Mengenang Kim Jong Nam, Kakak Kim Jong Un yang Kapitalis

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Kim Jong Nam (Foto: Reuters/Eriko Sugita)
zoom-in-whitePerbesar
Kim Jong Nam (Foto: Reuters/Eriko Sugita)

Ketika presiden kedua Korea Utara Kim Jong Il meninggal pada 2011, seluruh rakyat Korea Utara tak hentinya menangis. Pemerintah Korea Utara mengeluarkan semua sumber daya untuk memuliakan pemimpin besar mereka. Di tengah tangis yang pecah di Pyongyang, upacara pemakaman "The Great Leader" itu digelar megah.

Kematian Jong Il lain dengan kematian putranya Kim Jong Nam. Senin (13/2), Jong Nam tewas setelah diracun di bandara internasional Kuala Lumpur oleh dua perempuan yang diduga agen Korea Utara.

Jong Nam adalah putra pertama dari salah satu dari tiga istri Kim Jong Il bernama Song Hye Rim. Sehingga Jong Nam merupakan saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Kim Jong Il (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Kim Jong Il (Foto: Wikimedia Commons)

Menilik kisah transisi kepemimpinan Korea Utara, seharusnya berlanjut ke Jong Nam bukan Jong Un. Muncul pertama kali tahun 1998, Jong Nam digadang sebagai putra mahkota Pyongyang.

Namun hati Jong Nam merasa enggan menjadi pemimpin negara komunis tersebut. Di samping itu, sikapnya terlalu urakan dan membuat sang ayah berang. Jong Nam sering melancong ke luar Korea Utara, dan pelesirannya selalu diisi oleh tingkah memalukan.

Pada tahun 2001, Jong Nam tertangkap di bandara Narita Tokyo dengan paspor palsu Republik Dominika. Jong Nam nekad masuk dengan dokumen ilegal karena sangat ingin mengunjungi Disneyland di Tokyo bersama putranya yang berusia 4 tahun.

Tingkah Jong Nam benar-benar membuat sang ayah berang.

Kim Jong Nam. (Foto: Reuters/KCNA)
zoom-in-whitePerbesar
Kim Jong Nam. (Foto: Reuters/KCNA)

Saudara sedarah tidak menjamin memiliki isi kepala yang sama. Hobinya melancong dan bermewah-mewah berseberangan pendapat dengan beberapa orang komunis di Korut. Ketakutan akan perbedaan pandangan muncul setelah Jong Nam menyelesaikan pendidikannya di Swiss. Sang ayah takut pendidikan Barat telah 'mengubahnya menjadi seorang kapitalis’.

Kalimat tersebut mengindikasikan Jong Il akan memilih anaknya yang lain. Beberapa tindakan ditempuh untuk menyingkirkan Jong Nam. Terlebih setelah Ko Yong Hui dinobatkan sebagai ‘The Most Faithful and Loyal’, untuk menyingkirkan ibu Jong Nam. Ibu Jong Nam kemudian keluar menuju Rusia.

Lunturnya pamor Jong Nam meningkatkan reputasi adiknya Jong Un.

Pada 2012 Jong Nam kembali berulah ketika mengunjungi Makau untuk berlibur. Di Las Vegas-nya Asia tersebut, dia menghambur-hamburkan uang.

Di tahun 2012 juga, buku berjudul My Father, Kim Jong Il, and Me diluncurkan oleh seorang jurnalis Jepang sebagai kumpulan cerita hidup Jong Nam. Dalam buku tersebut, terdapat pernyataan kontroversial Jong Nam bahwa "pemerintah Korea Utara di bawah Jong Il telah gagal".

Ketika dia keluar dari Korea Utara, beberapa kali rencana pembunuhan terhadap dirinya dilakukan. Namun operasi tersebut selalu urung terlaksana.

Akhirnya kepemimpinan jatuh kepada adiknya Jong Un. Dan Jong Nam menetap tidak berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Hingga akhirnya tewas diracun di Kuala Lumpur, Malaysia. Kisah kepergian Jong Nam kontras dibandingkan kematian sang ayah. Jong Nam mati di tangan orang-orang sebangsanya.