Menlu Maroko Tamu Pertama Retno Marsudi Setelah Kembali Jadi Menteri

28 Oktober 2019 14:35 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Retno Marsudi (kanan) sambut Menlu Maroko di Kementerian Luar Negeri, Senin (28/10/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Retno Marsudi (kanan) sambut Menlu Maroko di Kementerian Luar Negeri, Senin (28/10/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi bertemu dengan Menlu Maroko Nasser Bourita, pada Senin (28/10). Bourita jadi Menlu asing pertama yang bertemu Retno setelah dilantik.
ADVERTISEMENT
Retno Marsudi pada Rabu (23/10) kembali dilantik menjadi Menlu untuk periode kedua. Jabatan tersebut, sebelumnya telah disandang Retno selama lima tahun.
Pertemuan kedua diplomat tersebut dilangsungkan di Gedung Pancasila, kompleks Kementerian Luar Negeri.
Menlu Retno Marsudi (kanan) berbincang dengan Menlu Maroko Nasser Bouritas, saat melakukan pertemuan Bilateral, di kantor Kemenlu, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
“Siang ini saya menerima sahabat saya, Menlu Bourita. Ini kunjungan menteri pertama setelah Kabinet Indonesia Maju dibentuk,” ujar Retno di Gedung Pancasila, Kemlu RI, Jakarta Pusat, Senin (28/10).
Saat bertemu Bourita, Retno membahas beberapa hal seperti rencana perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Maroko hingga negosiasi Perjanjian Perdagangan Prefensial (PTA).
“Penting untuk segera dilakukan negoisasi PTA antara kedua negara. Dan kita harapkan negosiasi tersebut dapat dimulai sebelum akhir tahun ini. Dengan PTA tersebut, hambatan tarif perdagangan dapat dihilangkan,” kata Retno.
Menlu Retno Marsudi (kanan) menyaksikan Menlu Maroko Nasser Bouritas mengisi buku tamu saat akan melakukan pertemuan Bilateral, di kantor Kemenlu, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Di samping itu, keduanya juga membahas isu-isu internasional, khususnya situasi di Palestina dan Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
“Saya tegaskan, Indonesia ingin Timteng menjadi kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera. Tidak akan ada perdamaian dunia jika tidak ada perdamaian di Timteng,” tutur Retno.
“Indonesia mengharapkan semua pihak ikut berkontribusi menciptakan perdamaian melalui dialog. Indonesia mendorong semua pihak untuk dialog dan mendukung proses yang diprakarsai PBB untuk solusi damai,” tutup Retno.