Melihat Ruang Khusus Salat di Kelenteng Pan Kho Bio, Bogor

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Interior Klenteng Pan Kho Bio (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Interior Klenteng Pan Kho Bio (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)

Tempat salat dalam kelenteng mungkin terdengar aneh. Mengingat, kelenteng adalah tempat beribadah umat Konghucu, sementara salat adalah ibadah umat Islam.

Namun faktanya, ada kelenteng yang menyediakan tempat salat. Kelenteng itu adalah Kelenteng Pan Kho Bio yang terletak di kawasan Pulo Geulis, Kota Bogor, Jawa Barat.

Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1703 ini terbilang cukup unik. Dalam kompleks kelenteng, ada beberapa petilasan leluhur keluarga Kerajaan Pajajaran. Pada Orde Baru, nama kelenteng itu pun sempat bernama Vihara Maha Brahma Pan Kho Bio. Padahal, fungsi kelenteng dan vihara berbeda.

"Itu kan karena pada masa Orde Baru tahun 1974, kelenteng itu harus diurus oleh Ditjen Agama Hindu-Buddha. Jadi setiap kelenteng itu harus dinamai vihara. Padahal, ini kan sebenarnya vihara buat ibadah Konghucu," kata Candra (60) salah seorang pengurus Kelenteng Pan Kho Bio di lokasi, Selasa (12/6).

Candra (60) salah seorang pengurus Klenteng (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Candra (60) salah seorang pengurus Klenteng (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)

Sebenarnya tak ada yang berbeda Kelenteng Pan Kho Bio dengan kelenteng pada umumnya. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, pada bagian belakang altar kelenteng terdapat ruangan khusus yang dapat digunakan untuk salat. Candra mengatakan, ruangan itu dibangun sejak 2007.

Ruangan itu sengaja dibuat untuk para peziarah yang datang ke petilasan leluhur keluarga Kerajaan Pajajaran, yakni Eyang Sakee dan Eyang Jayaningrat. Keduanya merupakan tokoh penyebar agama Islam pada masanya.

"Sejak kelenteng ini berdiri, sudah ada makam beliau-beliau ini. Pengunjung yang datang kan juga beraneka ragam, khusus pengunjung yang muslim, kami sediakan ruangan khusus untuk salat di sini," ujar Candra.

Makam di dalam ruang solat (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Makam di dalam ruang solat (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)

Ruangan ini sendiri dicat dengan warna hijau daun. Warna yang senada juga diaplikasikan pada karpet pelapis lantainya. Dalam ruangan tersebut juga terlihat ada sebuah batu besar yang dipercaya sebagai tempat petilasan Eyang Sakee dan Eyang Jayaningrat.

Selain itu, terdapat sebuah sajadah yang mengarah ke kiblat. Dalam ruangan ini, juga terlihat dua Al-Quran yang diletakkan di atas batu besar itu.

"Cuma kami tidak mau (keberadaan tempat salat itu) menyaingi keberadaan masjid dan musala di dekat sini. Tapi kami menyediakan ruangan bagi pengunjung kelenteng yang beragama Islam untuk melaksanakan salat," ujarnya.

Ruang Sholat dalam Klenteng (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ruang Sholat dalam Klenteng (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)

Toleransi beragama di sekitar Kelenteng Pan Kho Bio

Selain keberadaan ruangan salat, Klenteng Pan Kho Bio, kawasan di Pulo Geulis juga dikenal akan toleransi antar umat beragamanya. Salah satunya, Kelenteng Pan Kho Bio sering mengadakan pengajian pada malam Jumat.

"Setiap malam Jumat, di luar bulan puasa, kami selalu mengadakan pengajian. Pengajiannya kami adakan di ruangan salat," tutur Candra.

Interior Klenteng Pan Kho Bio (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Interior Klenteng Pan Kho Bio (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)

Selain itu, selama Ramadhan, di Kelenteng Pan Kho Bio selalu diadakan acara buka puasa bersama. Namun, untuk tahun ini, acara buka puasa bersama diganti dengan bagi-bagi takjil gratis kepada umat muslim yang berpuasa.

"Karena pertimbangan kami, jadinya tahun ini kami adakan bagi-bagi takjil saja. Mudah-mudahan tahun depan bisa mengadakan buka puasa bersama," tuturnya.

Suasana klenteng Pan Kho Bio, Pulo Geulis (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana klenteng Pan Kho Bio, Pulo Geulis (Foto: Ainul Qolbi/kumparan)

Sementara itu, saat perayaan Imlek atau Cap Go Meh, para pengurus kelenteng biasanya dibantu oleh warga sekitar yang mayoritas beragama Islam untuk mempersiapkan keperluan sembahyang.

"Lalu saat Imlek itu kan biasanya makanan banyak di dalam kelenteng. Jadi daripada mubazir, ya kami bagi-bagikan ke warga sekitar," ucap Candra.

"Warga kami juga ada yang open house, terus kami (pengurus kelenteng) panggil tuh tukang bubur, tukang soto sama tukang bakso. Kami gelar dan gratis bagi semua warga sekitar sini," pungkasnya.