Nenek Saidah: Saya Hanya Ingin Punya Warung

Saidah (68 tahun) setiap hari berjualan di pinggir jalan di sekitar Kanal Banjir Timur (BKT) dan di depan Rumah Sakit Duren Sawit. Setiap pagi, dia berjalan sekitar 2 kilometer.
Nenek Saidah menjajakan makaroni, rempeyek dan kerupuk. Aneka makanan itu dia bawa menggunakan plastik kresek.
Keinginan terbesarnya, ingin memiliki warung sederhana di rumah kontrakannya yang berada di Kampung Teladan, Swadaya 8, RT 13 RW 1, Kecamatan Duren Sawit.

Saya jualan hari Sabtu dan Minggu jam 07.00 di lampu merah BKT sampai jam 09.00. Jam 09.00 di depan RS Duren Sawit, hari biasa sampai jam 12.00

Duduk di trotoar, nanti orang pada beli, ada yang naik motor dan mobil. Ya ada saja orang yang langsung lewat-lewat saja, nggak papa. Ada yang beli saja syukur

Pulang dari jualan langsung cari makan di warteg, bungkusan, karena enggak pernah masak. Makanya paling sayur Rp 2 ribu, tempe 1 harganya seribu, jadi Rp 3 ribu. Sama sayur Rp 2 ribu. Ya Rp 5 ribu sekali makan

Punya 8 anak, 2 sudah meninggal, tinggal 6. 3 cowok dan 3 cewek. Ada yang di Kalimantan, Purwokerto, Semarang, dan Jakarta. Tapi ya gitu, semua hidup masing-masing, hidup sendiri-sendiri

Keuntungan Rp 30-50 ribu sehari, tapi kadang ada yang ngasih lebih. Rp 400 ribu per bulan untuk bayar kontrakan. Alhamdulillah cukup

Anak saya sudah 4 tahun sakit lambung, mau operasi belum ada biaya
Harapan punya rumah sepetak biar nggak ngontrak, harus ada yang nemenin anak yang sakit di rumah. Paling buka warung. Pingin anak saya sembuh, kalau nunggu warung kan bisa, kalau ngangkat-ngangkat berat kan dia nggak bisa
