Menlu Retno Bahas 2 Isu di Pertemuan Asia Society: COVID-19 dan Perdamaian Dunia

22 September 2021 8:22 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Press Briefing Menlu RI dari New York, AS, 22 September 2021. Foto:  YouTube/MoFA Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Press Briefing Menlu RI dari New York, AS, 22 September 2021. Foto: YouTube/MoFA Indonesia
ADVERTISEMENT
Menlu Retno Marsudi melakukan beberapa pertemuan dalam rangka kunjungannya pada sidang majelis umum PBB ke-76 di New York, Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Retno sempat melakukan pertemuan dengan Asia Society secara virtual hari ini, Rabu (22/9).
Dalam pertemuan itu, Retno menyampaikan 2 isu penting yakni upaya global dalam mengatasi pandemi COVID-19 dan upaya RI dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Terkait dengan isu COVID-19, Retno mengatakan perlu adanya kerja sama untuk mengatasi pandemi COVID-19. Salah satunya yaitu mencegah kesenjangan terkait akses vaksin hingga politisasi vaksin.
“Saya kembali menekankan mengenai pentingnya mempersempit kesenjangan akses terhadap vaksin dan menghindari diskriminasi dan politisasi vaksin,” ujar Retno dalam keterangan persnya, Rabu (22/9).
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN-AS secara virtual, Rabu (14/7). Foto: Kemlu RI
Sedangkan isu kedua, Retno menjelaskan pentingnya menjaga perdamaian dunia agar terciptanya kerja sama dalam mengatasi berbagai permasalahan selama pandemi COVID-19.
“Saya menyampaikan antara lain bahwa jangan sampai pandemi menjadikan perhatian kita menjauh dari upaya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
“Perdamaian dan stabilitas justru merupakan enabler bagi terciptanya kerja sama yang baik untuk mengatasi COVID-19 dan kerja sama dalam konteks pemulihan ekonomi,” tambah dia.
Retno menjabarkan, persatuan dan sentralitas ASEAN sangat penting untuk terus dijaga. Sehingga ASEAN dapat terus memberikan kontribusi menjaga perdamaian dan stabilitas Asia Tenggara.
"Saya juga menjelaskan mengenai upaya ASEAN untuk membantu mengatasi krisis di Myanmar dan peran yang dimainkan Indonesia dalam mengajak negara anggota ASEAN agar implementasi Five Point of Consensus dapat terus dijalankan, karena ini merupakan mandat yang jelas yang diberikan para pemimpin ASEAN di dalam pertemuan di Jakarta pada April yang lalu," ungkap Retno.
"Kita harus akui Implementasi Five Point of Consensus mengalami kelambatan, namun Indonesia akan terus berusaha agar terdapat kemajuan-kemajuan," lanjut dia.
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN-AS secara virtual, Rabu (14/7). Foto: Kemlu RI
Sedangkan dalam konteks yang lebih luas di luar Asia Tenggara, Retno mengatakan, Indonesia melihat dan mengkhawatirkan meningkatnya tensi di antara negara-negara besar.
ADVERTISEMENT
Bahkan Sekjen PBB Antonio Guterres telah mengingatkan kemungkinan terjadinya perang dingin.
"Dalam kaitan ini, saya singgung mengenai AUKUS dan keputusan Australia bagi pengadaan kapal selam bertenaga nuklir. Kita menerima penjelasan Australia, kita mendengarkan komitmen-komitmen yang diberikan Australia termasuk untuk terus menghormati NPT, prinsip-prinsip non-proliferasi dan hukum internasional," kata Retno.
Lebih lanjut, dalam pertemuan Asia Society, Retno mengatakan Indonesia tidak ingin ada perlombaan senjata dan power projection di kawasan. Sebab, hal itu akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan.
Terakhir, Retno juga sedikit membahas perkembangan di Afghanistan. Sejak awal, Indonesia merupakan salah satu negara yang mendukung perdamaian di Afghanistan.
"Kita memfokuskan pada dua isu utama yang sering saya sebut sebagai building blocks, yaitu kerja sama ulama dan pemajuan perempuan. Saya tekankan, kepentingan Indonesia hanya satu, yaitu ingin melihat rakyat Afghanistan menikmati perdamaian, sejahtera, dan hak-haknya, tentunya termasuk hak-hak perempuan," tutup Retno.
ADVERTISEMENT