Masih Ada Warga Ibu Kota Tinggal dan Mengais Rezeki di Kolong Jembatan
·waktu baca 3 menit

Presiden Prabowo Subianto menegaskan, tak boleh ada lagi orang-orang telantar dan tinggal di kolong jembatan. Prabowo memandang, dengan ekonomi yang berasas kekeluargaan, seharusnya tidak ada lagi orang telantar dan orang yang tinggal di kolong jembatan.
"Perekonomian kita asasnya adalah kekeluargaan, tidak boleh ada yang lapar di republik merdeka 80 tahun. Tidak boleh ada yang tinggal di bawah kolong jembatan, ini menusuk rasa keadilan," ucap Prabowo dalam sarasehan bersama para ekonom di Jakarta, Selasa (8/4).
Lantas bagaimana kenyataan di lapangan, apakah masih ada masyarakat yang tinggal di kolong-kolong jembatan?
kumparan mencoba menelusuri sejumlah titik di Ibu Kota. Hasilnya, masih ada masyarakat yang tinggal di kolong jembatan dengan bangunan semi permanen.
Salah satunya Nenek Eli, yang tinggal di kolong jembatan Flyover Jalan Tomang bersama lima anggota keluarganya. Nenek Eli sejak 2005 tinggal gubuk bantaran Sungai Ciliwung.
Sehari-hari, Nenek Eli bekerja sebagai buruh cuci-gosok. Sementara anggota keluarganya bekerja sebagai pencari botol plastik bekas.
Nenek Eli tahu informasi adanya pemindahan warga bantaran sungai atau kolong jembatan ke rumah susun (rusun) untuk warga tunawisma seperti dia. Namun, dirinya tidak bisa menempati rusun itu karena yang berhak menempati rusun hanya yang memiliki KTP Jakarta.
“Nenek mah KTP Cimahi,” kata Eli saat ditemui di kolong jembatan Tomang, Jakarta, (9/4).
Bakal Segera Digusur, Hanya Bisa Pasrah
Tempat Nenek Eli tinggal di kolong jembatan ini akan segera dilakukan sterilisasi pada Juli oleh pemerintah setempat. Ia pasrah apabila tempat tinggalnya digusur.
“Bulan tujuh kan harus kosong katanya, mau pulang aja nenek ke kampung,” ucapnya.
Tak hanya nenek Eli yang tinggal di kolong jembatan, ada Azizah yang juga mendirikan bangunan semi permanen di kolong jembatan. Di lokasi itu, ia berjualan makanan dan minuman es dengan penghasilan Rp 50.000-150.000 per hari.
Di sekitar tempatnya itu, ada tujuh orang yang juga tinggal di gubuk yang bekerja sebagai pencari botol bekas.
Bangunan itu berdiri di lahan yang di depannya ada plang pengumuman yang tertulis lahan milik PT Kereta Api Indonesia.
Enggan Pindah ke Rusun karena Trauma
Azizah berharap pemerintah dapat memberikan tempat tinggal yang layak. Tetangganya di dekat tempat tinggalnya akan segera pindah ke rusun di sekitar Jakarta.
Tapi dia sendiri enggan dipindah ke rusun karena takut menggunakan lift.
“Enggak mau (pindah ke rusun), trauma soalnya pernah kejebak di lift, takut,” ucapnya
Dia memilih mencari sewa kontrakan yang masih berada di sekitar tempat tinggalnya karena takut kehilangan mata pencahariannya.
“Tinggal di sini aja, nyari duit di sini,” kata dia.
