Muncul Fenomena Waterspout di Perairan Selat Bali

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi laut. Foto: Joel Arbaje via Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi laut. Foto: Joel Arbaje via Unsplash

Fenomena waterspout atau angin puting beliung yang terjadi di laut muncul di perairan Selat Bali, Selasa (11/1/2022). Akibat fenomena tersebut, aktivitas di Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi sempat di tutup sementara.

Hal ini dibenarkan oleh GM Pelabuhan ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang Suharto. "Iya tadi sempat ditutup sementara. Mulai jam 12.30 WIB. Sekarang sudah dibuka lagi," ujar Suharto saat dikonfirmasi kumparan.

Menurut Suharto, penutupan pelabuhan terpaksa dilakukan karena angin kencang dan gelombang yang tinggi. Selain itu jarak pandang menjadi terbatas.

Fenomena Waterspout tersebut sempat diabadikan oleh beberapa awak kapal yang ada di Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi. Dalam video yang beredar, gulungan angin naik ke permukaan laut membubung tinggi.

Selain itu, angin kencang juga melanda Selat Bali dan membuat beberapa kapal terpaksa menghentikan aktivitas penyeberangan.

"Tadi sempat diabadikan teman di kapal. Ini baru saja terjadi. Kapal banyak yang minggir," ujar petugas pelabuhan, Sutomo.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Anjar Triono menjelaskan soal waterspout. Menurutnya, fenomena alam tersebut sama dengan puting beliung yang terjadi di daratan.

Angin berbentuk kolom di lautan disebut dengan waterspout. Sementara di daratan dikenal dengan istilah puting beliung.

"Hampir sama dengan puting beliung. Kalau di lautan itu waterspout," ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.

Fenomena tersebut terbentuk dari sistem awan cumulonimbus (CB). Namun, tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena waterspout.

Terbentuknya waterspout oleh awan CB tergantung pada kondisi labilitas atmosfer. Keberadaan awan CB juga dapat mengindikasi adanya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

"Waterspout terbentuk biasanya karena awan cumulonimbus. Jika muncul maka akan disertai dengan angin kencang, gelombang tinggi dan hujan lebat dengan disertai dengan petir," jelasnya.

Waterspout bisa kapan saja terjadi, sehingga perlu diwaspadai oleh awak kapal yang berada di lautan.

"Tetap waspada di sekitar Selat Bali dan lautan Sub tropis lainnya," tambahnya.

Anjar menambahkan, saat ini Banyuwangi sudah memasuki puncak musim penghujan. Puncak musim hujan terjadi pada bulan Januari dan Februari.

Pihaknya juga meminta masyarakat terutama operator kapal di Selat Bali untuk waspada terkait puncak musim hujan dan cuaca buruk.

"Sering ada gelombang besar, hujan lebat dan petir. Tapi biasanya yang mengganggu di Selat Bali adalah jarak pandang yang terbatas," pungkasnya.