Mendikdasmen Minta Sekolah Tak Hanya Banyak Pohon, tapi Juga Tak Boros Listrik

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan program Sekolah Adiwiyata tidak boleh lagi dimaknai sebatas sekolah yang memiliki banyak pohon atau penghijauan semata.

Hal itu disampaikan Mu’ti dalam kegiatan Sosialisasi Pembentukan Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) kepada pemerintah daerah mitra INOVASI Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (2/6).

Menurutnya, paradigma Sekolah Adiwiyata kini diarahkan pada pembentukan budaya hidup ramah lingkungan yang lebih menyeluruh, termasuk efisiensi energi dan pengelolaan limbah.

“Kami mengubah juga bahwa sekolah Adiwiyata itu tidak sekadar sekolah yang banyak pohon,” kata Mu’ti.

Ia menilai pendekatan lama terhadap Adiwiyata terlalu berfokus pada simbol fisik penghijauan tanpa membangun kesadaran lingkungan secara utuh di sekolah.

“Paradigma lamanya kan begitu, banyak pohon, tanam ini, tanam itu,” ujarnya.

Karena itu, Kemendikdasmen kini mendorong sekolah Adiwiyata juga harus berkomitmen terhadap efisiensi energi dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

“Karena itu, aspek dalam sekolah Adiwiyata itu harus ada aspek yang terkait dengan komitmen kita bahwa Adiwiyata itu tidak sekadar banyak pohon tapi boros listrik, tidak sekadar banyak pohon tapi pembuangan limbahnya tidak bersih. Dan ini juga sejalan dengan program kami juga, Sekolah Sehat, yang kami kerjasamakan dengan Kementerian Kesehatan,” lanjutnya.

Mu’ti mengatakan pemerintah juga mengembangkan konsep pengelolaan sampah dari sebelumnya 3R menjadi 4R.

Jika sebelumnya sekolah hanya didorong menerapkan reduce, reuse, dan recycle, kini Kemendikdasmen menambahkan konsep reproduce dalam pengelolaan lingkungan sekolah.

Ia menegaskan lingkungan fisik sekolah harus mendukung kenyamanan belajar murid, mulai dari kebersihan, keasrian, hingga kualitas interaksi sosial di sekolah.

“Sekolah itu menjadi rumah ketika masuk itu sudah lingkungannya asri,” kata Mu’ti.