Melihat Dapur MBG di Garut Usai 657 Siswa Keracunan: Masih Jalan, Polisi Pantau
·waktu baca 2 menit

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mandiri Yayasan Al Bayyinah 2 yang merupakan dapur pembuat makanan MBG itu masih berjalan normal setelah insiden keracunan MBG yang menimpa ratusan siswa di Garut, Jawa Barat, pada 17 September 2025.
kumparan mendatangi lokasi SPPG itu yang berada di Kampung Cilageni, Desa Karangmulya, Kecamatan Kadungora, Rabu (24/9).
Saat tiba di lokasi, sejumlah orang memakai kaus bertuliskan SPPG tampak duduk di teras salah satu bangunan. Terlihat juga sejumlah petugas kepolisian berjaga-jaga di sekitar dapur MBG yang berada di pinggir jalan menuju arah Cijapati itu.
Tidak lama setelahnya, tim dari Dinas Kesehatan Garut tiba di sekitar lokasi. Berdasarkan informasi yang diterima, tim tersebut datang ke SPPG untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh pegawai.
Sebelum dimulai kegiatan tersebut, kumparan sempat meminta waktu untuk bertemu dengan kepala dapur dan melihat kondisi dapur tersebut, tapi hingga berita ini diturunkan belum mendapatkan izin.
Diganti Makanan Kering
Salah seorang petugas menyampaikan bahwa hingga saat ini pelayanan pemenuhan gizi untuk para pelajar masih dilakukan oleh SPPG tersebut.
"Hanya memang untuk makanannya selama dua minggu ini diganti dengan keringan dulu, jadi masih tetap jalan pelayanannya," ucap petugas yang enggan disebut namanya itu.
Ia menyebut bahwa SPPG tempatnya bekerja setidaknya memberikan pelayanan kepada 3.800 siswa yang berada di sekitar wilayah Kecamatan Kadungora, Garut. Siswa tersebut berasal dari semua jenjang pendidikan, mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Tidak Dikenal Pemberhentian Pelayanan MBG
Pernyataan pegawai SPPG tersebut sejalan dengan keterangan yang disampaikan Ketua Satuan Tugas MBG Garut, Nurdin Yana. Ia menyebut bahwa pelayanan SPPG tetap berjalan usai insiden yang menyebabkan ratusan pelajar mengalami keracunan.
Nurdin mengatakan keputusan itu dilakukan setelah sebelumnya koordinator MBG melakukan koordinasi terkait dengan mekanisme pelayanan bila terjadi kasus keracunan.
"Hasil (koordinasi), pihak MBG ini menyatakan tidak dikenal pemberhentian (pelayanan pemberian makanan bergizi gratis dari) SPPG,” kata Nurdin.
Meski tidak diberhentikan, jelas Nurdin, pihak SPPG mengubah pemilihan menu dan yang sebelumnya menunya makanan olahan basahan, kini harus menjadi keringan.
“Pola pemberian MBG berubah menjadi keringan, seperti roti, susu, buah, dan tempe. Jadi sampai saat ini SPPG masih berjalan, hanya pemilihan menunya saja yang berubah,” jelas Nurdin.
