WHO: RS Terbesar di Jalur Gaza, Al-Shifa, Lumpuh Imbas Digempur Israel
ยทwaktu baca 2 menit

Rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, RS Al-Shifa, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya seiring dengan kekurangan bahan bakar dan listrik yang terjadi dalam tiga hari terakhir.
Adapun rumah sakit-rumah sakit di bagian utara Gaza telah menjadi sasaran gempuran, lantaran Hamas dinilai memiliki pusat komando dan infrastruktur militer bawah tanah di dekat sana.
Dikutip dari Reuters, informasi itu disampaikan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam platform X pada Senin (13/11).
Setelah berhasil kembali menjalin kontak dengan staf medis di RS Al-Shifa, kata Ghebreyeus, WHO diberi tahu bahwa kondisi rumah sakit itu berbahaya dan mengerikan.
"WHO berhasil berbicara dengan para tenaga kesehatan di Al-Shifa, yang menggambarkan situasi yang mengerikan dan berbahaya dengan tembakan dan pengeboman yang terus menerus yang memperburuk situasi yang sudah kritis," tulis Ghebreyesus.
"Tragisnya, kematian pasien meningkat secara signifikan. Sangat disayangkan, rumah sakit tersebut tidak berfungsi sebagai rumah sakit lagi," tambahnya.
Sehingga, RS Al-Shifa tidak mampu merawat ribuan pasien yang ada di sana. Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Ashraf Al-Qidra, tiga dari 45 bayi prematur yang berada dalam inkubator telah tewas.
Seorang staf medis di Al-Shifa, Dr Ahmed El Mokhallati, mengatakan pengeboman Israel di area kompleks rumah sakit mendesak mereka menempatkan bayi-bayi itu di tempat tidur biasa.
"Kami memperkirakan akan kehilangan lebih banyak lagi bayi dari hari ke hari," kata El Mokhallati.
Selain Al-Shifa, rumah sakit terbesar kedua di Jalur Gaza, Al-Quds, juga tidak beroperasi lantaran generator utamanya kehabisan bahan bakar.
Sehingga, para staf medis berjuang dengan sumber daya seadanya merawat pasien di tengah keterbatasan obat-obatan, air, listrik, dan makanan.
"Rumah sakit Al Quds telah terputus dari dunia dalam enam atau tujuh hari terakhir. Tidak ada jalan masuk, tidak ada jalan keluar," kata juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Tommaso Della Longa.
