Mengingat Lagi Gempa Dahsyat dan Tsunami di Padang pada 9 Maret 1861

9 Maret 1861, gempa kuat berkekuatan 7,0 magnitudo mengguncang barat Sumatera. Gempa dirasakan di Pulau Batu, Nias, Sibolga, Natal, Air Bangis, Pariaman, dan Padang.
Dalam penjelasannya, Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono menjelaskan, gempa itu juga berimbas tsunami.
"Tidak berselang lama setelah guncangan gempa berakhir, muncul terjangan tsunami di Pulau Simuk, Pulau Batu, dan sebagian Pantai Barat Sumatra," beber Daryono, Selasa (9/3).
Tsunami mampu mengangkat bongkahan batu karang berukuran besar ke daratan sejauh 30-60 meter (Perrey, 1864 a, 1865 a; Wichmann, 1922; Heck, 1934, 1947). Heck (1947) melaporkan bahwa tsunami juga menerjang pesisir barat Kota Padang yang menelan korban jiwa beberapa orang.
--Daryono
Tsunami Pulau Simuk
Daryono menjelaskan, di Pulau Simuk, tsunami dahsyat ini melanda daratan sejauh 300 meter dengan cepat, hingga sebagian besar penduduk tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Peristiwa tsunami ini berlangsung sekitar satu jam.
"Sebelum terjadi bencana tsunami, di Pulau Simuk terdapat sebanyak 120 rumah dan sekitar 1.000 orang pemukim yang tinggal di pulau tersebut," urai dia.
Bencana, lanjut Daryono, menyebabkan sebanyak 96 bangunan rumah rusak akibat gempa dan tsunami menyebabkan hampir 3/4 dari penduduknya meninggal menjadi korban tsunami.
"Pantai barat dan barat laut Pulau Tello juga mengalami kerusakan parah. Di Kepulauan Babanirege dan Lakao banyak warga meninggal akibat tenggelam diterjang tsunami," urai dia.
Daryono menuturkan, kisah seorang penduduk yang selamat di Pulau Babanirege menyebutkan, gelombang besar tsunami menyapu para penduduk yang sedang menyelamatkan diri.
"Penduduk yang lain melarikan diri ke hutan, mengandalkan pepohonan hutan untuk perlindungan. Dua gelombang besar tsunami menerjang hingga lokasi warga berlindung di hutan," tutur Daryono.
