Mu'ti Akan Bentuk Tim, Selidiki Deretan Kasus Bullying Berujung Maut di Sekolah
·waktu baca 3 menit

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, akan membentuk tim khusus di sekolah-sekolah untuk mencegah kasus kekerasan dan bullying yang kian marak.
Tim ini, kata dia, akan bekerja dengan pendekatan yang lebih humanis dan melibatkan seluruh unsur pendidikan.
Hal ini disampaikannya menyusul kasus siswa SMP Negeri 19 Tangerang Selatan, MH (13), yang meninggal dunia karena diduga menjadi korban bullying teman sekelasnya.
“Nanti kita akan membentuk tim yang ada di sekolah-sekolah dengan pendekatan yang lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif,” ujar Mu’ti kepada wartawan di SMPN 4 Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/11).
“Nanti melibatkan orang tua, melibatkan murid, dan juga masyarakat sehingga berbagai kekerasan yang selama ini terjadi, mudah-mudahan tidak terulang lagi di masa-masa yang akan datang,” lanjutnya.
Namun, Mu’ti mengaku hingga saat ini belum menerima laporan lengkap terkait kasus yang terjadi di Tangsel tersebut dari aparat kepolisian.
“Saya belum dapat laporannya, karena sekarang kan sedang ditangani oleh pihak kepolisian. Jadi kami belum dapat laporan secara lengkap kasus yang ada di Kota Tangerang Selatan,” kata Mu’ti.
Mu’ti pun menyebut, pihaknya masih menunggu laporan secara lengkap.
“Tahunya dari wartawan malah. Saya masih menunggu ya laporannya, belum dapat laporan secara lengkap,” tuturnya.
MH meninggal dunia di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Minggu (16/11). Ia sudah seminggu menjalani perawatan intensif akibat luka serius yang dialaminya dari penganiayaan di lingkungan sekolah.
MH diberitakan menjadi korban bullying teman sekelasnya. Aksi bullying itu diduga telah terjadi sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Puncaknya, pada Senin (20/10), kepala korban dipukul menggunakan bangku berbahan besi.
Kakak korban, Rizki, menyebut setelah kejadian itu kondisi fisik adiknya menurun drastis. Tubuh siswa kelas VII itu bahkan tak bisa digerakkan dengan baik, seperti lumpuh.
“Yang paling parah, dipukul kursi di kepalanya. Si korban baru cerita semua pas kejadian sudah parah. Kalau yang lainnya enggak pernah cerita, ini berani cerita karena sudah ngerasa sakit parah,” kata Rizki, Senin (10/11).
Rizki menyebut, adiknya sempat dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Kota Tangsel. Karena kondisinya yang makin parah, adiknya pun dirujuk ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan.
Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang mengatakan, hingga saat ini enam saksi telah dimintai keterangan.
“Enam, enam saksi,” ujar Victor saat ditemui di Polda Metro Jaya, Senin (17/11).
Victor menuturkan polisi kini tengah berkoordinasi dengan dokter yang menangani MH, untuk mencari tahu penyebab kematian remaja tersebut. Apakah karena penyakit, atau hantaman benda tumpul.
“Sementara koordinasi dengan dokter yang menangani,” ucap Victor.
