MUI, NU, dan Muhammadiyah ke Xinjiang, Kunjungi Muslim Uighur

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
MUI, NU, dan Muhammadiyah bertemu Dubes Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun (kanan), sebelum mengunjungi Xinjiang. Foto: Marcia Audita/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
MUI, NU, dan Muhammadiyah bertemu Dubes Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun (kanan), sebelum mengunjungi Xinjiang. Foto: Marcia Audita/kumparan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) membawa rombongan anggota Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk mengunjungi masyarakat Uighur di Xinjiang, China, Rabu (20/2). Kunjungan ini sekaligus memastikan dugaan kekerasan dan diskriminasi warga Uighur yang gencar diberitakan media arus dunia.

Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri dan Internasional MUI, Muhidin Junaidi, mengaku pihaknya belum memutuskan sikap terkait isu tersebut. Di depan Duta Besar China untuk Indonesia, Djauhari Oratmangun, Muhidin mengatakan pengambilan keputusan akan dilakukan usai mengunjungi Xinjiang dan rapat diplomatik bersama Kedubes dan perwakilan China.

"Jangan terlalu cepat memvonis, gegabah. Kami harus tabayyun, periksa dulu sebelum kita keluarkan sikap final. Maka kami harus meyakinkan itu di Xjnjiang. Memastikan bahwa saudara kami aman, Indonesia harus jadi pelopor bukan kompor," ujar Muhidin di Wisma KBRI China, Beijing.

MUI, NU, dan Muhammadiyah bertemu Dubes Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, sebelum mengunjungi Xinjiang. Foto: Marcia Audita/kumparan

Kendati demikian, Muhidin mengakui ada kelompok ekstremis dan radikal di wilayah otonom tersebut. Namun, bukan berarti kelompok itu digeneralisasi ke semua warga Xinjiang.

"Ada baiknya kita dialog hingga mendapat kesepakatan. Maka kami ingin make sure berita burung yang tersebar di dunia maya bahwa telah terjadi persekusi terhadap ulama, pembunuhan di Xinjiang, penghancuran masjid sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan umat Islam Indonesia. Mudah-mudahan ada semacam kesepahaman," tuturnya.

Beberapa waktu lalu, Muhidin bercerita pernah didatangi organisasi diaspora bernama Uighur Congress dan International Human Right of Uighur. Mereka melaporkan sisi negatif perlakuan pemerintah China ke Uighur. Sebagai negara berpenduduk lebih dari 200 juta dan mayoritas muslim, Muhidin menilai Indonesia secara moral wajib membantu, setidaknya proaktif menghadapi isu ini.

MUI, NU, dan Muhammadiyah bertemu Dubes Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun (kedua dari kanan), sebelum mengunjungi Xinjiang. Foto: Marcia Audita/kumparan

"Kami terima mereka sebagai tamu untuk mengakui permasalahan yang mereka hadapi, mereka banyak menemukan koran, jurnal, semua sisi negatif. Mereka bilang di Turkmenistan timur, bahkan di antara mereka ada yang separatis. Kami terima dan berterima kasih, akan kami pelajari," ungkap Muhidin.

Muhidin juga menawarkan program beasiswa bagi warga Uighur yang ingin menempuh pendidikan agama di Indonesia. "Kewajiban kita adalah menjaga dan merawat hubungan," sebutnya.

Di lokasi yang sama, Dubes Djauhari Oratmangun memastikan hubungan kerja sama Indonesia-China sejauh ini berjalan sangat baik. Djauhari mempersilakan rombongan ormas Islam dan wartawan untuk berkunjung dan melihat sendiri aktivitas warga Uighur di Urumqi, ibu kota Xinjiang.

Warga Uighur di Xinjiang, China Foto: AFP/Johannes Eisele

"Saya sudah ke Xinjiang bulan Desember lalu dan mungkin ibu, bapak akan saksikan sendiri di sana, datang dan melihat, istilah saya believe is seeing, bukan seeing is believing," kata Djauhari.

"Urumqi kota modern, fasilitasnya sangat bagus, luar biasa, bersih dan rapi. Di sana saya berkunjung ke beberapa masjid," tambahnya.

Saat ini, di Xinjiang terdapat ratusan kamp konsentrasi untuk warga Uighur. Kamp ini disebut-sebut menjadi saksi dan lokasi mereka disiksa, dipaksa meninggalkan agama, dicekoki komunisme, diperkosa hingga dipersekusi.

Namun, China berdalih kamp tersebut merupakan pelatihan vokasi untuk warga Uighur di bidang keterampilan dan bahasa mandarin agar tak terpapar paham radikalisme, terorisme dan ekstremisme.

embed from external kumparan

Sementara data dan jurnal yang dikumpulkan media barat seperti BBC, Washington Post, hingga AFP, ramai-ramai melaporkan bahwa China telah mencuci otak orang-Uighur di Kamp yang dijaga ketat oleh ribuan sipir bersenjata, dikelilingi pagar beton kawat berduri dan 24 jam pantauan CCTV. Ditambah pengakuan sejumlah korban yang kini semakin berani bersuara.

China kini kembali fokus menjadikan Xinjiang sebagai jalur sutra dengan nilai investasi triliunan dolar. Konflik antaretnis pun bermunculan saat gelombang Han, etnis terbesar di China, berdatangan ke Xinjiang dan menempati posisi-posisi terbaik di beberapa perusahaan di Xinjiang, dan diduga menggeser eksistensi Uighur.