Memahami Alasan Kemenag Ubah Kriteria Hilal Jadi 3 Derajat

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas melakukan pemantauan hilal di Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Jakarta, Selasa (11/5/2021). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melakukan pemantauan hilal di Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Jakarta, Selasa (11/5/2021). Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Tahun ini umat Islam di Indonesia berbeda dalam memulai Ramadhan. Pemerintah mengumumkan 1 Ramadhan pada 3 April 2022, sedangkan Muhammadiyah memulai pada 2 April 2022.

Perbedaan ini tak lepas dari metode yang dipakai dalam menentukan awal Ramadhan. Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomis dalam menentukan awal bulan Ramadhan.

Sementara pemerintah menggunakan metode manual melihat awal bulan dengan pemantauan di 101 titik se-Indonesia, yang disebut rukyatul hilal.

Sidang Isbat penetapan 1 Ramadhan 1443 H. Foto: Kemenag

Ada hal yang menuai sorotan dalam sidang isbat tahun ini. Yaitu adanya perubahan kriteria dalam menentukan masuknya bulan baru di atas ufuk yang dipedomani Kemenag.

Awalnya, Kemenag menggunakan kriteria minimal ketinggian hilal 2 derajat, kini menggunakan syarat ketinggian 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Kriteria merujuk pada kesepakatan Menteri Agama di Malaysia, Brunei, dan Singapura, Indonesia yang disebut dengan MABIMS.

Lalu, apa yang mendasar perubahan kriteria itu?

Prof. H. Thomas Djamaluddin, M.Si saat seminar Posisi Hilal Penentu Awal Ramadan 1443H/2022M. Foto: Youtube/@Bimas Islam TV

Tim Unifikasi Kalender Hijriah, Thomas Djamaluddin, mengatakan, kriteria MABIMS lama sudah berlaku selama 30 tahun sejak 1990. Kemudian para anggota MABIMS menilai perlu adanya perubahan kriteria karena secara global tidak ada kriteria 2 derajat. Alasannya, cahaya syafaq masih terlalu kuat.

Lalu, elongasi 3 derajat masih terlalu dekat dengan matahari. Begitu juga dengan umur bulan 8 jam dinilai masih terlalu muda.

"Nah, kriteria MABIMS itu dasarnya apa? Jadi tadi disebutkan kriteria itu mestinya menggambarkan kondisi fisis bulan dalam menghadapi cahaya syafaq, dari data global dari publikasinya di tahun 2006, itu disebutkan bahwa elongasi minimal 6,4 derajat," kata Thomas dalam paparannya di sidang isbat dikutip dari Youtube Bimas Islam Kemang, Rabu (6/4).

Selain itu, data analisis hisab selama 180 tahun untuk titik uji di Banda Aceh dan Pelabuhan Ratu itu menunjukkan dengan elongasi 6,4 derajat itu secara umum bulan setidaknya di Indonesia itu sudah di atas ufuk.

Seminar Posisi Hilal Penentu Awal Ramadan 1443H/2022M. Foto: Youtube/@Bimas Islam TV

"Jadi angka 6,4 ini bukan angka yang tidak berarti, tapi memiliki makna fisis. Kemudian ada yang bertanya kenapa angka 6,4 tidak dibulatkan saja menjadi 6 atau 7 derajat, nah ini untuk menjaga originalitas karena ini merujuk pada makalahnya ODED pada tahun 2006," tambah dia.

Lalu, ketinggian hilal 3 derajat juga didasari berbagai data global. Selain itu, hilal di bawah 3 derajat dinilai masih sangat tipis dan kalah dengan cahaya syafaq.

"Dari berbagai makalah pengamatan rukyat secara global antara lain Ilyas tahun 1988 kemudian dari makalah tahun 2001 yang bawah itu tidak menunjukkan adanya rukyat yang sahih yang tingginya di bawah 3 derajat. Oleh sebab itu diusulkan minimal 3 derajat," tutur Thomas.

"Alasan fisisnya apa? Di bawah 3 derajat itu cahaya syafaq masih cukup kuat, hingga tidak mungkin hilal yang tipis itu bisa mengalahkan cahaya yang kuat," imbuh dia.

Jadi alasan 3 derajat itu didasarkan pada faktor gangguan cahaya syafaq sedangkan elongasi 6,4 derajat didasarkan pada alasan fisis itu adalah batas terdekat dengan matahari yang memungkinkan hilal bisa dilihat. Jadi angka 3 dan 6,4 bukan ditentukan secara sembarang, tapi ada alasan fisisnya.

--Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kemenag, Thomas Djamaluddin

Seminar Posisi Hilal Penentu Awal Ramadan 1443H/2022M Foto: Youtube/@Bimas Islam TV

Data juga menunjukkan di bawah kriteria itu sangat sulit untuk melihat hilal. Bahkan, data di Madinah menunjukkan hilal tetap tidak yakin terlihat padahal sudah menggunakan teleskop.

"Buktinya ada, pada saat Ramadhan 1440 H yang lalu ada kesaksian hilal ini pada gambar yang kanan bawah, ini gambar dengan menggunakan teleskop dan kamera," kata dia sambil menunjuk gambar.

"Ini hilal tipis sekali, sudah diperbesar juga cuma goresan tipis. Barangkali yang melihat tidak meyakini itu hilal. Itu hilal cukup tinggi, tingginya sekitar 4 derajat, elongasinya sekitar 6 derajat, dan itu teramati di Madinah," ucap dia.