Minyak Bintang Ida Dayak di Balik Membeludaknya Warga yang Ingin Berobat
ยทwaktu baca 4 menit

Ida Andriyani atau Ida Dayak terpaksa batal membuka praktik pengobatan di Markas Divisi Infanteri 1/Kostrad, Kota Depok, Senin-Selasa, 3-4 April 2023. Praktiknya harus dibatalkan karena jumlah masyarakat membeludak dan menimbulkan macet panjang.
"Mohon maaf saya mengumumkan, Ibu tidak bersedia atau tidak mampu untuk melakukan pengobatan karena kondisinya ramai," ujar Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad, Mayjen TNI Bobby Rinal Makmun, saat dikonfirmasi, Senin (3/4).
Menurut Bobby, untuk bisa mengobati seluruh masyarakat yang datang dengan jumlah seperti di hari Senin (3/4) kemarin saja butuh waktu 4-5 hari. Sehingga, jumlah peminat yang begitu banyak itu tak memungkinkan Ida Dayak mengobati pasien satu per satu.
Metode pengobatan yang diterapkan Ida Dayak ini tanpa medis dan operasi dan hanya mengandalkan minyak khusus yang disebut "minyak bintang" serta rapalan doa. Berdasarkan video-video yang viral, pasien lumpuh, susah bicara, hingga patah tulang bisa sembuh setelah diobati Ida Dayak.
Ahli kesehatan masyarakat (public health) yang juga peneliti Indonesia dari Universitas Griffith Australia, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH, menilai sebenarnya fenomena semacam ini bukan hal baru di Indonesia. Menurutnya ada sejumlah alasan mengapa masyarakat lebih memilih berobat alternatif daripada medis, salah satunya karena akses pada pelayanan kesehatan modern yang rendah.
"Misalnya infrastruktur jalannya jauh, tenaga medis profesional dan alatnya yang terbatas. Sehingga traditional medicine ini menjadi satu-satunya pilihan," kata Dicky kepada kumparan, Selasa (4/4).
Alasan lainnya adalah karena ada kepercayaan secara budaya yang mengakar kuat, karena pasien tumbuh besar melihat orang tua dan kakek-neneknya menggunakan pengobatan tradisional itu. Selain itu, masalah biaya yang relatif terjangkau juga menjadi alasan lain mengapa pengobatan tradisional diminati.
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan modern yang rendah, menurut Dicky, bisa jadi membuat mereka memilih alternatif terapi lain. Alasan terakhirnya adalah karena keterbatasan literasi kesehatan yang membuat masyarakat tak punya pemahaman dan tak bisa mengambil keputusan tentang kesehatan mereka.
"Namun bukan berarti traditional spiritual medicine itu buruk, tidak juga. Bisa saja jadi bermanfaat dan digunakan sebagai pelengkap terapi modern yang ada tapi harus disaintifikasi agar bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga tidak merugikan masyarakat," ungkap Dicky.
Juru bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyebut saat ini masih menanyakan ke unit terkait soal izin praktik Ida Dayak. Setiap pengobatan tradisional atau tenaga penyehat tradisional, kata Siti, harus memiliki surat izin terdaftar untuk memastikan pengobatan tersebut sesuai dengan standar.
"Kita tentunya akan melakukan pembinaan terhadap pengobatan tradisional ataupun tenaga penyehat tradisional (hatra) termasuk bahwa hatra memiliki STPT (surat terdaftar penyehat tradisional)," ucap Nadia.
STPT ini bisa merujuk pada sejumlah regulasi, yaitu:
PP Nomor 103 Tahun 2014 ttg Pelayanan Kesehatan Tradisional
PERMENKES Nomor 15 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
PERMENKES Nomor 61 Tahun 2016 Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris
PERMENKES nomor 37 Tahun 2017 tentang pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi (SDM dan integrasi layanan kesehatan konvensional dan tradisional)
UU Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan
"Bagaimanapun Indonesia memiliki warisan budaya termasuk pengobatan tradisional yang memang sebagian masih perlu diteliti dan masih perlu diteliti dan didukung secara empiris seperti pengobatan modern," kata Nadia.
Namun, sebenarnya, bagaimana cara pengobatan Ida Dayak? Apa itu minyak bintang yang jadi senjata andalannya?
Pengobatan Ida Dayak sebenarnya cukup sederhana: ia hanya merekomendasikan minyak bintang. Minyak ini adalah obat yang kerap digunakan orang Kalimantan sejak masa perang dulu, yang bahkan disebut cukup ajaib untuk mengobati luka perang.
Selain mengobati luka, minyak bintang juga dikenal secara turun-temurun memiliki kesaktian mengobati patah tulang, tulang remuk hingga terkilir.
Minyak bintang ini, berdasarkan sejarahnya, sebenarnya merupakan salah satu ilmu magis yang berkembang di masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat. Minyak ini bahkan sudah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda Kemendikbud pada 2011 silam.
Berdasarkan situs Kemendikbud, biasanya orang mempelajari ilmu minyak hitam untuk bertahan dan menyerang musuh karena di zaman dulu, masih sering ada perang antarsuku. Ilmu ini bisa didapat dengan cara membeli atau temaai seharga lima sampai sepuluh antang. Jumlah yang sangat mahal pada masa itu, sehingga tak banyak yang punya ilmu ini.
"Seseorang yang memiliki ilmu minyak bintang ini biasanya akan kurang minatnya untuk mempelajari ilmu lainnya. Keistimewaan dari ilmu minyak bintang ini menurut kepercayaan masyarakat adalah dapat menghidupkan pemiliknya yang mati terbunuh," demikian penjelasan Kemendikbud.
Minyak ini hanya perlu diminum beberapa tetes di malam hari. Setelah itu, khasiat minyak ini diyakini bisa bertahan seumur hidup meski ada batasannya: hanya bermanfaat bagi pemilik ilmunya saja dan tidak bisa berfungsi untuk organ tubuh yang terpotong dan dikubur berjauhan.
"Fungsi sosial dari ilmu ini pada masa lalu adalah sebagai penambah semangat untuk membela sukunya masing-masing dalam perang," tulis situs itu.
***
kumparan bagi-bagi berkah senilai jutaan rupiah. Jangan lewatkan beragam program spesial lainnya. Kunjungi media sosial kumparan untuk tau informasi lengkap seputar program Ramadhan! #BerkahBersama
