RS Terbesar di Jalur Gaza Jadi Kuburan Massal Akibat Blokade Israel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

Potret keadaan rumah sakit Al-Shifa di Gaza pada (10/11/2023). Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Potret keadaan rumah sakit Al-Shifa di Gaza pada (10/11/2023). Foto: AFP

Ribuan orang termasuk pasien dan staf medis diperkirakan terjebak di dalam rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, RS Al-Shifa, seiring dengan blokade yang diberlakukan Israel serta berkecamuknya baku tembak di bagian utara wilayah kantong tersebut.

Bahkan, RS Al-Shifa kini menyerupai kuburan massal — hanya para mayat tidak dapat dikubur, melainkan tergeletak membusuk hingga menjadi santapan anjing liar.

Dikutip dari BBC, Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan, sedikitnya ada 2.300 orang masih terjebak di dalam RS Al Shifa. Angka ini mencakup 650 pasien, 200 hingga 500 staf medis, dan 1.500 korban yang mencari perlindungan.

Di sisi lain, juru bicara World Health Organization (WHO), Christian Lindmeier, mengatakan sekitar 600 orang masih berada di dalam RS Al-Shifa termasuk di koridor-koridor rumah sakit.

Lindmeier pada Senin (13/11) mengatakan, RS Al-Shifa sudah tidak lagi beroperasi sebagaimana mestinya sejak tiga hari lalu. Situasi ini terjadi akibat pemadaman listrik dan generator utama rumah sakit yang kehabisan bahan bakar.

Di dalam RS Al-Shifa, puluhan bayi prematur di dalam inkubator terancam meninggal dunia dan ribuan pasien luka-luka tidak dapat memperoleh obat-obatan.

Potret keadaan rumah sakit Al-Shifa di Gaza pada (10/11/2023). Foto: AFP

Kengerian yang sama juga terlihat di luar rumah sakit — mayat-mayat tanpa nama tergeletak tanpa bisa dikubur atau diawetkan di ruangan bersuhu dingin. "Di sekitar rumah sakit terdapat mayat-mayat yang tidak dapat diurus atau bahkan tidak dapat dikuburkan atau dibawa ke kamar mayat mana pun," jelas Lindmeier.

Rumah sakit sama sekali tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Rumah sakit ini hampir seperti kuburan," pungkasnya.

Lebih lanjut, Manajer RS Al-Shifa, Mohamed Abu Selmia, menyebut ada sekitar 150 mayat yang membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap di rumah sakit tersebut.

Pihak berwenang Israel, kata Selmia, masih belum memberikan izin bagi staf medis membawa mayat-mayat tersebut keluar dari rumah sakit untuk menguburkannya. Oleh karena itu, mayat-mayat korban kebrutalan Israel menumpuk — hingga anjing-anjing liar memasuki area rumah sakit dan melahapnya.

Adapun kompleks rumah sakit di bagian utara Gaza belakangan ini telah menjadi pusat pertempuran sengit Israel dan Hamas. Pasukan penjajah menuding Hamas menempatkan pusat komando di dalam terowongan bawah tanah daerah itu dan menjadikan warga sipilnya sebagai 'tameng'.

Tuduhan-tuduhan Israel dibantah Hamas dan pihak pengelola RS Al-Shifa. Beberapa laporan pun menyebut bahwa tank-tank milik Israel berada dalam jarak dekat dari RS Al-Shifa — hanya beberapa meter dari gerbang rumah sakit.

Selain Al-Shifa, sejumlah rumah sakit lainnya di bagian utara Gaza juga mengalami krisis serupa dan menangguhkan layanan medis mereka.

kumparan post embed