Menlu Sudan Belum Gubris Ajakan Telepon Retno Bahas Perlindungan WNI saat Perang
·waktu baca 2 menit

Menlu Retno Marsudi mencoba menghubungi Menlu Sudan demi membahas perlindungan WNI di tengah perang di negara Afrika itu. Namun, permintaan Retno belum direspons.
Keterangan itu disampaikan Retno dalam konferensi pers virtual Kamis (20/4). Meski belum mendapat respons, Retno memerintahkan salah seorang pejabat tinggi Kemlu untuk menghubungi Kedubes Sudan di Jakarta.
"Saya juga telah mengirim pesan ke Menlu Sudan untuk meminta pembicaraan per telepon. Namun sampai saat ini belum ditanggapi," kata Retno.
"Dirjen Aspasaf (Asia, Pasifik, Afrika) Kemlu RI telah melakukan kontak dengan Dubes Sudan di Jakarta yang mengirimkan pesan yang sama bahwa Menlu ingin bicara dengan Menlu Sudan dan Indonesia meminta pelindungan terhadap misi diplomatik dan juga keselamatan WNI kita yang ada di Sudan," sambung dia.
Perlindungan WNI di Sudan, kata Retno, menjadi hal paling mendesak. Sebab, pertempuran di Sudan semakin memburuk. Bahkan, beberapa gedung perwakilan RI terimbas langsung peperangan.
"Beberapa kali Wisma Indonesia dan KBRI juga terimbas oleh terus berlangsungnya pertempuran. Alhamdulillah, semua WNI dan staf KBRI dalam keadaan selamat," kata Retno.
"Perkembangan ini menimbulkan keprihatinan yang sangat dalam dan kewaspadaan yang sangat tinggi. KBRI Khartoum terus melakukan komunikasi dan permintaan pelindungan WNI kepada Kementerian Luar Negeri Sudan," jelas Retno.
Retno memastikan, kendati respons belum diterima Pemerintah RI siap melakukan evakuasi WNI pulang ke Indonesia. Dari catatan Kemlu terdapat 1209 WNI masih berada di Sudan.
"Persiapan evakuasi terus dimatangkan sambil menunggu saat tepat untuk dapat melakukan evakuasi dengan terus mempertimbangkan keselamatan WNI," tegas dia.
Pertempuran antara militer negara Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) sejak pekan lalu belum menemui titik damai — bahkan upaya gencatan senjata sudah dua kali dilakukan, tetapi masih gagal.
Sampai Kamis (20/4) sebanyak 270 warga sipil kehilangan nyawa akibat perang. Jumlah korban jiwa akan meroket jika ditambahkan dengan yang tewas dari militer dan paramiliter.
