Korban Jiwa di Gaza Melebihi 11 Ribu, WHO Peringatkan Kematian Bakal Meroket

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: REUTERS/Denis Balibouse
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: REUTERS/Denis Balibouse

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada Senin (13/11) memperingatkan jumlah korban jiwa di Jalur Gaza yang saat ini digempur Israel dapat terus bertambah.

Per Minggu (12/11), Kementerian Kesehatan Palestina mencatat ada lebih dari 11.078 warga Palestina di Gaza telah tewas sejak 7 Oktober — termasuk 4.506 anak-anak dan 3.027 wanita.

Bahkan, gempuran Israel berdampak pada layanan medis di rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, RS Al-Shifa, hingga tiga bayi prematur tewas di dalam inkubator. Tragedi dipicu kekurangan akses ke listrik dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk inkubator tetap menyala.

Lebih lanjut, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sudah tiga hari RS Al-Shifa berhenti beroperasi gara-gara tidak ada akses ke listrik dan air.

Selain itu, korban jiwa di antara para pasien dan staf medis ikut bertambah, seiring dengan gempuran Israel di sekitar RS Al-Shifa yang berlangsung tanpa henti.

UNRWA melaporkan, tiga perawat telah tewas di RS Al-Shifa sejak Jumat (10/11) imbas bentrokan Hamas dan Israel di area kompleks rumah sakit. Sementara itu, 12 pasien — termasuk 2 bayi prematur, juga telah tewas sejak pemadaman listrik terjadi.

Bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur setelah dikeluarkan dari inkubator di rumah sakit Al Shifa Gaza setelah listrik padam, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas, di Kota Gaza, Gaza (12/11). Foto: Reuters

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan, para pasien termasuk 36 bayi prematur berisiko meninggal lantaran keterbatasan inkubator yang berfungsi.

Serangan Israel kemarin juga telah menyasar ke unit kardiologi di RS Al-Shifa.

"Sayangnya, RS Al-Shifa sudah tidak lagi beroperasi sebagai rumah sakit," tulis Ghebreyesus melalui platform X.

Adapun selain RS Al-Shifa, setengah dari total 35 rumah sakit di Gaza sudah tidak lagi beroperasi di tengah gempuran ini.

Dikutip dari Al Jazeera, RS Al-Quds dan RS Kamal Adwan di bagian utara Gaza pun terpaksa menghentikan layanan medis gara-gara generator utamanya kehabisan bahan bakar.

Menyikapi bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza, Ghebreyesus menyerukan gencatan senjata segera.

"Dunia tidak bisa tinggal diam ketika rumah sakit, yang seharusnya menjadi tempat yang aman, berubah menjadi tempat kematian, kehancuran, dan keputusasaan," tambahnya.

Adapun pasukan penjajah telah mengepung fasilitas medis di bagian utara Gaza — termasuk RS Al-Shifa, yang menurut pejabat Israel terletak di atas pusat komando Hamas.

Kelompok militan penguasa Gaza ini biasanya menempatkan markas mereka di labirin bawah tanah yang tersembunyi di wilayah pesisir tersebut. Namun, Hamas dan pejabat RS Al-Shifa membantah bahwa kompleks rumah sakit itu menjadi lokasi persembunyian infrastruktur militer.

X post embed
kumparan post embed