Nenek Saidah: Saya Hanya Ingin Punya Warung

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Nenek Saidah tak kenal lelah berdagang emping. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Saidah tak kenal lelah berdagang emping. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Saidah (68 tahun) setiap hari berjualan di pinggir jalan di sekitar Kanal Banjir Timur (BKT) dan di depan Rumah Sakit Duren Sawit. Setiap pagi, dia berjalan sekitar 2 kilometer.

Nenek Saidah menjajakan makaroni, rempeyek dan kerupuk. Aneka makanan itu dia bawa menggunakan plastik kresek.

Keinginan terbesarnya, ingin memiliki warung sederhana di rumah kontrakannya yang berada di Kampung Teladan, Swadaya 8, RT 13 RW 1, Kecamatan Duren Sawit.

Nenek Saidah menjaga dagangan empingnya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Saidah menjaga dagangan empingnya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Saya jualan hari Sabtu dan Minggu jam 07.00 di lampu merah BKT sampai jam 09.00. Jam 09.00 di depan RS Duren Sawit, hari biasa sampai jam 12.00

Nenek Saidah dan dagangan empingnya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Saidah dan dagangan empingnya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Duduk di trotoar, nanti orang pada beli, ada yang naik motor dan mobil. Ya ada saja orang yang langsung lewat-lewat saja, nggak papa. Ada yang beli saja syukur

Senyum Nenek Saidah. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Senyum Nenek Saidah. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Pulang dari jualan langsung cari makan di warteg, bungkusan, karena enggak pernah masak. Makanya paling sayur Rp 2 ribu, tempe 1 harganya seribu, jadi Rp 3 ribu. Sama sayur Rp 2 ribu. Ya Rp 5 ribu sekali makan

Nenek Saidah dan dagangannya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Saidah dan dagangannya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Punya 8 anak, 2 sudah meninggal, tinggal 6. 3 cowok dan 3 cewek. Ada yang di Kalimantan, Purwokerto, Semarang, dan Jakarta. Tapi ya gitu, semua hidup masing-masing, hidup sendiri-sendiri

Sisa dagangan Nenek Saidah yang masih tersisa. (Foto: Nikolaus Harbowo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sisa dagangan Nenek Saidah yang masih tersisa. (Foto: Nikolaus Harbowo/kumparan)

Keuntungan Rp 30-50 ribu sehari, tapi kadang ada yang ngasih lebih. Rp 400 ribu per bulan untuk bayar kontrakan. Alhamdulillah cukup

Nenek Saidah (68) dan sang anak, Riyanto. (Foto: Nikolaus Harbowo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Nenek Saidah (68) dan sang anak, Riyanto. (Foto: Nikolaus Harbowo/kumparan)

Anak saya sudah 4 tahun sakit lambung, mau operasi belum ada biaya

video youtube embed

Harapan punya rumah sepetak biar nggak ngontrak, harus ada yang nemenin anak yang sakit di rumah. Paling buka warung. Pingin anak saya sembuh, kalau nunggu warung kan bisa, kalau ngangkat-ngangkat berat kan dia nggak bisa