Mengenal Delta Force: 'Hantu' Militer AS di Balik Penangkapan Nicolas Maduro

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Delta Force. Foto: AFP/LIU JIN
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Delta Force. Foto: AFP/LIU JIN

Nama Pasukan Delta Force kembali mengemuka di panggung internasional setelah sejumlah laporan intelijen menyebut unit elite Amerika Serikat itu berperan penting dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal tahun 2026.

Meski pemerintah AS tidak pernah secara terbuka mengakui detail operasi tersebut, keterlibatan Delta Force menggarisbawahi posisi unit ini sebagai ujung tombak Amerika dalam misi paling sensitif dan berisiko tinggi di dunia.

Unit yang Lahir dari Kegagalan

Delta Force dibentuk pada 1977, lahir dari refleksi militer Amerika Serikat atas kegagalan berulang dalam operasi kontra terorisme dan penyelamatan sandera.

Inisiatif pendiriannya dipimpin Kolonel Charles Beckwith, perwira Angkatan Darat AS yang pernah bertugas bersama pasukan elite Inggris, Special Air Service (SAS). Pengalaman itu membentuk visinya tentang unit kecil, fleksibel, dan mampu bertindak cepat dalam situasi ekstrem.

Pembentukan Delta Force semakin relevan setelah tragedi Operation Eagle Claw pada 1980, misi gagal penyelamatan sandera AS di Iran yang menewaskan delapan tentara Amerika.

Kegagalan tersebut memperkuat keyakinan bahwa Amerika membutuhkan satuan khusus yang benar-benar disiapkan untuk operasi rahasia lintas negara dengan tingkat presisi tertinggi.

Struktur dan Posisi dalam Militer AS

Secara resmi, Delta Force bernama 1st Special Forces Operational Detachment–Delta (1st SFOD-D). Unit ini berada di bawah Angkatan Darat AS, namun operasionalnya dikendalikan langsung oleh Joint Special Operations Command (JSOC), struktur komando yang hanya menangani misi kelas satu. Basis utamanya berada di Fort Bragg, North Carolina, meski personelnya sering berpindah tanpa jejak administratif yang mudah dilacak.

Delta Force dijuluki "Pasukan Hantu" atau "Siluman" karena mencerminkan operasi rahasia mereka yang sering kali tidak disebut dengan namanya sendiri. Dalam dokumen dan komunikasi resmi, unit ini kerap menggunakan nama samaran seperti Combat Applications Group atau Army Compartmented Element.

Hal ini bertujuan menjaga kerahasiaan serta memberi ruang bagi pemerintah AS untuk melakukan plausible deniability bila operasi mereka menimbulkan implikasi politik internasional.

Rekrutmen yang Sangat Selektif dan Ketat

Ilustrasi Delta Force. Foto: AFP/LIU JIN

Tidak ada pendaftaran terbuka untuk Delta Force. Para operatornya direkrut dari prajurit terbaik Angkatan Darat AS, terutama dari Ranger Regiment dan Green Berets.

Seleksinya berlangsung brutal, menguji ketahanan fisik, kecerdasan taktis, ketenangan psikologis, dan kemampuan bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Mereka yang lolos kemudian menjalani pelatihan lanjutan yang dirancang untuk menciptakan prajurit yang mampu bertindak mandiri tanpa komando langsung dalam situasi genting.

Dalam banyak kasus, operator Delta Force dilatih untuk membuat keputusan strategis sendiri di lapangan, bahkan ketika komunikasi dengan pusat komando terputus.

Spesialis Operasi Target Bernilai Tinggi

Delta Force dikenal sebagai unit spesialis dalam operasi penangkapan atau eliminasi target bernilai tinggi. Fokus utama mereka bukan pada pertempuran terbuka, melainkan operasi singkat, senyap, dan presisi tinggi. Infiltrasi, close quarters combat, penguasaan bangunan, serta ekstraksi cepat menjadi keahlian utama unit ini.

Dalam praktiknya, Delta Force sering bekerja berdampingan dengan CIA, terutama dalam operasi yang membutuhkan intelijen manusia dan perencanaan jangka panjang. Sinergi ini menjadikan Delta Force bukan sekadar pasukan tempur, melainkan alat geopolitik Amerika Serikat.

Operasi-Operasi Delta Force yang Mengubah Sejarah

Meski sebagian besar misi Delta Force tetap dirahasiakan, sejumlah operasi besar akhirnya terungkap ke publik. Unit ini terlibat dalam pertempuran di Mogadishu pada 1993 yang kemudian dikenal lewat insiden Black Hawk Down.

Pada dekade berikutnya, Delta Force menjadi bagian penting dalam perang melawan Al-Qaeda dan ISIS, termasuk operasi pemburuan Abu Bakr al-Baghdadi pada 2019.

Dalam setiap operasi tersebut, pola yang sama terlihat, yaitu perencanaan panjang, simulasi berulang, dan eksekusi cepat dengan tingkat kesalahan mendekati nol. Model operasi inilah yang kemudian diterapkan kembali dalam kasus Venezuela.

Operasi Penangkapan Nicolas Maduro

Postingan Media Sosial Truth milik Presiden Donald Trump, yang menampilkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro ditahan pasukan AS di Kapal Serang Amfibi USS Iwo Jima, usai ditangkap Sabtu (3/1) Foto: Donald Trump Truth via Reuters

Penangkapan Presiden Nicolas Maduro menandai babak baru dalam sejarah operasi khusus Amerika Serikat. Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, operasi ini melibatkan latihan intensif berbulan-bulan, termasuk pembangunan replika lokasi target untuk simulasi penyerbuan.

Delta Force disebut menjadi elemen utama dalam fase direct action, sementara CIA memainkan peran dalam pengumpulan intelijen dan pemetaan jaringan pengamanan Maduro.

Operasi tersebut dijalankan dengan kecepatan tinggi untuk meminimalkan potensi perlawanan dan korban sipil.

Maduro dilaporkan ditangkap hidup-hidup dan segera dibawa keluar wilayah Venezuela dalam hitungan jam. Hingga kini, pemerintah AS tetap menutup rapat detail teknis operasi tersebut, namun keterlibatan Delta Force secara luas diyakini oleh kalangan pertahanan dan intelijen global.