Menyoal Perlakuan Polresta Surakarta pada Pria Slawi yang Komentari Gibran

17 Maret 2021 6:04
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Arkham Mukmin pemilik akun instagram @arkham_87. Foto:  Dok Instagram @polrestasurakarta
zoom-in-whitePerbesar
Arkham Mukmin pemilik akun instagram @arkham_87. Foto: Dok Instagram @polrestasurakarta
ADVERTISEMENT
Arkham Mukmin menjadi perbincangan publik usai berurusan dengan polisi. Bermula dari komentar pria asal Slawi, Jateng itu di akun instagram @garudarevolution.
ADVERTISEMENT
Arkham berkomentar terkait rencana Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang hendak memboyong gelaran final Piala Menpora ke kotanya.
"Tau apa dia tentang sepakbola, taunya cuma dikasih jabatan saja." demikian komentar Arkham.
Rupanya apa yang dilakukan Arkham ini berbuntut panjang. Karena komentar itu dia berurusan dengan Polres Surakarta.
Wajah Arkham dipajang di akun instagram Polres Surakarta. Mulai dia datang ke kantor polisi dengan dikawal, lalu diperiksa penyidik, dan terakhir dia mengucapkan permintaan maaf soal komentarnya.
Tak selesai di urusan maaf, kasus komentar Arkham pada Gibran berlanjut dengan pro kontra. Ada yang mendukung sikap Polres Surakarta, ada juga yang menilainya berlebihan.
Misalnya saja komentar Anggota Komisi III DPR Arsul Sani. Politikus PPP itu memberi masukan ke polisi agar tak terlalu reaktif. Malahan justru menjadi bumerang bagi polisi dan Gibran sendiri.
ADVERTISEMENT
Akan muncul anggapan, tindakan itu berlebihan, karena terkait Gibran yang putra Jokowi.
Wakil Ketua MPR Arsul Sani di Gedung DPR, Senayan. Foto: Paulina Herasmarindar/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua MPR Arsul Sani di Gedung DPR, Senayan. Foto: Paulina Herasmarindar/kumparan
"Dengan cara seperti ini maka tidak justru menimbulkan kontroversi di ruang publik," ujar Arsul, Selasa (16/3).
Kemudian Arsul menyinggung soal surat edaran Kapolri dan juga hal yang biasa dilakukan virtual police.
Biasanya mereka yang memposting seperti Arkham itu dikirim direct message atau DM berupa 'surat cinta' alias teguran untuk menghapus postingannya karena menyebarkan ujaran kebencian.
Jadi tak langsung serta merta dijemput ke kantor polisi.
Ini agar tidak mengesankan bahwa Polresta Surakarta melakukan itu karena faktor Gibran yang merupakan anak Presiden Jokowi
Arsul Sani
Kritik juga datang dari Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid terkait sikap Polresta Surakarta pada Arkham.
Usman menilai tindakan polisi mengamankan Arkham, membawanya ke kantor polisi dan mempublikasikan permintaan maaf ke publik akan menimbulkan persepsi negara membatasi warganya berkomentar hal yang remeh.
Direktur Amnesty Internasional Usman Hamid. Foto: Mirsan Simamora/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Amnesty Internasional Usman Hamid. Foto: Mirsan Simamora/kumparan
Arkham hanya Arkham, Usman mempertanyakan apakah sikap Polresta Surakarta ini karena sosok Gibran putra Presiden Jokowi?
ADVERTISEMENT
"Ini saja sudah menunjukkan betapa kian menyempitnya ruang kebebasan berpendapat dan berekspresi di Indonesia," ujar Usman.
Tanggapan Polresta Surakarta
Sementara itu Polresta Surakarta sudah memberi penjelasan terkait tindakan tegas pada Arkham.
Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak menilai apa yang disampaikan Arkham bukanlah merupakan sebuah kritik.
Dia menilai komentar Arkham masuk kategori hoaks. Hal itu, kata Ade, berdasarkan konsultasi dengan ahli bahasa di tim polisi virtual Polresta Surakarta.
"Kami sudah konsultasi dengan ahli bahasa, hukum dan ahli ITE untuk kasus ini masuk kategori tidak sesuai fakta atau hoaks," kata Ade.
Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak. Foto: Dok. Istimewa
Karena menurut Ade, Gibran menjadi Wali Kota Solo berdasarkan Pilkada, bukan diberikan jabatan lantaran merupakan anak sulung Presiden Joko Widodo.
ADVERTISEMENT
"Kepala daerah (Gibran) dipilih melalui mekanisme pilkada yang semua telah diatur dalam regulasi KPU dan Bawaslu. Jangan sampai buat konten yang pada akhirnya dapat merugikan diri sendiri serta orang lain," kata dia.
Tanggapan Gibran
Sedang Gibran Rakabuming Raka juga sudah memberi komentar soal kasus Arkham.
Gibran mengatakan tidak pernah melaporkan Arkham ke polisi. "Saya dari dulu sering dibully dan dihina. Tidak pernah melaporkan satu pun ke polisi," kata Gibran saat ditemui di Balai Kota, Selasa (16/3).
Gibran mengatakan warganet tersebut tidak dikenai pidana serta hanya diberikan edukasi saja. Dia mengingatkan pada semua orang untuk bijak dalam menggunakan medsos.
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri upacara pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo di kantor DPRD Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/2/2021). Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri upacara pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo di kantor DPRD Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/2/2021). Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTO
"Semua dimaafkan saja, tapi ya tolonglah hati-hati saja menggunakan medsos. Kalau dibilang tidak ngerti bola, kan sudah bilang berkali-kali saya narik Piala Menpora diadakan di Solo untuk tujuan pemulihan ekonomi," ujar Gibran.
ADVERTISEMENT
Putra sulung Presiden Jokowi mengatakan pihaknya juga berkomitmen memajukan klub Liga 2 Persis Solo dengan mengumumkan owner barunya pada tanggal 20 Maret mendatang. Hal itu sekaligus sebagai bukti kalau dirinya cukup mengerti soal bola nasional.
"Kecintaan kita terhadap bola Solo gede sekali. Stadion Manahan bagus, lapangan latihan juga bagus," kata dia.
Ia kembali mengingatkan pada masyarakat untuk lebih bijak menggunakan medsos. Termasuk kedua orang tuanya juga sama memaafkan jika dibully di medsos.
"Semua kritikan dan masukan yang ditujukan pada saya silakan. Saya terbuka dan santai," kata dia.
***
Saksikan video menarik di bawah ini.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020