Misteri Anjing dalam Gendongan Gadis Israel yang Ditawan Hamas di Gaza Terungkap
·waktu baca 5 menit

Ada momen menakjubkan saat sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, bersama kelompok pejuang Palestina lainnya membebaskan sandera dari Israel pada hari kelima gencatan senjata, yaitu kemunculan seorang gadis yang menggendong seekor anjing putih dari dalam mobil.
Gadis Israel — yang kemudian terkuak bernama Mia Leimberg berusia 17 tahun — itu tampak sehat-sehat saja. Demikian juga anjing yang dia gendong. Hal ini memperlihatkan bahwa keduanya diperlakukan baik selama ditawan di Gaza, sebagaimana para sandera lainnya.
Mia bersama anjing dan tawanan lainnya diserahkan pejuang Palestina pada 28 November ke Palang Merah Internasional (ICRC) untuk selanjutnya dipulangkan. Pembebasan Mia disaksikan oleh warga Gaza yang bersorak sorai memberi semangat kepada pejuang dari Brigade Al-Qassam dan Saraya Al-Quds.
Dalam pembebasan yang mengejutkan itu, banyak yang bertanya-tanya, bagaimana anjing itu bisa bersama seorang tawanan? Apakah anjing itu dibawa tawanan sejak awal? Kalau iya, mengapa pejuang Hamas mengizinkan tawanan itu membawa anjing, bukankah akan merepotkan? Dan diberi makan apa anjing itu selama di Gaza — yang bahkan manusia pun tak memiliki stok pangan cukup?
Aneka pertanyaan itu terjawab dalam wawancara perdana Mia dengan media yang dilansir Reuters, dikutip Jumat (8/12).
Anjing Diberi Makanan Sisa
Anjing yang digendong Mia bernama Bella, anjing jenis Shih Tzu —ras anjing kecil dan lucu, yang menurut sejarah biasa menjadi peliharaan bangsawan. Selama ditawan, Mia memberi makan Bella dari makanan sisanya.
"Saat kami berada di sana, kami harus memberinya sisa makanan kami — ya, yang saya bicarakan tentang kamu, Bella," kata Mia, sambil menatap anjing putih kecil di pelukannya.
Mia tak menjelaskan makanan apa yang dimakannya. Namun, berdasar pengakuan tawanan Israel lainnya yang telah dibebaskan lebih dulu, tawanan mendapatkan makanan yang sama dengan yang dimakan oleh pejuang Hamas.
Lebih lanjut Mia mengatakan, dia dan tawanan lainnya harus menjaga Bella agar tak berkeliaran ke mana-mana.
“Kami harus memastikan bahwa dia [Bella] tidak berkeliaran liar di tempat kami berada. Kami harus menjaganya agar dia tidak pergi menjelajah dan mengganggu siapa pun di sana,” kata Mia.
Mia dan ibunya, Gabriela, sedang mengunjungi keluarga di Kibbutz [perkampungan ilegal Israel] Nir Yitzhak ketika mereka disandera oleh Hamas pada 7 Oktober.
Kala itu, Brigade Al-Qassam dkk menyerang Israel bagian selatan sebagai bentuk perlawanan atas kekerasan Israel kepada kaum wanita Palestina, penodaan pada Masjid Al-Aqsa, dan blokade total terhadap Gaza sejak 2006.
Mia, Gabriela, Bella dan bibi Mia dibebaskan Hamas sebagai bagian dari pertukaran tahanan pada 28 November atau hari kelima jeda tempur sementara. Namun, paman dan pasangan bibi Mia masih ditawan menyusul buntunya perpanjangan gencatan senjata Israel - Hamas.
Anjing Disembunyikan di Balik Piyama
Mia menceritakan, selama dibawa pejuang Hamas ke Gaza, dia terus menggendong Bella yang cukup berat.
Mia menyembunyikan Bella di balik piyamanya ketika mereka dimasukkan ke dalam kendaraan yang keluar dari perkampungan ilegal Israel (kibbutz).
