Nadiem Jelaskan Program Sekolah dan Guru Penggerak Senilai Rp 2,68 Triliun

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendikbud Nadiem Makarim saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8). Foto: Puspa Perwitasari/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Mendikbud Nadiem Makarim saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8). Foto: Puspa Perwitasari/ANTARA FOTO

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberikan paparan program dan anggaran di 2021 di depan Komisi X DPR RI, Kamis (3/9). Salah satunya adalah program sekolah penggerak dan guru penggerak yang dianggarkan akan menghabiskan Rp 2,68 triliun.

"Ini bisa dibilang yang paling substantif. Di hati saya dan dirjen di Kemendikbud, ini yang terpenting secara substantif," kata Nadiem di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (3/9).

Anggaran tersebut, jelas Nadiem, dibagi menjadi empat program utama. Yaitu, sertifikasi guru dan tenaga kependidikan Rp 652 miliar, peningkatan kompetensi dan kualifikasi GTK Rp 690,4 miliar, penjamin mutu advokasi daerah dan sekolah Rp 921,55 miliar, dan pembinaan peserta didik Rp 420,18 miliar.

Paparan Mendikbud di Komisi X DPR soal Guru dan Sekolah Penggerak. Foto: dpr

"Guru penggerak ini bukan hanya kompeten tapi juga punya kemampuan menggerakkan guru lain. Mereka ini calon kepala sekolah. Kita akan fokus ini," jelasnya.

Nadiem lalu menjabarkan, hubungan antara guru penggerak dengan sekolah penggerak. Menurutnya, sebuah sekolah bisa masuk kategori sekolah penggerak, jika memiliki kepala sekolah dan beberapa tenaga pengajar dari guru penggerak.

kumparan post embed

"Jadi bedanya bukan fasilitasnya, bukan apakah bagus tempatnya, atau muridnya seperti apa. Sekolah penggerak punya signifikan ratio guru penggerak sebagai kepsek dan guru penggerak. Itu kuncinya," papar Nadiem.

Sekolah penggerak tersebut, nantinya akan jadi percontohan bagi sekolah-sekolah lain yang ada di sekitarnya. Selain itu, sekolah penggerak juga akan menjadi tempat latihan bagi sekolah lain.

"Banyak saran dan kritik, kemerdekaan itu tidak bisa efektif kalau sarana dan SDM-nya tidak memadai. Ini tanggapan kami. Jawaban kami, sekolah harus punya kapabilitas inovasi jika jumlah guru penggeraknya sudah cukup, baru inovasi itu akan lahirkan yang terbaik bagi muridnya," pungkasnya.

***

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona

embed from external kumparan