Melihat Polemik Program 50.000 Rumah Gratis di Pyongyang, Korea Utara
ยทwaktu baca 4 menit

Korea Utara telah memasuki tahun ketiga dalam proyek pembangunan 50.000 rumah di Pyongyang. Program ini digagas oleh pemimpin Kim Jong-un.
Dikutip dari Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), proyek ini dijadwalkan selesai pada 2025. Tujuannya untuk membangun 10.000 rumah setiap tahunnya dan telah dipromosikan sebagai salah satu pencapaian paling menonjol dalam masa pemerintahan Kim.
Menurut media lokal Korea Utara NK News, meski menjadi program unggulan, peluang bagi sebagian besar warga Korea Utara untuk mendapatkan "rumah gratis" ini sangat kecil dan memakan waktu yang lama.
Proyek besar ini didasarkan pada keinginan Kim Jong-un untuk mewujudkan impian ayahnya, Kim Jong Il, yang berkeinginan membangun 100.000 rumah di Pyongyang. Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk mengedepankan ideologi Kim Jong Un yang menekankan bahwa "rakyat harus didahulukan."
Menurut laporan kantor berita Korea Utara KCNA, secara total negaranya berencana membangun 50.000 rumah, termasuk yang sudah selesai di kawasan Songsin-Songhwa dan Hwasong di Pyongyang.
Namun, laporan juga menunjukkan bahwa sebagian besar rumah yang dinyatakan selesai masih dalam kondisi minimal, dengan hanya sekitar 5-7 persen yang benar-benar siap ditempati. Sebagian besar penghuni harus menyelesaikan pekerjaan interior sendiri, termasuk pemasangan toilet, keran, kertas dinding, lantai, dan ubin.
Selain masalah interior, beberapa rumah mengalami konstruksi eksterior yang buruk. Beberapa penghuni melaporkan kebocoran air dari wastafel di rumah atas dan dinding yang lembab. Pembangunan yang tergesa-gesa dan kekurangan bahan konstruksi seperti tulangan dan semen juga menyebabkan penggunaan material berkualitas rendah.
Meskipun demikian, proyek ini tetap mendapat dukungan positif dari sebagian masyarakat Korea Utara, terutama mereka yang tinggal di luar Pyongyang yang melihat ibu kota mereka semakin modern.
Propaganda Rumah Gratis
Di Pyongyang, hanya mereka yang memiliki koneksi politik atau status sosial tinggi yang bisa mendapatkan perumahan yang baik, sementara mayoritas penduduk tinggal dalam kondisi yang jauh dari klaim tersebut.
Dikutip dari media lokal Korea Utara NK News, terdapat propaganda pemerintah Korea Utara mengenai apartemen dan rumah yang didistribusikan oleh negara secara gratis berdasarkan kebutuhan penduduk.
Korea Utara memberikan perumahan gratis kepada mereka yang telah terdaftar membutuhkan perumahan yang lebih baik karena kondisi kehidupan yang buruk. Di luar kasus-kasus khusus, orang-orang ini kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam daftar tunggu.
Untuk mendapatkan peluang flat gratis, seseorang harus memenuhi salah satu dari yang berikut:
1. Seorang selebriti;
2. Seorang pejabat tinggi;
3. Penghuni rumah yang sedang dibongkar untuk dibangun bangunan lain
4. Seorang karyawan sebuah perusahaan yang memiliki perumahan sendiri (dan cukup beruntung untuk dipilih ketika sejumlah rumah susun yang tersedia didistribusikan);
Peluang bagi sebagian besar warga Korea Utara sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali, sehingga mereka yang mempunyai uang akan membayar untuk perumahan baru.
Harganya tidak murah, sebelum COVID-19, apartemen baru di Pyongyang akan dijual dengan harga USD 40-100.000 (setara Rp 650 juta-Rp 1,6 miliar), tergantung pada lokasi, ukuran, dan kualitas.
Bagi rata-rata pekerja di Korea Utara, USD 40.000 setara dengan gaji tahunan selama empat puluh tahun.
Pembangunan Rumah Tahap Ketiga
Dikutip dari KCNA, Kim Jong-un menghadiri upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan 10.000 rumah lagi di Pyongyang pada 23 Februari 2024. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut pembangunan apartemen baru di daerah Hwasong, di bawah proyek untuk membangun 50.000 rumah di Pyongyang antara 2021 hingga akhir 2025.
Media pemerintah mengeklaim bahwa 10.000 rumah, termasuk menara 80 lantai, telah dibangun di Jalan Songhwa pada 2021 dan proyek ini kemudian dilanjutkan ke Jalan Hwasong dengan pembangunan 10.000 rumah lagi pada 2022.
Kendala dan Tantangan
Meskipun pihak berwenang mengeklaim proyek ini berjalan lancar, analisis menunjukkan bahwa banyak rumah yang dibangun masih kosong, bertentangan dengan klaim resmi. Masalah kualitas konstruksi dan akses terhadap air serta listrik di lantai atas menjadi kendala utama.
Proyek-proyek apartemen lain di Pyongyang yang tidak mendapat sorotan utama, seperti pembangunan kembali kawasan sekitar Hotel Ryugyong, juga mengalami penundaan.
Sementara itu, proyek terpisah di distrik Sopo, Pyongyang, yang mencakup pembangunan 4.100 rumah, sedang dalam tahap akhir. Kim Jong-un menciptakan proyek ini untuk memobilisasi generasi muda Korea Utara agar mengalami dan belajar dari kesulitan pembangunan.
Proyek pembangunan rumah di Pyongyang ini dianggap sebagai bagian dari upaya Kim Jong Un untuk memperdalam kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Meski menghadapi banyak tantangan, proyek ini tetap berjalan dengan ambisi besar untuk mengubah wajah ibu kota Korea Utara menjadi lebih modern dan maju.
