Momen Kapolres Lamongan Tulis Namanya dengan Goresan Kaligrafi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saat Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman menunjukkan kemampuannya menulis kaligrafi. Foto: Instagram/ @arif_fazlurrahman
zoom-in-whitePerbesar
Saat Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman menunjukkan kemampuannya menulis kaligrafi. Foto: Instagram/ @arif_fazlurrahman

Di sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi aroma tinta dan kertas, seorang kiai duduk tenang di balik meja kayu, menuntaskan goresan demi goresan ayat suci. Huruf-huruf Arab itu mengalir pelan, membentuk keindahan yang tak hanya terbaca, tetapi juga terasa.

Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman, dengan seragam dinasnya, tampak menunduk penuh takzim saat menyaksikan seorang kiai menuliskan kaligrafi Surat Al-An’am ayat 75.

Dengan langkah yang tertahan, ia mendekat, memperhatikan setiap gerakan tangan sang kiai. Pena menyentuh kertas dengan presisi, mencipta lengkung yang hidup.

"Saya coba boleh nih, Pak?" ucap Arif, pelan.

"Monggo. Monggo (silakan)," jawab kiai tersebut.

"Coba nama saya aja. Buat nama saya. Saya mau nyoba pakai penanya ini. Kayak gimana. Penanya ini namanya apa?" tanya Arif.

Saat Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman menunjukkan kemampuannya menulis kaligrafi. Foto: Instagram/ @arif_fazlurrahman

Kiai itu lalu membuka laci kecil, mengeluarkan pena tradisional yang tampak sederhana, namun menyimpan teknik tersendiri. Ia menjelaskan dengan telaten, seolah memperkenalkan sebuah warisan lama kepada tangan yang baru belajar.

"Ini namanya Handam. Tintanya ini kan tinta khusus. Ini agak kental enggak bisa dimasukkan ke dalam pen nya. Harus dicelupkan. Dicelupkannya enggak boleh basah. Ini harus kerung," jelas kiai tersebut.

"Oh, saya coba boleh nih, Pak?" tanya Arif.

Kiai tersebut pun mempersilakan.

Saat Kapolres Lamongan AKBP Arif Fazlurrahman menunjukkan kemampuannya menulis kaligrafi. Foto: Instagram/ @arif_fazlurrahman

Namun, di hadapan ayat yang sedang ditulis, Arif memilih mundur setapak. Ada rasa segan yang tak diucapkan, sebuah penghormatan pada tulisan yang belum selesai.

"Enggak. Saya nyoba bukan di sini. Enggak berani saya. Coba nama saya aja. Buat nama saya aja. Yang (kertas) kosong aja, Pak. (Kertas) yang bekas aja enggak apa-apa. Saya mau nyoba pakai penanya ini. Kaya gimana," kata Arif.

Kiai itu lalu menyiapkan lembar kosong. Ia menarik satu garis lurus yang menjadi panduan sederhana untuk tulisan Arif.

"Saya garis dulu biar lurus. Nah di atas ini," kata kiai.

Di titik itu, Arif mulai menulis. Tangan yang terbiasa tegas kini bergerak hati-hati. Setiap huruf ditarik perlahan, seolah sedang merangkai ulang kisah dirinya sendiri.

"Coba ya. Bismillah. Masih bisa enggak ini. Fazlur Rahman. Jadi baru tahu, Pak, saya. Nama, arti nama saya ketika di sekolah. Arif (artinya) bijaksana. Nah kalau di bahasa latin Fazlu pake 'Z'. Pas saya masuk pesantren dulu baru tahu pakai (huruf) Dho ternyata Fadhlu (artinya) fadilah, keutamaan. Afdhal fadilah," jelas Arif.

Adapun Arif adalah seorang lulusan dari Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Surakarta angkatan ke-15.

Ketika tulisannya selesai, Arif tersenyum. Ia mengangkat kertas itu seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang lama hilang.

"Nih, udah ini kenang-kenangan. Ayo fotoin dulu nih sama Beliau nih," pinta Arif kepada pegawainya.

Kiai itu pun meminta waktu Arif untuk menjadi penceramah di tempatnya.

"Nanti insyaallah kapan-kapan tausiah di sini Pak Kapolres, ya," pinta kiai itu.

Arif pun mendoakan kesehatan sang kiai. "Semoga yai diberikan kesehatan," ujar Arif.