Menelisik Klitih, Kekerasan Remaja yang Nodai Kenyamanan Yogya

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tugu Yogyakarta (Foto: Wikimedia)
zoom-in-whitePerbesar
Tugu Yogyakarta (Foto: Wikimedia)

Kata klitih untuk menggambarkan aksi kekerasan di kalangan pelajar dan remaja mulai ramai digunakan sekitar tahun 2014. Sekitar bulan Oktober tahun itu masyarakat Yogyakarta digemparkan dengan pesan berantai melalui aplikasi BBM terkait klitih.

Santer terdengar teror geng remaja bernama Raden Kian Santang (RKS) yang mengancam mencari sasaran kekerasan di jalanan atau klitih. Yang menjadi kekhawatiran lebih karena korban diisukan dipilih secara acak.

Pesan berantai yang itu berisikan:

"Hati-hati sudah mulai memanas situasi di Yogyakarta saat ini! Mungkin kalian sudah pernah mendengar nama salah satu organisasi Raden Kian Santang (RKS) sebelumnya? Yaitu sekumpulan grup pemuda dari luar kota yang mencoba merusak/menghancurkan generasi anak muda kalangan SMP dan SMA dan merekrut remaja yang sedang mencari jati diri. Organisasi ini diketuai oleh salah seorang pria dewasa yang berpengauh dan mempunyai ilmu hitam/kekebalan tubuh. Organisasi ini sudah tersebar dan merajalela di area Yogyakarta tepatnya di daerah sleman barat dan utara. Beberapa kasus terjadi di daerah Jl Godean dan sering tindakan penganiayaan menggunakan senjata tajam pada saat malam hari yang situasi jalaan saat sepi/lengang. Jadi saran dari kepolisian setempat agar lebih berhati-hati jika keluar malam saat ini. Lebih waspada dan jaga diri disetiap situasi karena anggota dari RKS ini tidak pandang bulu serta tidak memilih target untuk dianiaya."

Plt Kabid Humas Polda DIY Kompol Sumarsih kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (15/3), menyatakan saat itu pihaknya telah membantah teror tersebut dan meminta masyarakat tidak panik.

"Dimulainya kata klitih yang condong kepada kekerasan saat munculnya nama-nama kelompok itu," ungkap dia.

Baca juga: Klitih dan Status Jagoan Remaja di Yogyakarta

Dari pengamatan pihak kepolisian aksi klitih kebanyakan terjadi saat malam menjelang libur sekolah. Para pelaku yang rata-rata berstatus pelajar menggunakan kesempatan itu untuk berjalan-jalan dan mencari sasaran.

"Maka itu lokasinya banyak yang tidak terduga juga," tambah Sumarsih.

Baca juga: Hukuman untuk Pelaku 'Klitih' di Yogyakarta

Pada tahun 2016 ketika Polda DIY merilis rangkuman kejadian tindak kriminal selama setahun. Klitih menjadi salah satu poin yang menjadi perhatian. Selama tahun 2016 kepolisian di Yogyakarta mencatat ada 43 kasus klitih.

Sedangkan kasus klitih terbaru yang mengakibatkan Ilham pelajar SMP 1 Piri Yogyakarta terjadi pada Minggu (12/3) dini hari di Jalan Kenari, Yogyakarta. 7 dari 9 orang pelaku kini telah ditangkap petugas Polresta Yogyakarta.