“Dan saya cukup beruntung bisa menahannya melewati seluruh situasi itu dan membawanya kembali," kata Mia yang telah pulang ke Yerusalem.
Mia diuntungkan dengan pembawaan anjingnya yang pendiam, tak suka menggonggong.
“Untungnya bagi saya Bella tidak seperti anjing kecil lain yang saya kenal secara pribadi, dia agak pendiam, kecuali saat dia sedang bermain atau marah,” ujarnya.
“Jika mereka [pejuang Hamas] melihatnya sebagai pengganggu, saya pikir mereka tidak akan membiarkan saya menjaganya,” ujar Mia.
Alasan Mia Membawa Anjing
Lalu mengapa Mia membawa serta Bella saat milisi Hamas memindahkan mereka ke Gaza?
“Dia [Mia] khawatir sesuatu akan terjadi pada anjing itu jika dia meninggalkannya [Bella],” jawab ayah Mia, Moshe, yang tak ikut ditawan karena saat peristiwa terjadi dia tidak berada di lokasi.
Anjing Semula Dikira Boneka
Moshe menceritakan, setiba di Gaza, para tawanan dibawa ke terowongan.
"Mereka [pejuang Hamas] membawanya ke terowongan... dia [Mia] membawa anjing itu bersamanya sepanjang waktu," ujarnya.
“Ketika mereka keluar dari terowongan, mereka harus menaiki tangga, saat itulah orang-orang Hamas menyadari bahwa ini bukanlah boneka, melainkan anjing yang hidup dan bernapas,” kata Moshe.
Meski demikian, pejuang Hamas tetap memperbolehkan Mia membawa dan merawat anjingnya.
"Sedikit adu argumen pun terjadi, dan diputuskan untuk membiarkan dia [Mia] memelihara anjingnya daripada meninggalkannya,” kata Moshe.
Para tawanan membersihkan kotoran anjing Bella untuk mencegah bau tak sedap.
“Dia [Mia] sangat bertekad untuk membawa anjing itu kembali, dan salah satu ekspresi yang dia miliki sekarang, tentang anjing itu, adalah 'I love you to Gaza and back' [variasi dari ungkapan cinta I love you to the moon and back]," kata Moshe.
Mia banyak terbantu dengan kehadiran Bella selama ditawan. "Dia sangat membantu saya. Dia membuat saya sibuk. Dia adalah dukungan moral," kata Mia.
Ayah Kaget Mia Bawa Anjing
Sementara itu, Moshe saat mengetahui Mia ditawan ke Gaza, terus mencari keberadaan Bella. Dikiranya, Bella kabur, hilang, atau menjadi korban pertempuran. Dia sama sekali tak mengira bahwa Bella juga dibawa Mia ke Gaza.
Hingga kemudian ada telepon dari koleganya masuk dan memberi tahu bahwa dia melihat televisi dan menyaksikan Mia telah dibebaskan sambil menggendong Bella.
Mia Baik-Baik Saja
Sementara itu, Mia mengaku baik-baik saja setelah pembebasan itu. "Secara fisik saya baik-baik saja," ujar gadis berkaca mata ini.
"Saya juga telah diperiksa di rumah sakit begitu saya tiba. Saya sepenuhnya baik-baik saja," imbuhnya.
Sedangkan secara mental, dia mengaku tidak trauma ataupun susah tidur.
Saat ini, Mia dan keluarganya berjuang agar saudara-saudara mereka yang masih ditawan Hamas dibebaskan. Namun, PM Israel Benjamin Netanyahu saat bertemu dengan keluarga para sandera, tak bisa memberi jaminan akan membebaskan semua sandera. Hal ini memicu kemarahan keluarga sandera.
Saat ini, Hamas masih menyandera sekitar 138 orang Israel. Sementara, Israel memenjarakan sekitar 5.000 warga Palestina dan memperlakukan tahanan dengan buruk.
Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak Dewan Keamanan PBB turut bertindak untuk mengatasi krisis kemanusiaan parah di Gaza akibat serangan brutal Israel yang menewaskan sedikitnya 15 ribu orang, mayoritas anak-anak dan wanita.
