News
·
3 September 2020 16:07

Muasal 'Harta Karun' Uang Logam yang Ditemukan Penggali Kubur di Aceh

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Muasal 'Harta Karun' Uang Logam yang Ditemukan Penggali Kubur di Aceh (1922)
Uang logam yang ditemukan para penggali kubur di Pidie Jaya, Aceh. Foto: Dok. Istimewa
Penggali kubur di Desa Deah Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menemukan ratusan keping uang logam kuno saat menggali makam.
ADVERTISEMENT
Uang logam kuno itu diduga bekas peninggalan masa perang Aceh – Belanda. Pemerintah kolonial Belanda menyatakan perang dengan Aceh pada 26 Maret 1873.
Ratusan uang kuno tersebut kini telah disimpan sementara di rumah imam masjid Desa Deah Pangwa, Tgk Munawir. Namun, beberapa di antaranya telah dibawa oleh pihak Dinas Kebudayaan Kabupaten Pidie Jaya untuk dibersihkan.
Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan Pidie Jaya, Marzuwan, mengatakan pihaknya telah mendatangi desa setempat dan mengambil empat keping uang logam kuno itu untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejarahnya.
“Untuk contohnya sudah kami ambil ada empat keping , akan kita bersihkan untuk melihat fisiknya. Karena yang kemarin itu sudah berkarat,” ujarnya saat dikonfirmasi kumparan, Kamis (3/9).
ADVERTISEMENT
Marzuwan menceritakan, Pidie Jaya dulunya pernah menjadi tempat pelatihan pasukan kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Kala itu pasukan kerajaan banyak dari Pidie Jaya. Pelatihan itu dipimpin oleh panglima bernama Tgk Japakeh dan Tgk Malem Dagang.
 Terkait ditemukannya uang tersebut, menurut Marzuwan, ketika terjadinya agresi perang Aceh – Belanda, masyarakat kala itu banyak yang mengamankan seluruh harta bendanya termasuk uang dengan cara ditanam di dalam tanah.
Muasal 'Harta Karun' Uang Logam yang Ditemukan Penggali Kubur di Aceh (1923)
Uang logam yang ditemukan para penggali kubur di Pidie Jaya, Aceh. Foto: Dok. Istimewa
 “Kemungkinan yang punyanya adalah orang-orang kaya pada saat itu, ketika mengamankan harta benda sebagian di antaranya ada yang ditanam,” tuturnya.
Dikatakan Marzuwan, mata uang logam yang ditemukan warga itu berbeda-beda jenis dan jumlahnya sekitar seratusan lebih. Banyaknya jenis mata uang itu bukan tanpa sebab, dulunya Pidie Jaya memiliki pelabuhan yang terletak di wilayah Lueng Putu dan Meureudu.
ADVERTISEMENT
 “Di Lueng Putu itu dulunya ada pelabuhan bernama Njong, di sana pusat perdagangan, cuma sekarang tidak ada bekasnya lagi memang,” sebutnya.
Di sisi lain , kata Marzuwan, di Pidie Jaya sendiri juga banyak peninggalan situs-situs kerajaan Pedir, dan jika melihat sejarah penemuan uang itu bukanlah hal aneh dan asing. Bahkan, saat ini pemerintah setempat sedang menyelesaikan pembangunan museum untuk menyimpan barang-barang peninggalan masa lalu.
“Museumnya baru selesai sekitar bulan 12 nanti, barang-barang temuan ini nantinya akan ditempatkan di sana. Untuk sementara karena kita belum punya regulasi, uang logam ini kita anjurkan pada warga untuk disimpan lebih dulu,” tutur Marzuwan.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
ADVERTISEMENT