Menpora: Malaysia Harusnya Minta Maaf Resmi, Bukan Lewat Twitter

Menpora Malaysia Syed Saddiq telah meminta maaf atas insiden penyerangan suporter Indonesia melalui akun Twitter. Merespons hal ini, Menpora Zainudin Amali menilai seharusnya permintaan maaf tak hanya dilayangkan melalui media sosial tapi melalui surat resmi.
Zainudin mengatakan, Kemenpora RI sudah mengirim surat resmi sebagai bentuk protes atas insiden penyerangan tersebut.
"Isinya ada dua poin. Pertama, meminta supaya Pemerintah Malaysia melalui kementerian pemuda dan olahraga di sana mengusut tuntas insiden ini dan melakukan penegakan hukum secara transparan," ujar Zainudin kepada kumparan, Minggu (24/11).
Poin kedua, lanjut Zainudin, pemerintah Indonesia meminta agar pemerintah Malaysia meminta maaf secara resmi soal penyerangan suporter. Apalagi, saat kejadian hampir serupa terjadi di GBK beberapa waktu lalu, Menpora saat itu, Imam Nahrawi langsung menyambangi Syed Saddiq di hotelnya menginap di Jakarta dan meminta maaf.
Setelah kejadian penyerangan yang sama terjadi pada suporter Indonesia, Zainudin heran permintaan maaf hanya dilayangkan lewat Twitter.
"Sebaiknya, secara etika diplomatik, permintaan maaf harus melalui surat resmi. Apalagi kami mengirim protes kan lewat surat resmi, harusnya direspons juga lewat surat resmi. Ini hanya sekadar nge-tweet saja," jelas Zainudin.
"Ini official kita sampaikan agar meminta maaf, harusnya dijawab official juga," lanjut dia.
Menurut Zainudin, Malaysia harusnya menjaga etika diplomatik. Apalagi Indonesia dan Malaysia adalah negara tetangga.
Jika pemerintah Malaysia tak kunjung meminta maaf, Kemenpora akan menyerahkan tindak lanjut masalah ini ke Kementerian Luar Negeri. "Karena kalau tak kunjung minta maaf ini kan sudah masuk area-nya Kemenlu," tutur Zainudin.
Permintaan maaf disampaikan Syed Saddiq pada Sabtu (23/11) melalui akun Twitternya dalam sebuah video.
"Saya penuh rasa rendah diri, saya ingin memohon maaf kepada rekan-rekan serumpun di Indonesia, saya memohon maaf karena tragedi yang berlaku (terjadi -red) beberapa hari lepas," jelas Syed Saddiq dalam sebuah video yang diunggah di akun Twitternya @SyedSaddiq, Sabtu (23/11).
Syed Saddiq menjelaskan kasus penyerangan suporter Indonesia tidak terjadi saat pertandingan sepak bola antara Timnas Indonesia dan Malaysia di Stadion Bukit Jalil pada Selasa (19/11) malam. Tapi terjadi 20 kilometer dari Stadion Bukit Jalil pada dini hari.
Pada Jumat (22/11), Syed Saddiq mengungkapkan kasus penyerangan suporter Indonesia adalah hoaks. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan pihak polisi Malaysia dan KBRI Kuala Lumpur.
