kumparan
22 Maret 2019 13:38

Mewujudkan Pertemuan Rasilu Si Tukang Becak dengan Keluarganya

Wa Oni mengaku gugup. Saat tiba di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Ambon pada Jumat (22/3), perempuan berusia 35 tahun itu banyak terdiam. Sudah hampir tujuh bulan ia tak bertemu suaminya yang mendekam di salah satu sel penjara tempat tersebut.
ADVERTISEMENT
Suami Wa Oni bernama Rasilu. Sekeluarga, mereka tinggal di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Pada 2015, Rasilu merantau ke Kota Ambon dan belakangan menjadi tukang becak.
Rasilu belakangan santer diberitakan setelah dijebloskan ke penjara. Kasusnya: Penumpangnya meninggal setelah becaknya terbalik gara-gara Rasilu berusaha menghindari mobil yang melaju kencang.
Kisah Rasilu menuai simpati banyak orang. kumparan pun aktif menggelar campaign penggalangan dana hingga mewujudkan pertemuan keluarga. ambonnesia.com turut hadir dalam pertemuan ini.
Wa Oni, istri dari Rasilu, sampai di Ambon untuk mengunjungi sang suami. Foto: kumparan
Wa Oni; Ahmad, anaknya paling bungsu; dan Hamirun, kakak dari Rasilu, baru duduk sekitar lima menit di dalam ruangan lapas sebelum terdengar pengeras suara memanggil nama Rasilu. Tukang becak berusia 34 tahun itu diberi tahu, ada tamu untuknya.
ADVERTISEMENT
Saat pertemuan terjadi, suasananya sungguh haru. Wa Oni mencium tangan suaminya. Hamirun tak kuasa menahan tangis saat bertemu adiknya yang kini menjadi warga binaan rumah tahanan.
Suasana haru menyelimuti pertemuan kakak beradik ini. Foto: kumparan
Sambil berbincang dengan istrinya, Rasilu menggendong anak bungsunya untuk melepas rindu. "Perasaan sangat senang dan bangga, akhirnya bisa ketemu anak dan istri saya sekarang. Hati sangat senang sekali, saya masih ingat anak saya yang ada di kampung juga. Saya rindu mereka," ujarnya.
Pertemuan ini menjadi hal yang tidak terduga bagi Rasilu. Foto: kumparan
Selama menjalani masa tahanan, Rasilu kerap kali merasa rindu karena memikirkan anak-anaknya di desa. Untuk itu, ia membuatkan tas noken yang masing-masing bertuliskan nama mereka semua. Ia membutuhkan waktu sekitar 4 hari untuk mengerjakan satu buah tas noken. Harapannya, tas ini menjadi pengingat bagi keempat anaknya kepada Rasilu yang berada jauh dari mereka. “Supaya diingat terus, ini saya bikin sendiri.” ucapnya.
Rasilu membuatkan tas untuk anak-anaknya. Foto: kumparan
Menjelang awal tahun 2019, ia sering berkomunikasi dengan anak-anaknya di desa. Ia teringat, sebentar lagi Aisa akan menjalani Ujian Nasional. Ia turut memberikan semangat kepada anak sulungnya. “Saya mau pesan, khususnya untuk Aisa, anak saya yang SMP. Saya pesan, dia lanjutkan sekolahnya. Dia harus berusaha. Mudah-mudahan dia (menjadi) sukses supaya membanggakan orang tua. Dia harus sekolah entah melaju sampai kuliah kalau bisa,” lanjutnya.
Rasilu melepas rindu dengan anak dan istrinya. Foto: kumparan
Dalam kunjungan ini, kumparan juga memberitahukan perihal donasi crowdfunding yang digalang untuk dana pendidikan Aisa dan anak-anaknya. Terlebih, saat mengetahui bahwa Aisa kini mendapat dana bantuan hingga bisa berkuliah. Mendengar hal tersebut, Rasilu tak kuasa menahan harunya.
ADVERTISEMENT
Ia mengucapkan terima kasih bagi para donatur yang telah membantunya. “Saya ucapkan terima kasih banyak kepada donatur, teman-teman, baik wartawan dan mahasiswa, saya sudah diberi bantuan. Semoga mereka umur panjang, Allah meridai kalian dan Allah membimbing kalian. Amin, ya Rabb,” katanya penuh haru.
Campaign yang diinisiasi kumparan berhasil mengumpulkan donasi dari 11.119 donatur melalui platform kitabisa.com. Campaign ini akan dibantu secara teknis oleh tim Aksi Cepat Tanggap dan relawan di daerah tersebut. Perkembangan dari campaign ini bisa terus dibaca di kumparan.com dengan topik 'Crowdfunding Aisa'.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan