Mengenang Dawam Rahardjo: Santri, Pendidik dan Ekonom Islam

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dawam Rahardjo (Foto: fadhlilawang.com)
zoom-in-whitePerbesar
Dawam Rahardjo (Foto: fadhlilawang.com)

"Aku mengecup kedua mata istriku yang terakhir kalinya ketika jenazahnya hendak digotong ke masjid sebelah, hendak disalatkan. Bulu matanya terasa di bibirku, seolah ia masih hidup."

Itulah kalimat terakhir dalam cerpen 'Wirid' yang ditulis oleh Dawam Rahardjo pada 10 Oktober 1994. Cerpen itu rampung, hanya beberapa hari setelah istrinya, Zainun Hawairiah, wafat.

24 tahun kemudian, hari ini, Selasa (30/5), Dawam pergi menyusul kekasihnya menghadap Sang Pencipta.

Dari sebuah keluarga santri, di Kampung Baluwati, Solo, Dawam dilahirkan pada 20 April 1942 silam. Ayahnya, Zudhi Rahardjo, dikenal sebagai ahli tafsir Al-quran. Lewat didikan ayahnya pula, kecintaan Dawam terhadap Islam tumbuh.

Meski pernah menjadi santri di Krapyak, Yogyakarta, bukan berarti Dawam hanya terfokus pada ilmu agama saja. Tak tanggung-tanggung, di usia 18 tahun ia dikirim ke Idaho, Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan di Bora High School.

Dawam Rahardjo (Foto: Komunitas Salihara/Flickr)
zoom-in-whitePerbesar
Dawam Rahardjo (Foto: Komunitas Salihara/Flickr)

Tuntas mengenyam pendidikan di Idaho, Dawam lalu menekuni ilmu ekonomi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan mengambil jurusan Moneter. Saat itulah, bakatnya sebagai penulis terasah.

Toga kelulusan ia kenakan di tahun 1969 dengan penuh kebanggaan. Dawam muda lalu memulai kariernya di Bank of America sebelum akhirnya bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES).

Berkat kecerdasannya, kariernya pun meroket hingga akhirnya menjabat sebagai direktur pada periode 1980-1988. Tak heran, sebab kontribusinya di LP3ES cukup gemuk.

Dawam Rahardjo (Foto: Setetes Embun/Flickr)
zoom-in-whitePerbesar
Dawam Rahardjo (Foto: Setetes Embun/Flickr)

Bahkan, ia sempat menggaungkan LP3ES di kancah internasional dengan menggalang gerakan advokasi internasional untuk melawan rezim otoriter yang saat itu menguasai Asia Tenggara di Eropa, Asia Tenggara, dan Asia Timur.

Pensiun, Dawam justru semakin sibuk. Berbekal ilmu yang ia asal bertahun-tahun, Dawam pun menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi di Universitas Asyafi'iyah, Jakarta.

Kiprahnya di dunia pendidikan semakin nyata, setelah ia menjabat sebagai rektor di UNISMA, Bekasi pada tahun 1996 hingga 2004. Saat itu, ia juga ditunjuk untuk mengepalai tim penasihat khusus untuk Presiden B.J Habibie pada tahun 1999.

Baru, tahun 2013 Dawam kembali menjabat sebagai rektor di UNISMA. Baru pada 2017 lalu, masa baktinya selesai.

Dawam Rahardjo (Foto: JimlyAs/Twitter)
zoom-in-whitePerbesar
Dawam Rahardjo (Foto: JimlyAs/Twitter)

Di akhir tahun, kesehatan Dawam memburuk. Pada November 2017, Dawam dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Sebab, penyakit diabetes, jantung, dan stroke yang ia derita semakin menggerogoti tubuhnya.

Berbulan-bulan Dawam dirawat. Meski bosan, ia tetap semangat.

Namun, apa daya, Tuhan berkehendak lain. Tokoh yang cukup banyak menuangkan pemikirannya soal ekonomi, sosial, dan politik ke dalam buku ini harus tunduk pada takdir.

Dawam meninggal dunia, di usia 76 tahun. Dari Rumah Sakit Islam, Jakarta, tempat ia dirawat, jenazah Dawam dibawa ke rumah duka di Kompleks Billymoon, Duren Sawit, Jakarta Timur, untuk disemayamkan.

Meski secara fisik Dawam telah tiada, namun pemikirannya akan tetap ada. Gagasan Dawam tentang ekonomi Islam, bisa tetap dinikmati dalam buku-bukunya.

Selamat jalan, Dawam Rahardjo. Terima kasih atas kontribusimu kepada bangsa Indonesia selama ini.