Melihat Bom, Rudal, hingga Drone Kamikaze Besutan RI
·waktu baca 4 menit

Indonesia terus mengembangkan industri pertahanan dalam negeri. Tak cuma memproduksi berbagai rantis maupun rampur dan berbagai senjata, amunisi berat juga terus dikembangkan.
Ada beberapa amunisi dan alutsista yang terus dikembangkan, mulai bom, roket, rudal, hingga drone kamikaze.
“Jadi ini kita ketahui bersama, kita bergerak dalam dua industri teknologi, yang banyak support untuk industri pertahanan maupun untuk komersial seperti digital mining, dan oil and gas,” kata salah satu petugas saat memberi pengarahan dalam kunjugan ke kantor BUMN PT Dahana.
Salah satu produk unggulan PT Dahana adalah bom BNT-250 atau Bom NATO Tajam kaliber 250 kilogram, yang biasa digunakan oleh pesawat tempur NATO. Selain itu, ada juga memproduksi bom khusus pesawat Sukhoi dengan tiga varian, yaitu P-100, P-250, dan P-500, yang sudah diproduksi massal dan dipesan Kementerian Pertahanan.
Lalu ada pengembangan senjata antitank yang memiliki daya jangkau 300 meter dan berat hulu ledak sekitar 300-500 gram. Produk ini dikembangkan bersama industri pertahanan swasta nasional.
Masuk ke ranah roket, ada RH122B. Ini merupakan roket pertahanan yang mampu menjangkau hingga 30 kilometer dan menjadi bagian dari konsorsium roket nasional bersama PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia (DI).
Versi lanjutannya, RH450, tengah dikembangkan dengan target daya jangkau hingga 100 kilometer, bekerja sama dengan BRIN.
PT Dahana juga memperkenalkan rudal Merapi, sebuah sistem pertahanan udara yang bisa dibawa perseorangan (man-portable air defense system). Rudal ini mampu menghantam sasaran udara seperti helikopter hingga 3 kilometer. Rudal ini masih dalam tahap pengembangan, dan belum bersertifikat.
Untuk platform udara tak berawak, ada drone kamikaze tipe loitering munition bernama Rajata. Drone ini dapat bermanuver di udara untuk mencari target, lalu menghantamkan diri.
“Kecepatannya bisa sampai dengan 200 kilometer per jam dan jarak jangkauan sampai dengan 30 kilometer,” kata petugas PT Dahana.
Kepala Pengembang Teknologi PT Dahana, Yusep Nugraha Rubani, menjelaskan bahwa mayoritas produk rudal dan drone masih dalam tahap penelitian dan pengembangan.
“Rudal Merapi itu kita berharap dalam 1 atau 2 tahun ke depan bisa segera disertifikasi dan bisa dimanfaatkan oleh TNI. Tidak mungkin jauh-jauh, tidak mungkin sampai ribuan kilometer belum sampai,” ujarnya.
Menurut Yusep, penguasaan teknologi rudal dan roket masih dibatasi oleh negara-negara pemilik teknologi, sehingga Indonesia harus meneliti dan mengembangkan secara mandiri. Untuk saat ini, produk roket PT Dahana sudah mencapai daya jangkau maksimal 84 km, dan sedang menuju target 100 km.
“Kita juga bekerja sama dengan beberapa pihak. Membuat rudal Merapi. Tapi itu belum tersertifikasi. Masih proses penelitian dan pengembangan,” tambahnya.
Untuk drone kamikaze Rajata, PT Dahana menargetkan bisa membawa hulu ledak sekitar 1 kilogram. Meski belum bersertifikasi, produk ini sudah menarik perhatian saat dipamerkan di sejumlah pameran.
“Setiap kita ikut ke beberapa pameran di luar negeri, melihat produk Rajata aja, mereka tanya. Ini sudah produksi belum? Karena sekarang ini propellant itu harganya sudah 5 kali lipat. Dan dicari oleh semua orang di dunia,” jelas Yusep.
Yusep menegaskan, sertifikasi produk dalam negeri dimulai dari uji kelayakan nasional melalui Dislitbang AU dan Puslaik Kemhan. Produk-produk bersertifikasi nasional kemudian dapat digunakan oleh TNI dan menjadi dasar bagi pemasaran ke luar negeri.
Salah satu pencapaian PT Dahana adalah ekspor bom praktik ke Vietnam. “Kinerjanya tidak kalah dengan produk asli. Malah mungkin bisa jadi lebih baik,” ujarnya.
Ada pula produk roket RHAN-122 yang sudah dipakai oleh TNI, dengan kapasitas produksi terbatas.
“Paling kecil 300 roket per tahun sampai 500 roket. Kita fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri dulu,” kata Yusep.
Ke depan, PT Dahana berharap semua produk strategis, termasuk rudal dan drone, bisa memperoleh sertifikasi dan digunakan oleh militer Indonesia.
Hal ini dinilai penting untuk memperkuat pertahanan nasional sekaligus membuka peluang ekspor ke negara lain, terutama yang sedang mengalami konflik dan memerlukan alutsista dalam waktu cepat.
