Mitos Gunung Paektu dan Pembunuhan Kim Jong Nam

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Patung sosok Kim Il Sung dan Kim Jong Il di Korea Utara.  (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Patung sosok Kim Il Sung dan Kim Jong Il di Korea Utara. (Foto: Reuters)

Perbatasan Korea Utara dan China membelah sebuah gunung yang tinggi menjulang dengan danau di tengahnya. Gunung Paektu bukan hanya bentang alam yang indah, namun dibalik keindahannya memiliki makna menancap kuat di setiap sanubari warga Korut.

Foster Flug, editor Associated Press di Seoul, menyebut gunung Paektu adalah inti segala mitos yang berada dalam Korut. Bermula dari kisah bagaimana pendiri Korut, Kim Il Sung, yang memulai perjuangan mengusir penjajah Jepang. Seakan-akan, dari gunung itulah ilham tentang pembebasan Korut turun ke bumi dan menjelma menjadi keberanian pasukan komunis Korea melawan imperialis barat.

Flug juga menduga jika kematian Kim Jong Nam di Kuala Lumpur, Malaysia pada Senin (13/2) adalah operasi intelijen Korut, motifnya tidak jauh dari pemaknaan cerita Gunung Paektu.

Lukisan propganda Kim Il Sung dan Kim Jong Il (Foto: Flickr: Roman Harack)
zoom-in-whitePerbesar
Lukisan propganda Kim Il Sung dan Kim Jong Il (Foto: Flickr: Roman Harack)

Propaganda yang menancapkan hegemoni kekuasaan Korut berpusat pada Gunung Paektu. Kesucian Paektu membuatnya menjadi tempat kelahiran legenda dalam kehidupan masyarakat Korut. Mulai dari lambang negara, hingga senjata nuklir dan rudal-rudal korut, semua diberi nama Paektu. Di setiap gores lukisan propaganda, alunan lagu perjuangan, dan pekik semangat revolusi, selalu mencantumkan Gunung Paektu. Bahkan, kewajiban menyanyikan lagu Gunung Paektu dimulai sejak taman kanak-kanak.

Kesucian Paektu yang tertanam sejak dini dan terus dipelihara lewat propagandanya menjadikan gunung erat sebagai simbol kelaziman. Karenanya, orang Korut masih mengekspresikan kebahagiaan walau terkekang dalam kekuasaan diktator. Sehingga, Paektu menjadi penting untuk merawat kekuasaan.

video youtube embed

Para penerus Kim Il Sung tahu betul betapa arti Paektu begitu penting untuk menjaga kekuasaan mereka terhadap rakyat Korut. Mereka terus menjaga kesucian gunung ini serta menyangkut pautkan posisi keluarga mereka sebagai pemimpin Korut.

Sebagaimana diketahui, ketiga pemimpin Korut memiliki pertalian darah dari kakek hingga cucu. Sehingga, kekuasaan dikelola seperti monarki, yang kekuasaan bergulir berdasarkan ikatan darah.

Untuk membenarkan kekuasaan keluarga Kim Il Sung, kisah keluarga mereka tak lepas dari Paektu. Hiduplah legenda "Darah Paektu" yang menjadi ceritanya sudah menjadi kepercayaan bagi rakyat Korut.

Setiap pemimpin Korut punya penggambaran tersendiri dengan Gunung Paektu. Bruce Cumings, sejarawan dan pakar sejarah Korea, menceritakan tidak hanya sang pemimpin pertama Korut, Kim Il Sung yang memiliki hubungan dengan Gunung Paektu.

Salah satu propaganda Korea Utara menceritakan bahwa pemimpin kedua Korut, Kim Jong Il, adalaha "Harta Karun yang Berwujud Bayi dari Gunung Paektu". Anggapan ini didukung kisah bahwa Jong Il lahir di Paektu ketika sang ayah melakukan perjuangan perang gerilya.

Kim Jong Un berada di puncak Gunung Paektu (Foto: KCNA via Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Kim Jong Un berada di puncak Gunung Paektu (Foto: KCNA via Reuters)

Penggunaan Paektu dilanjutkan oleh pemimpin ketiga Kim Jong Un. Pada tahun 2009, Korut menganggap Jong Un adalah "Jenderal dari Paektu". Jong Un mengklaim dirinya mewarisi "Darah Paektu" yang artinya "Menandai garis kehidupan untuk generasi mendatang".

Namun Jong Un tidak sendirian sebagai generasi ketiga yang mewarisi darah Paektu. Jong Nam, sosok yang kematiannya menggemparkan seluruh dunia, juga merupakan pewaris darah Paektu.

Untuk menjadi penguasa, Jong Un harus menjadi pemegang tunggal gelar "Darah Paektu". "Kim Jong Nam merupakan ancaman potensial bagi penguasa Korut saat ini," terang Chang Yong Seok dari Soeul National University. "Kim Jong Un percaya bahwa negara musuh dapat menggulingkannya dan menggantikannya dengan Jong Nam" ungkap Yong Seok.

Analisis yang menyebut pembunuhan Jong Nam adalah persaingan meraih gelar darah Paektu semakin menguat. Koh Yu-hwan, pakar Korea Utara dari Dongguk University, memperkirakan operasi pembunuhan dilakukan Jong Un karena sedang membutuhkan konsolidasi kekuasaan. "Jong Un berfikir bahwa dia hampir menyelesaikan konsolidasi kekuasaan dan menendang Jong Nam adalah sentuhan akhir untuk mengurangi sumber masalah," ungkap Koh Yu-hwan.

video youtube embed