Mayjen Maruli Simanjuntak Bicara Strategi Penanganan Konflik di Papua

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mayjen Maruli Simanjuntak di di Korem 163/Wirastya, Bali. Foto: Denita br Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mayjen Maruli Simanjuntak di di Korem 163/Wirastya, Bali. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Mayjen TNI Maruli Simanjuntak terpilih menjadi Pangkostrad dan tinggal menunggu pelantikan oleh KSAD. Sebelum dilantik, Maruli sudah punya gambaran bagaimana penanganan konflik khususnya di Papua.

"Sementara saya baru lihat kan bahwa tugas dan tanggung jawab Kostrad itu sebagai pasukan tempur. Jadi, lebih dominan ke profesionalisme. Secara umum saya pikir tugas kita ada pada profesionalitas dan meningkatkan kemampuan prajurit dihadapkan pada ancaman saat ini dan ke depan," kata Maruli di di Korem 163/Wirastya, Kota Denpasar, Bali, Senin (24/1).

"Bagaimana sekarang misalnya pembicaraan yang sudah lama tentang penugasan yang sedang dievaluasi Panglima TNI dan KSAD tentang di Papua. Jadi, bagaimana sebenarnya teknis yang baik, dan akan coba didiskusikan sehingga mendapatkan suatu SOP yang baik," kata pria yang kini masih menjabat Pangdam IX/Udayana.

Mayjen Maruli Simanjuntak di di Korem 163/Wirastya, Bali. Foto: Denita br Matondang/kumparan

Maruli mengatakan penanganan konflik di Papua tidak melulu bicara jumlah personel yang disiagakan di sana. Jumlah besar tapi tak disokong dengan SOP dan tugas yang jelas justru bisa berujung pada pelanggaran yang dilakukan anggota.

"Itu salah satu yang akan saya detailkan setelah menjabat," ujar menantu Luhut Binsar Pandjaitan itu.

Di sisi lain, untuk tugas Kostrad secara umum, Maruli ingin ada peningkatan alutsista dan kemampuan prajurit dalam menggunakan alutsista dengan baik. Dengan begitu, prajurit bisa lebih mantap mempertahankan kedaulatan atau bersiap menghadapi ancaman musuh.

"Kemarin kebetulan kami baru Rapim dari Kemenhan itu sudah kami diskusikan juga. Mungkin ada beberapa yang akan didukungkan ke Kostrad," kata dia.

kumparan post embed

Selain itu, ada beberapa wilayah yang akan dievaluasi tingkat keamanannya. Di antaranya adalah Laut Cina Selatan dan Aceh.

"Ada 5 wilayah yang perlu diantisipasi. Ambalat, Laut China Selatan, Papua, Aceh, dan lain lagi. Ada lagi perlu diselesaikan dengan baik," kata dia.