Menkes: Pasien Corona Isoman Acap Dianggap Ternoda, Makin Banyak yang Meninggal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan sambutan saat menerima bantuan 500 ton oksigen dari Indonesia Morowali Industrial Park Sulawesi Tengah. Foto: Nick Hano/VOXPP
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan sambutan saat menerima bantuan 500 ton oksigen dari Indonesia Morowali Industrial Park Sulawesi Tengah. Foto: Nick Hano/VOXPP

Kematian karena COVID-19 masih terus terjadi, bahkan sampai saat ini angkanya masih di atas 1.000an per hari. Ditambah dengan kasus kematian para pasien yang isolasi mandiri (isoman) di rumahnya masing-masing.

“Kasus pasien COVID meninggal saat isoman makin banyak. Saya sedih, saya dapat banyak masukan isoman meninggal,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin saat konpers virtual, Senin (26/7).

Menurutnya, banyak penyebabnya, bukan hanya karena tidak diterima di rumah sakit, tetapi karena masih banyak di daerah lain yang menganggap orang yang covid adalah orang yang tidak baik perilakunya.

embed from external kumparan

“Penyebabnya banyak, bukan hanya enggak diterima di RS, tapi rupanya kalau orang sakit di banyak daerah masih dilihat sebagai orang ternoda, terhukum, orang yang tidak baik perilakunya,” jelasnya.

“Jadi kasihan orang-orang ini. gak mau dites, lapor, karena ada beban sosialnya,” tambahnya.

Budi menerangkan bahwa sakit karena COVID-19 bukanlah aib dan mesti dibantu agar tidak menyebabkan para pasien COVID-19 meninggal dunia.

“Oleh karena itu sakit covid bukan sakit aib. Justru kalau sakit harus dibantu. nanti justru gak mau lapor, terlambat masuk RS, dan itu kematian paling tinggi,” ucapnya.

Ia mengimbau untuk masyarakat apabila ada orang sekitar yang sakit segera lapor agar dapat di test dan treatment untuk mengetahui sesuai level derajatnya.

“Kalau ada yang sakit segera dilaporkan agar bisa dites cepat level derajat keparahannya seperti apa dan di treatment sesuai level derajat keparahannya,” pungkasnya.