Miris, Mayat Warga Gaza Menumpuk di RS Al-Shifa Jadi Santapan Anjing Liar

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

Seorang wanita berduka di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel, di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita berduka di samping jenazah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel, di sebuah rumah sakit di Kota Gaza, Rabu (11/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS

Tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin mengiris hati. Ratusan mayat warga Palestina korban kebrutalan penjajah Israel yang tidak dapat dikubur menumpuk di halaman Rumah Sakit Al-Shifa.

Rumah sakit terbesar di bagian utara Jalur Gaza itu telah menjadi titik pertempuran dan diblokade total Israel, sementara ribuan pasien serta staf medis dilaporkan masih terjebak di dalamnya.

Dikutip dari Middle East Monitor, hal tersebut diungkap oleh Menteri Kesehatan Palestina di Gaza yang dikuasai Hamas, Mai Al-Kaila, pada Senin (13/11).

Selama pertempuran berkecamuk di area kompleks RS Al-Shifa, Al-Kaila mengatakan pasukan penjajah tidak beritikad untuk melakukan evakuasi terhadap warga sipil yang terluka.

Sebaliknya, Israel membiarkan orang-orang yang terluka dan sakit di jalanan aspal hingga mereka tewas.

"Orang-orang yang sakit dan terluka tidak dapat mencapai Kompleks Medis Al-Shifa, dan banyak dari mereka telah kehilangan nyawa," kata Al-Kaila.

"Bahaya lain yang mengancam nyawa pasien dan timbulnya bencana kesehatan adalah ketidakmampuan tim medis untuk menguburkan 100 syuhada yang jasadnya mulai membusuk di halaman rumah sakit, dan di mana anjing-anjing liar menganiaya beberapa dari mereka, menurut kesaksian staf medis yang ada di sana, di samping limbah medis yang menumpuk di dalam departemen," tambahnya.

Asap mengepul saat pengungsi Palestina berlindung di rumah sakit Al Shifa, di Kota Gaza pada Rabu (8/11/2023). Foto: Doaa Rouqa/Reuters

Menurut pejabat Palestina, Israel tidak mengizinkan para staf medis membawa keluar mayat-mayat itu untuk dikuburkan. Terlebih, ada ancaman besar yang menanti mereka jika berusaha nekat — drone yang bersiaga di area rumah sakit dan siap menembak tanpa peduli siapa targetnya.

"Sementara itu, staf medis di dalam Rumah Sakit Al-Shifa tidak dapat berpindah antara departemen dan bangunan kompleks medis, karena drone Israel menembaki semua orang yang bergerak di dalam kompleks," jelas Al-Kaila.

Di sisi lain, RS Al-Shifa tidak lagi beroperasi sebagaimana mestinya sejak akhir pekan lalu gara-gara pemadaman listrik dan generator utama yang kehabisan bahan bakar.

Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza melaporkan lebih dari 2.300 orang masih terjebak di dalam RS Al-Shifa. Itu mencakup 650 pasien, 200 hingga 500 staf medis, dan 1.500 korban yang mencari perlindungan.

"Ada bencana yang terjadi di rumah sakit-rumah sakit [Gaza] di mana para pasien sekarang sekarat tanpa menerima perawatan mereka, seperti pasien dialisis anak-anak dan orang dewasa yang meninggal di rumah mereka tanpa menerima sesi dialisis," kata Al-Kaila.

Warga Palestina yang terluka dan dirawat di rumah sakit Al Shifa, bergerak ke selatan setelah melarikan diri dari Gaza utara, di Jalur Gaza tengah, Jumat (10/11/2023). Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS

Wanita pertama yang menduduki jabatan sebagai Menteri Kesehatan Palestina itu menambahkan, situasi di RS Al-Shifa saat ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk memberikan layanan medis kepada para pasiennya.

"Pasien kembali terluka saat menerima perawatan di Al-Shifa sebagai akibat dari pengeboman penjajah [Israel] terhadap kompleks medis, yang berdampak pada sumur air, stasiun oksigen, gerbang kompleks dan fasilitas lainnya, sementara stok darah [yang disumbangkan] di dalam departemen-departemen telah rusak karena pemadaman listrik, dan tim medis tidak lagi dapat memberikan unit darah kepada orang sakit dan terluka yang mengalami pendarahan," jelas dia.

Adapun kompleks rumah sakit di bagian utara Gaza belakangan ini telah menjadi pusat pertempuran sengit Israel dan Hamas. Pasukan penjajah menuding Hamas menempatkan pusat komando di dalam terowongan bawah tanah daerah itu dan menjadikan warga sipilnya sebagai 'tameng'.

Tuduhan-tuduhan Israel dibantah Hamas dan pihak pengelola RS Al-Shifa. Beberapa laporan pun menyebut bahwa tank-tank milik Israel berada dalam jarak dekat dari RS Al-Shifa — hanya beberapa meter dari gerbang rumah sakit.

Selain Al-Shifa, sejumlah rumah sakit lainnya di bagian utara Gaza juga mengalami krisis serupa dan menangguhkan layanan medis mereka.

kumparan post embed