Mu’ti soal Mahasiswa di Semarang Buat Video Deepfake Porno: Pentingnya Etika AI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti saat Taklimat Media di Kantor Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti saat Taklimat Media di Kantor Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya penanaman etika dalam pembelajaran teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).

Hal itu disampaikannya menanggapi kasus penyalahgunaan teknologi AI oleh mahasiswa Undip, Chiko Radityatama Agung Putra, yang mengubah wajah orang lain menjadi video porno.

“Ya itu yang kita, itu yang kita maksud bahwa AI itu harus disertai dengan penekanan etika. Makanya di dalam materi kita, di capaian pembelajaran coding dan AI itu ada khusus membahas mengenai etika penggunaan AI,” ujar Mu’ti di Kantor Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/10).

Ia menjelaskan, kasus yang terjadi di Semarang menjadi pengingat bagi dunia pendidikan agar tidak hanya fokus pada kemampuan teknis dalam pembelajaran AI, tetapi juga pada tanggung jawab moral penggunaannya.

“Nah kasus Semarang itu menjadi alasan yang memperkuat mengapa AI itu tidak sekadar menekankan kemampuan-kemampuan menggunakan AI,” kata Mu’ti.

“Dan juga kemampuan lain mengenai manfaat AI dalam konteks pengembangan pembelajaran, tetapi juga etika dan tanggung jawab menggunakan AI itu,” tandasnya.

Deepfake Video Porno

Sebelumnya, seorang mahasiswa perguruan tinggi di Kota Semarang, Jawa Tengah, mengedit foto wajah orang lain menjadi video tak senonoh menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), lalu menyebarkannya di media sosial.

Kasus ini terungkap setelah muncul video pelaku Chiko Radityatama Agung Putra yang meminta maaf atas perbuatannya. Permintaan maaf secara terbuka itu disampaikan melalui video yang diunggah di akun Instagram resmi sekolah, @sman11semarang.official.

Dalam video tersebut, alumni SMA tersebut mengaku video berjudul “Skandal Semanse” yang beredar di media sosial bukan video asli, melainkan hasil editannya semata. Semanse adalah nama populer SMAN 11 Semarang.

“Pembuatan video dengan judul Skandal Semanse, baik foto maupun video, itu tidak benar-benar ada. Namun hanya editan belaka dengan aplikasi AI,” ujar Chiko dalam video tersebut.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada kepala sekolah, para guru, serta seluruh siswa-siswi SMAN 11 Semarang karena perbuatannya telah mencoreng nama baik sekolah.