat. Dia yang biasa sanggup menjual 6 Kg dengan keuntungan Rp 150 ribu, kini hanya mampu menjual 2 Kg ketupat saja.

"Sekarang jangan kan untung balik modal aja susah," kata dia