Mendagri Tito: Pejabat Publik Jangan Flexing, Gelar Acara Jangan Boros
·waktu baca 2 menit

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan para pejabat publik agar berhati-hati dalam bersikap dan menggunakan anggaran. Ia menekankan pejabat publik tidak perlu mempertontonkan kemewahan, karena hal itu hanya akan menimbulkan jarak dengan masyarakat.
“Tolong please, kita semua yang pertama jangan flexing, menampilkan kemewahan. Sudah lewat waktunya, nggak ada guna juga menunjukkan itu,” kata Tito di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Senin (22/9).
“Ibu-ibu, bapak-bapak sudah jadi pejabat, orang sudah pasti hormat. Tidak perlu lagi ditambah hormati dengan kemewahan,” sambung dia.
Selain menyinggung soal gaya hidup, Tito juga meminta agar acara pemerintah daerah tidak terkesan boros. Menurutnya, penggunaan anggaran untuk perayaan besar-besaran sebaiknya dialihkan ke program-program yang langsung menyentuh masyarakat kecil.
“Buat acara-acara jangan terlalu kelihatan pemborosan, kemewahan. Laksanakan sederhana, lebih banyak kegiatan-kegiatan yang menyentuh kepada masyarakat kecil,” ujar Tito.
“Santunan yatim piatu, membantu bedah rumah masyarakat yang tidak mampu, kemudian memberikan bantuan kepada pangan, sembako misalnya, gerakan pasar murah menyentuh rakyat-rakyat kecil,” lanjutnya.
Sebagai contoh, Tito menuturkan bagaimana ia mengarahkan perayaan ulang tahun Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) yang dipimpinnya pekan lalu agar sederhana.
Alih-alih mendatangkan artis dengan bayaran tinggi, acara digelar dengan tumpengan, pemberian santunan anak yatim, dan penyaluran bantuan langsung ke warga di kawasan kumuh.
“Kemarin juga minggu lalu ulang tahun Badan Perbatasan, saya ketuanya. Ya, saya bilang sudah buat aja acara di kantor tumpengan, yatim piatu kasih santunan,” jelas Tito.
“Setelah itu kita ke Tanah Tinggi, daerah kumuh yang saya bilang ada delapan, banyak sekali enggak punya rumah di sana dan memberikan bantuan berapa ribu. Daripada uang ini dipakai buat artis-artis,” lanjutnya.
Ia menambahkan, prioritas pemerintah daerah seharusnya adalah membantu rakyat kecil. Menurut Tito, dibanding mengeluarkan puluhan juta untuk acara hiburan, lebih baik anggaran tersebut digunakan untuk memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
“Maksudnya it’s not the time. Sudah lebih baik dipakai daripada mahal-mahal bayar ratusan, puluhan juta segala macam. Pakai aja buat membantu anak-anak di tempat-tempat kumuh seperti ini. Itu akan lebih menyentuh dan itu akan membuat ketentraman,” tuturnya.
