Mendes Sebut 29 Desa Hilang Imbas Banjir-Longsor Sumatera: Ada yang Jadi Sungai

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara kondisi Desa Kota Lintang pascabanjir bandang di Desa Kota Lintang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara kondisi Desa Kota Lintang pascabanjir bandang di Desa Kota Lintang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto menyebut, ada 29 desa di kabupaten dan kota di Aceh dan Sumatera Utara hilang akibat bencana banjir-longsor.

Ia menyebut, beberapa desa hilang, berubah menjadi sungai.

“Nah ini, desa-desanya ada yang menjadi sungai, Pak Ketua. Jadi banyak desa yang selama ini ada di sempadan sungai, ketika banjir, sungai pindah ke desa itu, Pak Ketua. Jadi desanya benar-benar hilang,” ucap Yandri dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Gedung DPR, Selasa (27/1).

“Tapi penduduknya, termasuk kepala desanya dan perangkat lainnya tetap ada, mengungsi, Pak Ketua. Jadi ini mungkin yang PR terberat di kami,” tambahnya.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pertemuan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (12/3/2025). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Yandri mengatakan, ada 21 desa di Aceh hilang. Selain menjadi sungai, ada desa yang tertimbun lumpur.

“Yaitu di Aceh ada 21 desa. Ini benar-benar hilang, Ketua. Ada yang tadi saya bilang ada jadi sungai, ada yang tertimbun lumpur, Pak Ketua. Jadi sudah... desanya sudah enggak ada,” ucap Yandri.

“Termasuk bangunannya dan sarana-prasarananya sudah enggak ada sama sekali,” tambahnya.

Lalu, ada delapan desa di Sumatera Barat yang hilang. “Di Sumut ada 8 desa. Kemudian di Provinsi Sumbar tidak terdapat desa yang hilang,” tutur Yandri.

Foto udara jembatan Kuta Blang yang putus akibat diterjang banjir di jalan lintas Nasional Banda Aceh - Sumut di Desa Blang Mee, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Sabtu (29/11/2025). Foto: Abiyyu/ANTARA FOTO

Yandri menyebut, ada beberapa langkah dari Kemendes PDT untuk menangani permasalahan ini. Salah satunya adalah koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait.

“Pertama, kami mengoordinasikan dengan Kementerian/Lembaga, itu sudah pasti. Karena kami tetap mengacu kepada Keppres Nomor 1 Tahun 2026 di mana Pak Mendagri sebagai Ketua Satgas,” ucap Yandri.

Lalu, mereka juga melakukan pemutakhiran data desa-desa yang hilang.

“Kemudian kedua, pemetaan dan pemutakhiran data desa-desa yang hilang, terus kami lakukan pemutakhiran data,” ucap Yandri.

Prajurit TNI melintasi gelondongan kayu yang sedang dibersihkan di pesantren Islam Terpadu Darul Mukhlishin, Desa Tanjung Karang, Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (21/12/2025). Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

Siapkan Lahan Relokasi

Kemendes PDT menyiapkan penyediaan lahan untuk desa hilang berpindah tempat.

“Kemudian penyusunan perencanaan dan sebagainya. Penyediaan lahan, tadi sudah disinggung juga oleh Pak Menteri PKP, karena kami di bawah koordinasi beliau, untuk memastikan bahwa kalau terjadi relokasi, desanya aman, Pak Ketua. Tidak lagi terancam banjir atau longsor, sehingga itu menjadi desa yang aman dari bencana banjir yang akan datang,” ucap Yandri.

Terakhir, Kemendes PDT akan melakukan rekonstruksi sarana dan prasarana dasar di desa-desa terdampak bencana hingga pemulihan ekonomi.

“Yang kelima, rekonstruksi sarana dan prasarana dasar. Ini ada rumah, tentu ada kelengkapannya sarana air bersih, sarana pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya,” ucap Yandri.

“Pemulihan ekonomi, ini penting di tingkat desa nanti. Ada desa tematik, UMKM, BUMDes, Kopdes, dan tentu ada pasar desa,” tandasnya.